Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, June 3, 2020

Sejarah Kedatangan Belanda Di Indonesia Dan Pembentukan Voc

Indonesia yakni negara yang kaya akan sumber daya alam. Potensi kekayaan alamnya sangat luar biasa. Hal inilah yang menciptakan banyak bangsa dari penjuru dunia tiba ke Indonesia untuk mencari materi rempah-rempah. Mereka yang tiba ke Indonesia sebagian besar para pelaut dan pedagang dari negara-negara Eropa. Para pedagang tersebut awalnya hanya berniat berdagang saja dengan penduduk Indonesia, begitu mengetahui kekayaan alam Indonesia, mereka berubah niat ingin menguasai Indonesia.

Penjajahan Belanda di Indonesia

Indonesia pernah mengalami masa penjajahan yang dilakukan oleh beberapa negara absurd menyerupai Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang. Namun, Belanda yakni penjajah yang paling usang berkuasa di Indonesia. Mereka menjajah Indonesia selama sekitar 350 tahun.

Awal Kedatangan Bangsa Belanda


 

Bangsa Belanda tiba pertama kali ke Indonesia pada tanggal 22 Juni 1596. Mereka mendarat di pelabuhan Banten sehabis berlayar di lautan selama 14 bulan. Armada Belanda ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman. 

Semula kedatangan mereka ini disambut baik oleh penduduk Banten. Tetapi, lama-lama Belanda memperlihatkan perilaku yang serakah, kasar, dan sombong. Mereka memaksa rakyat Banten untuk menyediakan lada dan tidak mau membayarnya. Hal inilah yang mengakibatkan rakyat Banten mengusirnya. 

Akhirnya dengan terpaksa Belanda harus menyingkir dari Banten. Orang-orang Belanda lalu berlayar ke Bali. Namun armada Belanda di Bali tidak mendapat sambutan dengan baik. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke Eropa dengan tangan hampa serta menanggung kerugian yang sangat besar.
Indonesia yakni negara yang kaya akan sumber daya alam Sejarah Kedatangan Belanda di Indonesia dan Pembentukan VOC
Cornelis de Houtman
Tahun 1598 untuk kedua kalinya Belanda tiba di Banten. Armada ini dipimpin oleh Jacob Van Neck dan Van Warwijck. Sikap mereka lebih ramah daripada sebelumnya sehingga kedatangan mereka ini disambut dengan baik. Dan sebab sudah bersikap ramah, orang Indonesia mengizinkan mereka berdagang. Orang Belanda semakin banyak yang tiba ke Indonesia. Pelayaran bangsa Belanda yang kedua ini berhasil mendapat hasil yang sangat memuaskan. Mereka pulang ke negeri Belanda dengan kapal-kapal yang dipenuhi rempah-rempah.

Pembentukan  VOC

Terbukanya jalur perdagangan di Indonesia mengakibatkan munculnya persaingan diantara para pedagang, baik dengan Belanda sendiri maupun dengan pedagang Eropa lainnya. Mereka bersaing untuk membeli rempah-rempah sebanyak-banyaknya dari indonesia.

Pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda mendirikan persatuan dagang atau kongsi dagang yaitu Perkumpulan Dagang Hindia Timur (Verenigde Oost Indische Compagnie) yang disingkat VOC. Tujuan utama didirikannya VOC yakni untuk memenangkan persaingan dagang dan mendapat laba yang sebesar-besarnya. Pimpinan VOC disebut gubernur jenderal. Gubernur jenderal VOC yang pertama yakni Pieter Both.

Indonesia yakni negara yang kaya akan sumber daya alam Sejarah Kedatangan Belanda di Indonesia dan Pembentukan VOC
 Pieter Both
Untuk memperkuat kedudukan VOC di Indonesia, pemerintah Belanda memperlihatkan hak istimewa (hak Octrooi) kepada VOC.
Berikut ini yang menjadi hak-hak istimewa VOC:
- hak untuk memonopoli perdagangan
- hak untuk memungut pajak
- hak untuk mempunyai tentara sendiri
- hak untuk menguasai dan mengikat perjanjian dengan kerajaan kerajaan di tempat yang dikuasainya
- hak untuk mencetak dan mengeluarkan uang sendiri
- hak untuk mengumumkan perang dengan negara lain
- hak untuk mengadakan pemerintahan sendiri

Setelah berhasil mendirikan organisasi VOC, kelompok pedagang Belanda menjadi semakin tertarik untuk menguasai daerah-daerah nusantara. Awalnya, kegiatan VOC hanya berdagang saja. Akan tetapi, lama-lama VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli). Untuk mewujudkan maksud tersebut, VOC membentuk tentara pasukan, mencetak uang sendiri, dan mengadakan perjanjian dengan raja setempat.

