Friday, October 4, 2019

Penjelasan Teori Keagenan: Duduk Perkara Dan Cara Mengatasinya

Teori keagenan atau teori agensi yaitu teori yang menjelaskan perihal kekerabatan kerja antara pemilik perusahaan (pemegang saham) dan manajemen.

Manajemen yaitu AGEN. Ditunjuk oleh pemegang saham (prinsipal). Diberi kiprah dan kewenangan untuk mengelola perusahaan. Atas nama pemegang saham.

Teori keagenan atau teori agensi muncul dikala pemegang saham mempekerjakan pihak lain. Untuk mengelola perusahaannya. Teori agensi melaksanakan pemisahan terhadap pemegang saham (prinsipal) dengan manajemen (agen).

Meskipun prinsipal yaitu pihak yang memperlihatkan wewenang kepada agen, namun prinsipal dilarang mencampuri urusan teknis dalam operasi perusahaan. Urusan keduanya: terpisah. Tidak tercampur.

Contoh teori agensi dalam kehidupan sehari hari: seorang pengusaha warnet yang tidak bisa mengelola dan menjaga warnet yang dimiliki sebab kesibukannya.

Pemilik warnet (disebut prinsipal) kemudian menyuruh orang lain untuk mengelola warnetnya. Menjaganya siang malam. Orang yang ditunjuk yaitu bertindak sebagai AGEN dari pemiilik warnet.

Sebagai orang yang disuruh. Agen punya kewenangan mengelola warnet. Agen akan mendapat imbalan (gaji). Dan ia harus bertanggung jawab kepada pemilik warnetnya. Atau bosnya.

Lalu apa menariknya kekerabatan distributor dan prinsipal hingga harus ada teori agensi ?

Itukan hanya kekerabatan kerja semata?

Atasan dan bawahan.

Masalahnya ini: setiap hubungan, potensi problem akan selalu ada. Hubungan apapun itu.

Termasuk kekerabatan distributor dan prinsipal itu. Terlebih diperusahaan skala besar. Bahkan ini: muncul biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk mengawasinya.

Teori agensi berfungsi untuk menganalisa dan menemukan solusi terhadap problem perkara yang ada dalam kekerabatan keagenan antara administrasi dan pemegang saham.

Pada tingkat perjuangan yang masih kecil, menyerupai perjuangan warnet tadi, pemilik masih bisa mengelola sendiri warnet yang ia miliki, kalaupun harus menyusurun "agen" untuk menjaganya, pengawasannya masih mudah. Yang mengelola warnet mungkin maksimal hanya 2 orang. Mengawasi 2 orang tersebut masih praktis walaupun ada potensi konflik, kecurangan dan yang lainnya yang bisa merugikan.

Bagaimana jikalau skala perjuangan yang lebih besar, masif, ada jutaan kegiatan yang dilakukan dan terdiri dari banyak komponen dan sistem yang rumit menyerupai perusahaan besar ?

Cara mengawasinya lebih susah. Potensi adanya problem kian besar. Bahkan perlu biaya hanya untuk mengawasi distributor tersebut.

Baja juga : 8 Teori Manajemen Keuangan [Lengkap]

Masalah Teori Keagenan | Agency Problem

Btw, mengapa distributor harus diawasi?

Untuk jaga jaga.

Prinsipal harus berhati hati semoga tidak dirugikan. Oleh distributor yang ditunjuknya.

Dirugikan bagaimana ?

# Agen bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri

 atau teori agensi yaitu teori yang menjelaskan perihal kekerabatan kerja antara pemilik per Penjelasan Teori Keagenan: Masalah dan Cara Mengatasinya

Pada teori keagenan, setiap pihak diasumsikan selalu bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri. Terutama: manajemen.

Mereka punya kewenangan. Mereka yang mengatur jalannya perusahaan. Agen yang pegang transaksinya. Pegang uangnya. Pegang hampir semuanya. Jika mereka berbuat curang: prinsipal akan rugi.

