Sunday, July 28, 2019

Pengertian Majas Beserta Jenis-Jenisnya

Pengertian Majas Beserta Jenis-Jenisnya. Majas sering dianggap sebagai sinonim dari gaya bahasa, akan tetapi majas termasuk dalam gaya bahasa. Penggunaan gaya bahasa yang sempurna sanggup menarik perhatian penerima. Sebaliknya, apabila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca.

Definisi Majas / Tata Bahasa

Gaya Bahasa sering disebut juga dengan istilah majas, yaitu cara menentukan bahasa yang sesuai dengan cita rasa pengarang. Bahasa yang dipilih yaitu bahasa yang sanggup menjadikan perasaan tertentu dalam hati orang lain

Dikutip dari wikipedia. Majas atau gaya bahasa yaitu pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yang menciptakan sebuah karya sastra semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam memberikan pikiran dan perasaan, baik secara verbal maupun tertulis. Majas digunakan dalam penulisan karya sastra, termasuk di dalamnya puisi dan prosa. Umumnya puisi sanggup mempergunakan lebih banyak majas dibandingkan dengan prosa.

Menurut Tarigan ( 1985: 5) gaya bahasa / majas merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca.

Menurut klarifikasi Harimurti Kridalaksana (Kamus Linguistik, 1982), gaya bahasa (style)/majas mempunyai tiga pengertian, yaitu:
  • Pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis;
  • Pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu;
  • Keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra

Menurut Albertine (2005: 51) gaya bahasa / majas yaitu bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan memakai gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berkesan.

Secara Umum gaya bahasa atau majas yaitu merupakan bahasa yang diberi gaya dengan memakai ragam bahasa yang khas dan sanggup diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang menyimpang dari penggunaan bahasa sehari-hari atau yang lebih dikenal sebagai bahasa khas dalam wacana sastra. Gaya bahasa merupakan bentuk pengekspresian gagasan atau imajinasi yang sesuai dengan tujuan dan imbas yang akan diciptakan.

Jenis-Jenis Majas/Gaya Bahasa

Majas perbandingan
  • Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Contoh: Perjalanan hidup insan mirip sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang kala sulit ditebak kedalamannya, yang rela mendapatkan segala sampah, dan yang pada jadinya berhenti saat bertemu dengan laut.
  • Alusio: Mengungkapkan suatu hal dengan kiasan yang mempunyai kesamaan dengan yang telah terjadi sebelumnya. Contoh: Megawati berhasil menjadi Kartini modern alasannya yaitu menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia.
  • Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, mirip layaknya, bagaikan, umpama, ibarat, dll. Contoh: Kau umpama air saya bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
  • Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain alasannya yaitu mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. Contoh: Cuaca mendung alasannya yaitu sang raja siang enggan menampakkan diri. Totok itu mirip ananta.
  • Antropomorfisme: Metafora yang memakai kata atau bentuk lain yang berafiliasi dengan insan untuk hal yang bukan manusia.
  • Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Contoh: Dengan telaten, Ibu mengendus setiap mangga dalam keranjang dan menentukan yang berbau manis. (Bau: indera penciuman, Manis: indera pengecapan).
  • Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
  • Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
  • Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Contoh: Karena sering menghisap jarum, ia terjangkit penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)
  • Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang digunakan untuk menawarkan relasi karib. Contoh: Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang menciptakan Otok kian terkesima.
  • Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.
  • Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.
  • Personifikasi: Pengungkapan dengan memakai sikap insan yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.
  • Depersonifikasi: Pengungkapan dengan menciptakan insan menjadi mempunyai sifat-sifat sesuatu bukan manusia. Contoh: Hatinya telah membatu, padahal semua orang sudah berusaha menasihatinya.
  • Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menawarkan keseluruhan objek. Contoh: Sejak kemarin ia tidak kelihatan batang hidungnya.
  • Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Contoh: Indonesia bertanding voli melawan Thailand.
  • Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Contoh: Dimana saya sanggup menemukan kamar kecilnya?
  • Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. Contoh: Apa kabar, Roni? (Padahal, ia sedang bicara kepada bapaknya sendiri)
  • Fabel: Menyatakan sikap hewan sebagai insan yang sanggup berpikir dan bertutur kata. Contoh: Kucing itu berpikir keras, bagaimana cara terbaik untuk menyantap tikus di depannya.
  • Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
  • Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
  • Eponim: Menyebutkan nama seseorang yang mempunyai relasi dengan sifat tertentu yang ingin diungkapkan. Contoh: Kami berharap kamu mencar ilmu yang ulet semoga menjadi Einstein.
  • Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan memakai simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
  • Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya mirip benang kusut.

Majas sindiran
  • Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang bergotong-royong dan menyampaikan kebalikan dari fakta tersebut. Contoh: Suaramu merdu mirip kaset kusut.
  • Sarkasme: Sindiran eksklusif dan kasar. Contoh : Kamu tidak sanggup mengerjakan soal yang semudah ini? Dasar otak udang isi kepalamu!
  • Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau wangsit bahwa kebaikan terdapat pada insan (lebih kasar dari ironi). Contoh: Kamu kan sudah cerdik ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
  • Satire: Ungkapan yang memakai sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
  • Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

Majas penegasan
  • Apofasis: Penegasan dengan cara seakan-akan menyangkal yang ditegaskan.
  • Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah terperinci atau menambahkan keterangan yang bergotong-royong tidak diperlukan. Contoh: Saya naik tangga ke atas.
  • Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Contoh : Dia niscaya akan datang, dan saya yakin, ia niscaya akan tiba ke sini.
  • Pararima: Pengulangan konsonan awal dan simpulan dalam kata atau bab kata yang berlainan.
  • Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. Contoh: Dengar daku. Dadaku disapu.
  • Paralelisme: Pengungkapan dengan memakai kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
  • Tautologi: Pengulangan kata dengan memakai sinonimnya.
  • Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk imbas tertentu. Contoh: Kutulis surat ini kala hujan gerimis. (Salah satu kutipan puisi W.S. Rendra)
  • Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
  • Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Contoh: Baik rakyat kecil, kalangan menengah, maupun kalangan atas berbondong-bondong menuju ke TPS untuk memenuhi hak bunyi mereka.
  • Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
  • Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. Contoh: Dikejar oleh Anna kupu-kupu itu dengan begitu gembira.
  • Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  • Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
  • Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
  • Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
  • Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
  • Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan perhiasan di antara unsur-unsur kalimat.
  • Eksklamasio: Ungkapan dengan memakai kata-kata seru.
  • Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bab demi bab suatu keseluruhan.
  • Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  • Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  • Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  • Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
  • Zeugma: Silepsi dengan memakai kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu. Contoh: Perlu saya ingatkan, Kakek saya itu peramah dan juga pemarah.

Majas pertentangan
  • Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seakan-akan bertentangan, namun bergotong-royong keduanya benar.
  • Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
  • Antitesis: Pengungkapan dengan memakai kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
  • Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bab sebelumnya.
  • Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara kejadian dengan waktunya

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Majas

No comments:

Post a Comment