Di Maluku VOC melaksanakan acara Pelayaran Hongi (patroli laut) untuk mengawasi rakyat Maluku semoga tidak menjual rempah-rempah kepada pedagang lain. Untuk mempertahankan harga, VOC juga memerintahkan penebangan pohon rempah-rempah milik rakyat. VOC memperlihatkan eksekusi berat kepada rakyat yang melanggar hukum monopoli.

Pusat-pusat perdagangan yang berhasil dikuasai VOC yakni Ambon, Jayakarta, dan Banda. Pusat perdagangan Jayakarta direbut Belanda pada masa Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Ia pun mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Coen lalu membangun kota Batavia dengan gaya Belanda. Kantor VOC yang awalnya ada di Ambon dipindahkan ke Batavia.
Indonesia yakni negara yang kaya akan sumber daya alam Sejarah Kedatangan Belanda di Indonesia dan Pembentukan VOC
Jan Pieterszoon Coen
VOC yang melaksanakan monopoli perdagangan rempah-rempah. Artinya rempah-rempah dari rakyat Indonesia hanya boleh dijual kepada VOC dengan harga yang sangat murah. Tindakan ini sangat merugikan rakyat Indonesia. Monopoli perdagangan VOC dilakukan dengan cara kekerasan terhadap penduduk yang berasal dari tempat penghasil rempah-rempah di Indonesia.

Selain itu, mereka juga melarang dan mengancam orang-orang bukan Belanda apabila ingin berdagang dengan para penduduk lokal dari tempat penghasil rempah-rempah. Misalnya saja ketika para penduduk Banda mencoba menjual biji pala kepada orang Inggris, Belanda menyerang dan membunuh semua penduduk Banda tersebut.

Akhirnya, Belanda memutuskan untuk mengisi tempat Banda dengan budak-budak dan pekerja-pekerja lain untuk menghasilkan biji pala. Karena ulah VOC tersebut, mereka harus menghadapi persoalan politik dan berperang dengan para pemimpin di tempat Banten dan Mataram.

Pembubaran VOC

Pada awal masa ke-18, keadaan mulai berubah. Perdagangan rempah-rempah tidak lagi banyak menguntungkan. Indonesia tidak lagi menjadi satu-satunya penghasil cengkih, lada, dan pala sebab negara-negara pedagang rempah-rempah menjadi berkurang. Setelah hampir 200 tahuh berkuasa di Indonesia, VOC mengalami kebangkrutan.

Penyebab kebangkrutan VOC
1. Banyak pejabat VOC melaksanakan korupsi dan hidup mewah.
2. VOC harus menanggung biaya perang yang sangat besar.
3. Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
4. Para pegawai VOC melaksanakan perdagangan gelap.
5. Hutang VOC yang semakin menumpuk.

Pada Tanggal 31 Desember 1799, alhasil VOC resmi dibubarkan oleh pemerintah Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan pribadi oleh pihak pemerintah Kerajaan Belanda. Semua hutang VOC ditanggung oleh Kerajaan Belanda. Sejak ketika itulah, Indonesia diperintah langsung  oleh pemerintah Belanda. Pemerintahan Kerajaan Belanda atas wilayah Indonesia ini berlangsung hingga tahun 1942. Pemerintah Belanda di Indonesia dinamakan Pemerintahan Hindia Belanda.

Demikianlah uraian singkat wacana Sejarah Kedatangan Belanda di Indonesia dan Pembentukan VOC. Semoga bermanfaat.

Monday, April 20, 2020

Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Ideologi Bangsa

Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 1 Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 jo Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 jo Pasal I Aturan Tambahan Undang-Undang Dasar 1945, harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.

Proses Perumusan Pancasila

Sebagai dasar negara serta ideologi bangsa, Pancasila tidak serta merta ada begitu saja. Pancasila yang telah diterima secara luas harus melalui proses yang panjang dan pelik. Proses ini begitu sensitif dan sanggup mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama hingga dengan pelopor istilah Pancasila.

Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa

Proses perumusan Pancasila berawal pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam Bahasa Jepang nya dikenal dengan nama Dokuritsu Junbi Coosakai. BPUPKI ialah tubuh bentukan Jepang yang didirikan tanggal 1 Maret 1945 diketuai oleh Radjiman Widyodiningrat, wakil ketua Ichibangase Yosio dan RP. Suroso serta anggota yang berjumlah 60 orang.

Selama dibentuk, BPUPKI hanya bersidang sebanyak dua kali, yaitu:
a. Masa Sidang I tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945
b. Masa Sidang II tanggal 10 Juli - 16 Juli 1945

a. Masa Sidang I tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945
Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945 membahas perumusan dasar negara. Beberapa anggota BPUPKI diminta untuk memberikan proposal mengenai bahan-bahan konstitusi dan calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Pada sidang tersebut, tampil tiga tokoh pembicara untuk memaparkan gagasannya mengenai rumusan dasar negara Indonesia merdeka. Ketiga tokoh tersebut ialah Mr. Mohammad Yamin, Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno

Tokoh-tokoh Perumus Pancasila

Berikut ini ialah para tokoh perumus Pancasila sebagai dasar negara beserta gagasannya.