Posisi, fungsi, kondisi dan situasi, tujuan, latar belakang dan cita-cita administrasi bis berbeda dengan cita-cita pemilik. Kondisi ini akan memunculkan konflik kepentingan (conflict of interest). Akhirnya: muncul problem keagenan (agency problem)

Prinsipal bisa dirugikan oleh kegiatan manajemen.

Alih alih bisa menghasilkan keuntungan yang tinggi, administrasi bisa melaksanakan hal hal yang merugikan seperti:
  1. Mengangkat bawahan dengan nepotisme
  2. Tidak memecat bawahan yang tidak mempunyai kemampuan yang memadai
  3. Memalsukan laporan.
  4. Boros dalam pengeluaran yang tidak berdampak banyak terhadap kemajuan perusahaan. Bahkan distributor bisa menambah akomodasi dan honor mereka sendiri.
Makanya: kebijakan dan kegiatan administrasi perusahaan harus diawasi.

Perbedaan tujuan dan kepentingan bahkan bukan hanya melibatkan antara administrasi dengan pemegang saham saja, namun juga merambat kepihak-pihak lain.

Pihak lain? lho ada lagi? siapa saja?

 Pada teori agensi setidaknya ada 3 macam konflik kepentingan yang bisa terjadi pada perusahaan:
  1. Pemegang saham vs manajemen
  2. Pemegang saham vs kreditur
  3. Manajemen vs bawahan

# Asimeteri Informasi

Seandainya saja pemegang saham dan administrasi mempunyai inforimasi yang sama mengenai perusahaan, mungkin saja problem agensi tidak akan rumit walaupun administrasi mempunyai kepentingan yang berbeda. Prinsipal bisa lebih praktis mengontrolnya sebab sudah mempunyai informasi yang lengkap. Terutama perihal apa saja yang dilakukan oleh agen.
Nyatanya, informasi yang seimbang antara yang diterima administrasi dan pemegang saham tidak seimbang.

Manajemen mempunyai informasi yang lebih lengkap dan rinci perihal perusahaan dibandingkan pemegang saham.

Terjadi asimetri informasi. 

Asimetri informasi bisa memicu problem keagenan. Kondisi pemegang saham yang tidak mengetahui informasi sedatail administrasi bisa dimanfaatkan oleh administrasi yang lebih mengetahui informasi apa saja mengenai perusahaan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Ada potensi distributor menyembunyikan informasi. Bahkan distributor bisa saja menghipnotis angka angka laporan yang disajikan yang bisa menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan pemegang saham.

Agen bisa saja memperlihatkan informasi yang tidak benar kepada prinsipal. Seolah olah perusahaan sedang berkinerja baik walaupun kenyataannya tidak demikian. Ketidaktahuan prinsipal memperlihatkan celah bagi administrasi untuk melaksanakan administrasi keuntungan (memanipulasi laporan keuangan) untuk kepentingan dirinya sendiri.

Baca perihal asimetri informasi lebih terperinci dipostingan saya disini:

Apa Itu Asimetri Informasi ? Berikut Dampak dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Mengatasi Masalah Keagenan?

Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk mengatasi atau lebih tepatnya meminimalkan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal dan agen, menyerupai yang diutarakan oleh Bathala(1994):
  1. Menyamakan kepentingan manajemen
  2. Pengawasan Good corporate governance (GCG)
  3. Pemberian reward dan punishment (penghargaan dan hukuman)
  4. Utang sebagai sumber pendanaan perusahaan
  5. Intervensi pribadi oleh pemegang saham
  6. Meningkatkan kepemilikan saham oleh institusi

1. Good Corporate Governance (GCG)

Secara umum, Good corporate governance (GCG) yaitu sebuah peraturan yang berafiliasi dengan kekerabatan antara manajemen, pemegang saham, kreditur, karyawan, pemerintah dan pihak pihak yang berkepentingan (stakeholder) yang lain yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya masing masing.