1. Mr. Mohammad Yamin


Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa

Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Mohammad Yamin memberikan seruan dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.

Rumusan Pidato
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri ke-Tuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Rumusan Tertulis
Selain berpidato, Muh. Yamin juga memberikan proposal secara tertulis mengenai rancangan dasar negara. Usulan tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI oleh Muh. Yamin berbeda dengan rumusan dalam pidato, rumusan tertulis yaitu :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat budi dalam permusyawaratan/ perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

2. Dr. Soepomo


Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa

Pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo juga memberikan rumusan dasar negara, yaitu:
1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan batin
4. Musyawarah
5. Keadilan rakyat

3. Ir.Soekarno


Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa

Pada tanggal 1 Juni 1945 , Ir.Soekarno memberikan pidatonya di hadapan sidang BPUPKI. Dalam pidato tersebut diajukan oleh Ir.Soekarno secara ekspresi proposal lima asas sebagai dasar Negara Indonesia yang akan dibuat yaitu:
1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia;
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan;
3. Mufakat atau Demokrasi;
4. Kesejahteraan sosial; dan
5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Usul Sukarno bahu-membahu tidak hanya satu melainkan tiga buah proposal calon dasar negara yaitu lima prinsip, tiga prinsip, dan satu prinsip. Gagasan mengenai rumusan lima sila dasar negara republik Indonesia yang dikemukakan Ir. Soekarno yaitu :
1. Kebangsaan Indonesia - atau nasionalisme -
2. Internasionalisme - atau peri-kemanusiaan -
3. Mufakat - atau demokrasi -
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Gagasan mengenai rumusan lima sila dasar negara republik Indonesia yang dikemukakan Ir. Soekarno tersebut kemudian dikenal dengan istilah “Pancasila” (secara harfiah berarti lima dasar). Pidato Soekarno ini sekaligus mengakhiri masa persidangan BPUPKI yang pertama dan tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahirnya Pancasila.

Pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI juga membentuk sebuah panitia kecil dan Panitia Sembilan yang tugasnya ialah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan seruan secara tertulis paling lambat hingga dengan tanggal 20 Juni 1945.

Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta

Adapun anggota Panitia Sembilan ini terdiri atas sembilan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin

b. Masa Sidang II tanggal 10 Juli - 16 Juli 1945
Sidang pertama BPUPKI telah selesai, namun rumusan dasar negara Indonesia belum terbentuk. Oleh alasannya ialah itu pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat adonan antara Panitia Kecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Dasar Negara yang dikenal dengan nama Panitia Sembilan.

Pada alhasil Panitia Sembilan melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “ Piagam Jakarta atau Jakarta Charter”.

Piagam Jakarta

Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi bangsa sebagaimana Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa

Ir. soekarno melaporkan hasil kerja Panitia Sembilan kepada anggota BPUPKI berupa dokumen rancangan asas dan tujuan Indonesia Merdeka yang disebut dengan Piagam Jakarta. Menurut Piagam Jakarta, dasar negara Republik Indonesia ialah :
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab ,
3. Persatuan Indonesia ,
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat budi dalam permusyawaratan perwakilan ,
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perubahan Piagam Jakarta

Undang-undang Dasar dirumuskan dengan memakai Piagam Jakarta sebagai konsep perumusannya termasuk perumusan dasar negara yang dikenal dengan nama Pancasila. Selanjutnya pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan di Jepang. Untuk menindaklanjuti hasil kerja dari BPUPKI, maka jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai. Anggota PPKI terdiri dari 21 orang untuk seluruh masyarakat Indonesia, 12 orang wakil dari jawa, 3 wakil dari sumatera, 2 orang wakil sulawesi, dan seorang wakil Sunda Kecil, Maluku serta penduduk cina. Tanggal 18 Agustus 1945, ketua PPKI menambah 6 anggota lagi sehingga anggota PPKI berjumlah 27 orang.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, sehabis upacara proklamasi kemerdekaan, tiba berberapa utusan dari wilayah Indonesia Bagian Timur. Berberapa utusan tersebut ialah sebagai berikut:
Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi
Tadjoedin Noor dan Ir. Pangeran Noor, wakil dari Kalimantan
I Ketut Pudja, wakil dari Nusa Tenggara
Latu Harhary, wakil dari Maluku

Para utusan tersebut berkeberatan dan mengemukakan pendapat perihal bab kalimat dalam rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar yang juga merupakan sila pertama Pancasila yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menyerupai yang terdapat dalam Piagam Jakarta. Hal ini mengingat agama yang ada di Indonesia tidak hanya agama Islam saja.

Setelah itu, Drs. Mohammad Hatta kemudian mengusulkan mengubah tujuh kata tersebut menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan kalimat ini telah dikonsultasikan sebelumnya oleh Mohammad Hatta dengan 4 orang tokoh Islam, yaitu Kasman Singodimejo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M. Hasan. Mereka menyetujui perubahan kalimat tersebut demi persatuan dan kesatuan bangsa. Dan alhasil bersamaan dengan penetapan rancangan pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 pada Sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.

Rumusan final ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang PPKI ialah yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh nasihat budi dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Perubahan Piagam Jakarta merupakan bentuk kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila. Sikap yang ditampilkan oleh para tokoh pendiri negara pada ketika merumuskan Pancasila diantaranya: menghargai perbedaan pendapat; mengutamakan kepentingan bangsa dan negara; mendapatkan hasil keputusan bersama; dan mengutamakan persatuan dan kesatuan.

Dari uraian di atas, terlihat begitu besar usaha para tokoh bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Mereka sangat memikirkan masa depan bangsa dengan merumuskan Undang-Undang Dasar 1945 dan dasar negara Pancasila. Dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara terdapat nilai-nilai juang dan sebagai warga negara yang baik kita harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai juang para tokoh yang patut diteladani antara lain:
a. Mementingkan kepentingan umum (bangsa) daripada kepentingan pribadi.
b. Memperjuangkan dan menegakkan hak asasi manusia.
c. Rasa cinta tanah air yang tinggi.
d. Mengutamakan persatuan dan kesatuan.

Demikianlah pembahasan perihal Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa. Semoga bermanfaat.

Tuesday, February 18, 2020

Mengenal Pendekar Nasional | Cut Nyak Dhien

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para tokoh perintis kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari Tanah Air tercinta. Penting bagi generasi ketika ini untuk mengetahui dongeng atau kisah usaha para satria nasional.

Mengenal satria nasional sanggup dijadikan contoh bagi generasi bangsa semoga termotivasi untuk mengikuti nilai-nilai usaha para pahlawan. Dengan demikian dibutuhkan generasi bangsa ini nantinya turut membentuk ketahanan nasional. Seperti yang sering kita dengar dan kita baca, “Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Dan salah satu cara menghargai satria ialah dengan membaca kisah hidup dan perjuangannya.

Ada berbagai satria Indonesia. Salah satunya ialah Cut Nyak Dhien, satria nasional dari Aceh. Beliau ialah pejuang perempuan yang tangguh. Berikut ulasan perihal profil dan biografi Cut Nyak Dhien.
Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para tokoh perintis kemerdekaan dalam me Mengenal Pahlawan Nasional | Cut Nyak Dhien

Biodata Cut Nyak Dhien

Nama : Cut Nyak Dhien
Lahir : Aceh Besar, 1848
Wafat : Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908
Orang Tua : Teuku Nanta Seutia
Suami : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar
Anak : Cut Gambang

Biografi Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang, Kerajaan Aceh pada tahun 1848. Ia terlahir dari kalangan keluarga bangsawan. Ayahnya berjulukan Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang, yang juga keturunan dari Datuk Makhudum Sati. Ibu Cut Nyak Dhien ialah putri uleebalang Lampagar. Cut Nyak Dhien

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan pada bidang agama yang dididik oleh orang bau tanah ataupun guru agamanya serta pendidikan rumah tangga yaitu memasak, melayani suami, dan kehidupan sehari-hari.

Di masa kecil, Cut Nyak Dhien ialah gadis yang anggun sehingga banyak pria yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orang tuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka mempunyai satu anak laki-laki.

Perang Aceh

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pante Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan eksklusif sanggup menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler ketika itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira

Perang Aceh pertama terjadi pada tahun 1873-1874 dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000 serdadunya sanggup dipatahkan, di mana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873.

Perang Aceh kedua (1874-1880). Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai sentra pertahanan Belanda. Pada 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bab dari Kerajaan Belanda.

Perang Aceh ketiga (1881-1896). Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah dan berlangsung hingga tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah komando Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.

Pernikahan Cut Nyak Dhien dengan Teuku Umar

Darah pejuang menggelora di dalam diri Cut Nyak Dhien semenjak final hidup suami pertamanya, Teuku Cik Ibrahim Lamnga gugur diterjang peluru Belanda pada tahun 1878 di sebuah pertempuran di kawasan Gletarum. Teuku Ibrahim Lamnga merupakan suami pertama Cut Nyak Dhien yang telah menikahinya semenjak umur 12 tahun. Cut Nyak Dien kemudian bersumpah hanya akan mendapatkan pinangan laki laki yang bersedia membantu untuk menuntut balas final hidup Teuku Ibrahim Lamnga.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, sesudah sebelumnya Beliau dijanjikan untuk sanggup ikut turun di medan peperangan jikalau bersedia mendapatkan lamaran tersebut. Dari ijab kabul dengan Teuku Umar ini, Cut Nyak Dhien mempunyai seorang anak yang diberi nama Cut Gambang.