Prinsip dari GCG yaitu akuntabilitas, transparan, responsibilitas dan keadilan.

Masalah utama dalam teori agensi yaitu adanya asimetri informasi. GCG paling tidak bisa mengurangi asimetri informasi, dan membatasi tindakan manipulasi laporan keuangan oleh manajemen.

Dalam menilai kinerja manajemen, pemegang saham selalu mengandalkan informasi dari laporan keuangan yang disajikan manajemen.

Namun, laporan keuangan yang disusun oleh administrasi apakah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannnya ?

Apakah pemegang saham akan pribadi percaya ?

Tentu saja tidak. Pemegang saham tidak pribadi percaya terhadap laporan keuangan yang disusun oleh agen. Karena potensi penyimpangan dan manipulasi laporan keuangan selalu ada.

Untuk itu, administrasi keuangan mewajibkan laporan keuangan tersebut untuk diperiksa dengan cara AUDIT.

Baca juga : Pengertian Audit

Pemegang saham akan mengeluarkan dana (agency cost) menyuruh pihak yang independen (auditor) untuk menilik laporan keuangan yang diterbitkan agen. Pemeriksaaan audit ini bertujuan semoga laporan keuangan yang dihasilkan memang benar benar berkualitas tanpa ada penyimpangan-penyimpangan didalamnya.

Audit bukan hanya diperlukan oleh pemegang saham, kreditor bahkan administrasi sendiripun memerlukan audit. Dengan audit, administrasi bisa memperlihatkan legitimasi bahwa mereka telah bekerja dengan baik dan jujur.

Kreditor juga membutuhkan laporan hasil audit untuk memastikan kemampuan perusahaan dalam melunasi piutang dan bunganya.

Bisa dikatakan bahwa auditor menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan pihak yang terlibat dalam problem keagenan.

Akuntanbilitas dan transparansi pada proses kinerja perusahaan akan meminimalkan adanya penyimpangan oleh agen.

Sebagai tambahan, laporan keuangan administrasi yang sempurna waktu akan mengurangi terjadinya asimetri informasi. Semakin tidak sempurna waktu, maka laporan keuangan bisa tidak relevan dengan kondisi terkini.

2. Menyamakan Kepentingan Manajemen

Salah satu cara mengatasi atau paling tidak meminimalkan problem keagenan yaitu dengan mensejajarkan atua menyamakan kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen.

Untuk mensejajarkan kepentingan agen, prinsipal bisa memperlihatkan potongan saham yang dimiliki kepada manajemen.

Pemberian potongan saham ini bisa menciptakan administrasi akan memperlihatkan kinerja terbaiknya tanpa harus melaksanakan hal hal yang bisa merugikan pemegang saham sebab administrasi sendiri yaitu pemegang saham juga.

Kecil kemungkinan administrasi merugikan dirinya sendiri. Maka kontribusi potongan saham ini bisa mengurangi biaya agensi. Strategi ini dikenal dengan istilah bonding mechanism atau mengikat administrasi dengan kontribusi modal.

Namun, apabila administrasi menjual lagi saham yang telah dimiliki. Maka akan timbul problem lagi tentunya.

3. Utang sebagai Sumber Pendanaan Perusahaan

Utang bisa menjadi salah satu cara meminimalkan problem keagenan pada manajemen. Dengan utang, maka ada pihak lain yang ikut mengawasi kinerja dari administrasi perusahaan, yaitu KREDITUR.

Makara bukan hanya pemegang saham selaku prinsipal saja yang akan mengawasi administrasi perusahaan, namun juga pihak eksternal yaitu kreditur juga mengawasi kinerjanya. Semakin banyak yang mengawasi maka peluang administrasi melaksanakan tindakan yang bisa merugikan akan semakin kecil.