Teuku Umar ialah kemenakan ayahnya, seorang pejuang Aceh yang cukup disegani oleh Belanda. Sejak ketika itu, Cut Nyak Dhien selalu berjuang Bersama suaminya. Dalam usaha menghadapi Belanda, Teuku Umar bersiasat dengan berpura pura bekerja sama dengan Belanda untuk memperoleh pasokan senjata dan amunisi serta perlengkapan perang lainnya. Sementara itu di satu sisi, Cut Nyak Dhien tetap berjuang melawan Belanda di kampung halaman Teuku Umar.

Teuku Umar balasannya kembali bergabung dengan para pejuang Aceh lainnya dengan membawa persenjataan dan amunisi yang didapatkan dari Belanda, dan melancarkan pemberontakan melawan Belanda.

Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam sebuah pertempuran di Meulaboh, namun Cut Nyak Dhien tetap melanjutkan perjuangannya dengan bergerilya bersama pasukan kecilnya di hutan-hutan. Cut Nyak Dhien tidak pernah mau berdamai dengan Belanda yang disebutnya kapheer (kafir).

Cut Nyak Dhien Melanjutkan Perjuangan Melawan Belanda

Perjuangan yang berat dengan cara gerilya keluar masuk hutan menimbulkan kondisi pasukan dan kesehatan dirinya menurun. Cut Nyak Dhien terkena encok dan rabun pada matanya. Hal ini menciptakan seorang dari salah satu pasukannya merasa iba, dan kemudian melaporkan posisi keberadaan Cut Nyak Dhien kepada Belanda dengan persyaratan Cut Nyak Dhien harus diperlakukan dengan terhormat, bukan sebagai penjahat perang. Belanda pun menyetujuinya. Markas persembunyian Cut Nyak Dhien diserang dan Cut Nyak Dhien ditangkap.

Cut Nyak Dhien mendapatkan perlakuan yang baik serta perawatan sehingga sakitnya berangsur sembuh.  Keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memperlihatkan efek yang berpengaruh terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan beberapa pejuang Aceh yang belum tertangkap membuatnya kemudian diasingkan ke Sumedang.

Pada tanggal 6 November 1908 Cut Nyak Dhien meninggal dunia alasannya ialah usianya yang sudah lanjut di tempat pengasingannya di Sumedang, Jawa Barat. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Cut Nyak Dhien menurut SK Presiden RI No.106/1964

Mengenal Sultan Syarif Kasim Ii Dari Siak Riau

Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia. Selain diliputi suasana peperangan yang mencekam, ternyata ada cerita cinta yang menakjubkan. Cerita ini tiba dari Kesultanan Siak Sri Indrapura Riau yang kala itu populer sangat loyal terhadap Indonesia dan mempunyai sosok pemimpin yang dicintai rakyat.
Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia Mengenal Sultan Syarif Kasim II dari Siak Riau
Kesultanan Siak ketika itu dipimpin oleh Sultan Syarif Kasim II, pemimpin yang disebut-sebut bisa mencuri hati perempuan sekelas Ratu Wilhemina, sosok superior baik di negerinya Belanda maupun di Hindia Belanda atau Indonesia ketika dijajah Belanda.

Konon, Ratu Wilhelmina ini jatuh cinta kepada Sultan Syarif Kasim II alasannya yaitu sosoknya yang gagah, rapih, cerdas, dan cinta rakyat. Sifat itulah yang kemudian merebut perhatian sang ratu ketika berkunjung ke Siak. Selain mempunyai sifat yang menawan itu, Sultan Syarif Kasim II juga terlihat tampan dan necis ketika muda.
Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia Mengenal Sultan Syarif Kasim II dari Siak Riau
Bukti kecintaan Wilhemina pada Sultan Syarif Kasim II yaitu banyaknya barang Wilhelmina sebagai kenang-kenangan termasuk patung berbentuk dirinya yang ketika itu masih muda. Sebagai kenang-kenangan Ratu Wilhemina kemudian meminta patung Sultan Syarif Kasim II untuk dibawa pulang ke Belanda. Namun akhirnya, cerita cinta Ratu Wilhemina pada Sultan Syarif Kasim II tak berakhir senang alasannya yaitu cintanya dipisahkan oleh perbedaan agama.

Sebenarnya ibarat apa sih sosok sultan dari Riau yang bisa merebut hati Ratu Wilhelmina? Berikut ini ulasannya.

Sultan Syarif Kasim II


Sultan Syarif Kasim II dilahirkan di Siak pada tanggal 1 Desember 1893. Beliau merupakan Sultan yang terakhir dari Kesultanan Siak Sri Indrapura, sebuah Kesultanan Melayu Islam, dan sekarang Sultan Syarif Kasim II Namanya diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional di Pekanbaru, Propinsi Riau.

Berawal pada tahun 1915, Sultan Syarif Kasim II diangkat sebagai Sultan Siak yang berkedudukan di Siak Sri Indrapura. Sekarang Siak merupakan sebuah Kabupaten di Provinsi Riau dan masuk kedalam kawasan segitiga pertumbuhan (growth triangle) Indonesia – Malaysia- Singapura. Sebagai aristokrat yang kaya raya , Sultan Syarif Kasim II pernah mengikuti pendidikan aturan dan tata negara di Jakarta.

Setelah Sultan Syarif Kasim II diangkat sebagai Sultan Siak, Beliau menolak untuk mengakui perjanjian yang pernah dibentuk oleh sultan-sultan terdahulu dengan Pemerintah Belanda yang menyatakan  bahwa Kerajaan Siak yaitu milik Pemerintah Belanda yang dipinjamkan kepada keluarga Sultan.

Sultan Syarif Kasim II yang berpikiran maju berusaha untuk meningkatkan kecerdasan masyarakatnya. Dia pun kemudian mendirikan sekołah-sekolah berbahasa Belanda dan Melayu. Di samping itu, murid-muridnya yang cerdas dan berbakat diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota-kota besar, ibarat Jakarta dan Medan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan bahwa Kerajaan Siak yaitu merupakan bab dari negara Republik Indonesia. Beliau ikut memperlihatkan kontribusi moril dengan mengajak para sultan yang ada di Sumatera untuk bergabung dengan Pemerintah RI. Beliau juga memperlihatkan kontribusi materil dengan menyumbangkan hartanya sebanyak 13 juta gulden untuk membantu jalannya pemerintahan RI.

Ketika  Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II yang dilanjutkan dengan membentuk negara-negara federal (negara boneka), Sultan Syarif Kasim II yang pada ketika itu sedang berada di Aceh, melalui pidatonya di radio, memerintahkan kepada segenap penduduk Siak untuk tetap setia kepada Pemerintah RI serta menolak pembentukan Dewan Siak oleh Belanda.

Sultan Syarif Kasim II bahkan terus aktif membantu pejuang RI untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara menyediakan materi makanan untuk tentara dan pejuang-pejuang RI yang bertempur melawan Belanda maupun yang bertugas melaksanakan penumpasan terhadap gerombolan pemberontak. Demikian juga untuk Pemerintah RI yang ketika itu dipindahkan di Yogyakarta, Syarif kasim dengan rela menyumbangkan sebagian harta kekayaannya.

Sultan Syarif Kasim II meninggal dunia di Rubai, Pekanbaru, 23 April 1968 dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Mesjid Siak. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Syarif Kasim II menurut Surat Keputusan Presiden RI. No. 109/TK/ 1998, Pemerintah menganugerahkan gelar jagoan nasional kepadanya.

Wednesday, December 4, 2019

Sejarah Dan Isi Perjanjian Renville

Sejarah dan Isi Perjanjian Renville - Di negara Indonesia terdapat beberapa jenis perjanjian menyerupai perjanjian linggarjati, perjanjian renville, dan sebagainya. Setiap perjanjian memilki sejarah dan isi masing masing. Salah satunya yaitu sejarah perjanjian renville dan isi perjanjian renville. Pada tanggal 17 Januari 1948 telah dilakukan perjanjian renville yang merupakan jenis perjanjian negosiasi antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia. Perundingan yang dilakukan atas undangan dari KTN atau Komisi Tiga Negara dan Dewan PBB.
Di negara Indonesia terdapat beberapa jenis perjanjian menyerupai perjanjian linggarjati Sejarah dan Isi Perjanjian Renville
Perjanjian renville tersebut lalu dirundingkan dan ditandatangani di kapal USS Renville yang biasanya untuk mengangkut pasukan dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Apakah anda mengetahui bagaimana sejarah perjanjian renville ini? Lalu bagaimana isi perjanjian renville tersebut? Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai sejarah perjanjian renville dan isi perjanjian renville. Untuk lebih jelasnya sanggup anda simak di bawah ini.