Kreditur tentu berkepentingan untuk mengawasi administrasi semoga administrasi tetap menghasilkan keuntungan untuk perusahaan semoga piutangnya bisa dilunasi beserta bunganya.

Pengawasan oleh kreditur ini akan meminimalkan biaya pengawasan yang harus dikeluarkan oleh prinsipal. 

Namun, penggunaan utang yang berlebihan juga memunculkan problem lain dalan teori agensi. Utang bisa memicu munculkna konflik antara pemegang saham dan kreditur. Terlebih jikalau ada syarat-syarat tertentu dalam perjanjian utang yang bisa bertolak belakang dengan cita-cita dari pemegang saham.

Kreditur bisa membatasi penggunaan utang tersebut kepada agen. Rasio utang terhadap ekuitas harus diperhatikan semoga tidak terjadi problem keagenan.

Baja juga : Sumber Sumber Pendanaan Keuangan Perusahaan

4. Reward and Punishment (Penghargaan dan Hukuman)

Pemberian reward dan punishmed (penghargaan dan hukuman) kepada administrasi bisa menurunkan problem agensi. Pemberian reward dan punishment ditentukan menurut kinerja dari manajemen.

Manajemen berkinerja baik tentu akan mendapat reward dan begitu juga sebaliknya apabila kinerja administrasi tidak memuaskan bisa mendapat bahaya atau eksekusi dari pemegang saham.

# Reward | Penghargaan

Pemberian reward bisa berupa kontribusi insentif, bonus atau remunerasi yang memadai bahkan kontribusi potongan saham yang diberikan sebagai apresiasi kinerja manajemen.

Prinsipal menilai administrasi menurut kemampuan administrasi dalam menghasilkan laba.

Semakin tinggi keuntungan maka semakin tinggi dividen yang akan dibagikan, semakin tinggi pula insentif yang akan diterim aleh manajemen. Pemberian insentif ini bisa mendorong administrasi untuk memperlihatkan kinerja terbaiknya kepada pemegang saham.

# Punishment | Pemberian (ancaman) Hukuman 

Pemberian bahaya bahkan eksekusi terhadap administrasi yang berperilaku menyimpang dan merugikan pemegang saham bisa dilakukan untuk mengatasi problem keagenan.

Hukuman yang diberikan oleh pemegang saham bisa berupa pemecatan, merotasi atua memindahkan daerah kerja dan posisi seseorang ketempat dan posisi yang jauh lebih jelek dibanding sebelumnya. Bahkan jikalau terbukti melaksanakan manipulasi yang melanggar hukum, pemegang saham bisa menjeratnya dengan aturan pidana.

Pemberian eksekusi tentu sangat ditakuti oleh manajemen. Ancaman eksekusi menciptakan administrasi bekerja sebaik mungkin semoga mendapat hasil yang maksimal dan terhindar dari hukuman.

Manajemen akan berpikir berkali kali jikalau tidak ingin tertangkap tangan melaksanakan kecurangan.

5. Intervensi Langsung oleh Pemegang Saham

Internvensi pribadi oleh pemegang saham sanggup menciptakan distributor mengalami tekanan dan cenderung untuk main aman, tidak mau mengambil risiko dengan tidak mementingkan keuntungan pribadinya.

6. Meningkatkan Kepemilikan Saham oleh Institusi Lain

Peningkatan kepemilikan saham oleh pihak lain akan menciptakan biaya agensi menjadi lebih ringan dan administrasi akan semakin banyak yang mengawasi.

Ketika ada pemanis pemegang saham dari pihak lain, otomatis pihak lain juga akan mengawasi kegiatan manajemen. Semakin banyak pihak yang mengawasi, maka semakin kecil peluang administrasi untuk melaksanakan penyimpangan.

Biaya Agensi (Cost Agency)

Biaya keagenan atau cost agency yaitu biaya yang dikeluarkan oleh pemegang saham untuk memastikan administrasi berperilaku tidak merugikan pemegang saham dan bertindak untuk memaksimalkan kesejahteraan prinsipal.