Sejarah dan Isi Perjanjian Renville

Dalam sejarah perjanjian renville dijelaskan bahwa pelaksanaan negosiasi diwakili pihak masing masing negara. Untuk pihak Indonesia diwakili oleh Mr. Amir Syarifudin dan pihak Belanda diwakili oleh R. Abdulkadir Widjojoatmodjo. R. Abdulkadir Widjojoatmodjo yaitu salah satu warga Indonesia yang memihak Belanda. Penempatan R. Abdulkadir Widjojoatmodjo tersebut merupakan salah satu siasat dari Belanda. Hal ini lantaran duduk kasus yang terjadi termasuk ke dalam golongan duduk kasus dalam negeri. Dengan begitu tidak sanggup dibawa ke pihak internasional. Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ulasan selengkapnya mengenai sejarah perjanjian renville dan isi perjanjian renville.
Baca juga : Proses Masuknya Penjajahan Bangsa Eropa ke Indonesia

Sejarah Perjanjian Renville

Dalam sejarah perjanjian renville ini terdapat klarifikasi lebih lengkap mengapa perjanjian ini dibuat. Perjanjian renville dilakukan dengan tujuan untuk menuntaskan pertikaian yang terjadi antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia. Perundingan tersebut berawal dari penyerangan pihak Belanda ke Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947 hingga 4 Agustus 1947. Penyerangan tersebut dinamakan Agresi Militer Belanda yang Pertama. Peristiwa penyerangan yang telah dilakukan Belanda terhadap Indonesia menciptakan reaksi keras diluar negeri. 

Sejarah perjanjian renville berawal pada tanggal  1 Agustus 1947. Pada tanggal ini Dewan Keamanan PBB melaksanakan perintah supaya kedua belah pihak menghentikan aktivitas tembak menembak. Kemudian Belanda dan Republik Indonesia memberitahukan genjatan serta mengakhiri Agresi Militer yang Pertama pada tanggal 4 Agustus 1947. Pertempuran Agresi Militer yang Pertama disebabkan oleh adanya perselisihan mengenai perbedaan tafsiran dalam perjanjian linggarjati sebelumnya. Pihak Belanda mempunyai tafsiran yang berpedoman pada pidato Ratu Wilhelmina pada 7 Desember 1942. Menurutnya Negara Indonesia akan dibuat menjadi anggota Commonwealth serta menjadi negara federasi. Namun impian dari Belanda tersebut ternyata merugikan pihak Indonesia.

Sejarah perjanjian renville tidak berhenti begitu saja. Pihak Indonesia menolak keras atas impian tersebut. Indonesia melaksanakan penolakan sehari sebelum terjadinya Agresi Militer yang Pertama. Kemudian pada dikala itu juga Belanda sudah tidak mempunyai ikatan dengan perjanjian Linggarjati. Pada tanggal 21 Juli 1947 dicetuskan sebagai Agresi Militer Belanda yang pertama. Kemudian pada tanggal 8 Desember 1947, pihak Belanda dan Indonesia melaksanakan negosiasi di atas kapal Renville yang telah berlabuh disekitar teluk Jakarta. Dalam negosiasi renville ini terdapat beberapa ajuan dari KTN yaitu dibentuknya kawasan kosong militer, menghentikan gerakan tembak menembak sepanjang garis Van Mook dan perjanjian dalam peletakan senjata.
Baca juga : Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sejarah perjanjian renville tersebut berakhir pada tanggal 17 Januari 1948. Pada tanggal tersebut telah diadakan penandatanganan perjanjian renville antara kedua belah pihak. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1948, agresi tembak menembak diberhentikan.

Isi Perjanjian Renville

Dalam perjanjian renville terdapat beberapa pokok pikiran yang harus di taati oleh pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Berikut isi perjanjian renville :
  1. Kedaulatan Belanda akan tetap ada, sehingga terbentuklah Republik Indonesia Serikat atau RIS.
  2. Republik Indonesia Serikat atau RIS kedudukannya sama dan dejajar dengan Uni Indonesia Belanda.
  3. Sebelum terbentuknya RIS, kekuasaan Belanda diserahkan sementara ke pihak pemerintahan federal.
  4. Negara Indonesia akan termasuk kedalam penggalan dari RIS atau Republik Indonesia Serikat.
  5. Untuk membentuk Konstituante RIS akan diadakan pemilu atau pemilihan umum selama enam bulan hingga satu tahun.
  6. Untuk tentara yang berada di wilayah Belanda harus berpindah ke wilayah Indonesia.
Berdasarkan sejarah perjanjian renville dan isi perjanjian renville terdapat beberapa efek jelek yang berakibat kepada pemerintahan Indonesia seperti:
  • Sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh Belanda, sehingga berakibat sempitnya wilayah Republik Indonesia.
  • Berakhirnya kabinet Amir Syarifuddin lantaran terjadi reaksi kekerasan serta dianggap menjual Negaranya sendiri ke pihak Belanda.
Baca juga : Perjanjian Linggarjati, Isi Perjanjian Linggarjati, Dan Hasil Perundingan Linggarjati
  • Perekonomian Indonesia diblokade oleh pihak Belanda.
  • Tentara militer Indonesia yang berada di wilayah gerilya terpaksa di tarik mundur.
  • Pembentukan negara Boneka yang bertujuan untuk memecah belah Indonesia menyerupai Negara Sumatera Timur, Negara Borneo Barat, Negara Jawa Timur, dan Negara Madura.
Menurut sejarah perjanjian renville, pembentukan isi perjanjian renville tersebut berlangsung sekitar satu bulan. Pihak Indonesia dan pihak Belanda melaksanakan negosiasi dengan ditengahi oleh pihak KTN. Kemudian terdapat beberapa negara yang diwakili oleh satu orang menyerupai negara Australia diwakili oleh Richard Kirby, negara Belgia diwakili oleh Paul Van Zeeland, negara Indonesia diwakili oleh Amir Syarifuddin, negara Amerika Serikat diwakili oleh Frank Graham, dan negara Belanda diwakili oleh Abdulkadir Wijoyoatmojo. Perjanjian renville tersebut alhasil banyak merugikan pihak Indonesia. Sehingga terjadilah Agresi Militer Belanda yang Kedua.