Jurnal pada makalah teori agensi yang berjudul Journal of Finance oleh Michael J dan William M (1976) menyampaikan setidaknya ada 3 jenis biaya agen:
  1. Biaya yang dikeluarkan untuk mengawasi kegiatan manajerial, misalnya biaya audit
  2. Biaya yang dikeluarkan untuk membatasi  tindakan administrasi yang tidak diinginkan. Contohnya menunjuk anggota dari luar untuk dewan direksi atau hierarki manajemen.
  3. Biaya peluang (opportunity cost) dikala bunyi pemegang saham dibatasi. 
Pengaturan pengeluaran biaya distributor harus diatur semoga tidak berlebihan. Biaya keagenan dilarang "besar pasak daripada tiang".  mengeluarkan banyak biaya hanya untuk pengawasan namun dengan output yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Sedangkan Jensen and Meckling [1976] membagi jenis biaya agensi ini menjadi 3 jenis:
  1. Monitoring cost. Biaya yang muncul untuk mengawasi, mengukur, mengamati dan mengontrol sikap agen.
  2. Bonding Cost. Biaya yang justru ditanggung oleh administrasi (agen) untuk bisa mematuhi dan menetapkan prosedur yang ingin memperlihatkan bahwa distributor telah berperilaku sesuai dengan kepentingan prinsipal.
  3. Residual Loss. Biaya yang berupa menurunnya kesejahteraan prinsipal sebagai akhir dari adanya perbedaan keputusan distributor dan keputusan prinsipal.

Tujuan dan Manfaat Teori Agensi

Setidaknya terdapat 2 tujuan dan manfaat dari prosedur teori agensi, antara lain:
  1. Mengevaluasi hasil dari kontrak kerja antara prinsipal dan agen. Apakah kontrak kolaborasi telah berjalan dengan apa yang telah disepakati atau tidak.
  2. Meningkatkan kemampuan baik prinsipal ataupun distributor dalam mengevaluasi kondisi dimana sebuah keputusan harus diambil
Prinsipal dan distributor yaitu pelaku utama dalam teori agensi, mereka mempunyai nilai tawar yang sama tinggi dalam kiprah dan kedudukan.

Teori agensi fokus pada kontrak yang akan dijalani harus kontrak kerjasama yang paling efisien.

Sebenarnya, problem keagenan dan biaya biaya yang muncul pada teori keagenan bisa ditekan sedemikian rupa mulai dari pertama kali hendak melaksanakan kontrak antara pemegang saham dan manajemen.

Kontrak kerjasama harus disusun dengan jelas. Siapa yang pantas menjadi apa, siap yang pantas menduduki jabatan fungsional apa dalam perusahaan nantinya. Berapa selayaknya imbal jasa yang diberikan beserta insentif dan punishmentnya.

Fit and proper test mungkin perlu dilakukan dalam menyeleksi calon distributor semoga terpilih calon yang memang yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada.

Kontrak kekerabatan kerja yang optimal yaitu kontrak kerja yang fairnes. Seimbang diantara keduanya. Semakin besar kiprah yang diberikan, semakin sulit problem yang akan dihadapi, maka semakin besar pula imbalan jasanya.

Teori agensi atau teori keagenan intinya hanya menyangkut hal hal menyerupai dibawah ini:
  1. Kontrol pemegang saham terhadap manajemen
  2. Biaya yang menyertai kekerabatan keagenan
  3. Meminimalkan dan menghindari biaya agensi
Daftar pustaka teori keagenan / teori agensi

Irfan A [2002] Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi pada Hubungan Agensi, Lintasan Ekonomi Vol XIX. No 02 PP 83 - 93

Ismiyanti F dan Hanafi M [2004]. Struktur Kepemilikan Resiko dan Kebijakan Keuangan ; Analisis Persamaan Simultan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol 19 No 02 PP 176 - 196

No comments:

Post a Comment