Inilah klarifikasi mengenai sejarah perjanjian renville dan isi perjanjian renville. Semoga artikel ini sanggup menambah ilmu anda. Terima kasih.

Tuesday, December 3, 2019

Sejarah Kerajaan Tarumanegara Lengkap

Sejarah Kerajaan Tarumanegara Lengkap - Kerajaan kerajaan yang terdapat di Indonesia mempunyai sumber sejarahnya masing masing. Salah satunya adalah sejarah Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara adalah salah satu jenis kerajaan Hindu tertua ke dua di Indonesia. Untuk kerajaan Hindu tertua pertama adalah kerajaan Kutai. Kerajaan Tarumanegara juga sanggup disebut kerajaan Tarum. Kerajaan tersebut sanggup menguasai wilayah Jawa pada kurun ke 4 hingga kurun ke 7 M. Nama kerajaan ini berasal dari kata Tarum dan Nagara. Untuk kata Tarum artinya nama sungai yang namanya kini menjadi sungai Citarum. Sedangkan kata Nagara artinya negara atau kerajaan.
 Kerajaan kerajaan yang terdapat di Indonesia mempunyai sumber sejarahnya masing masing Sejarah Kerajaan Tarumanegara Lengkap
Lalu bagaimana sejarah kerajaan Tarumanegara? Kerajaan ini juga cukup populer di Indonesia sebab meninggalkan bukti bukti prasasti milik kerajaan. Siapa sajakah raja raja yang pernah memerintah kerajaan Tarumanegara? Kali ini saya akan menjelaskan secara lengkap mengenai sejarah kerajaan Tarumanegara. Untuk lebih jelasnya sanggup anda simak di bawah ini.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara Lengkap

Menurut sejarah kerajaan Tarumanegara, masyarakatnya melaksanakan aktivitas bertani dan beternak demi mencukupi perekonomiannya. Kegiatan ekonomi yang dilakukan tersebut tercatat dalam bukti Prasasti Tugu yang ditemukan. Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa terdapat pembangunan jalan masuk Gomati yang mempunyai panjang 12 km atau 6112 tombak. Kegiatan pembangunan yang dilakukan berlangsung selama 21 hari. Lokasi kerajaan Tarumanegara berada disekitar selat Sunda. Dengan kata lain, banyak masyarakat Tarum yang berprofesi sebagai pedagang. Kerajaan Tarum termasuk jenis kerajaan tertua kedua sesudah berdirinya Kerajaan Kutai. Pada kurun ke 4 hingga ke 7 Masehi, kerajaan Tarum menguasai wilayah barat pulau Jawa.
Baca juga : Proses Masuknya Penjajahan Bangsa Eropa ke Indonesia
Sejarah kerajaan Tarumanegara ini mencatat berdirinya kerajaan tersebut. Namun waktu berdirinya kerajaan tersebut masih menjadi pertanyaan bagi para andal di bidang sejarah. Sumber sejarah yang membahas perihal kerajaan Tarumanegara adalah naskah Wangsakerta. Keaslian isi dari naskah Wangsakerta juga masih menjadi perdebatan antara sejarawan. Menurut naskah tersebut, terdapat beberapa pengungsi India yang mendatangi banyak sekali wilayah dan pulau di Nusantara untuk mendapat pinjaman sebab perang besar yang terjadi dinegaranya. Peristiwa tersebut terjadi pada kurun ke 4 Masehi. Pengungsi yang tiba berasal dari kerajaan Palawa serta kerajaan Calankayana India. Kedua kerajaan ini kalah melawan Kerajaan Samudragupta dalam peperangan India.

Menurut sejarah kerajaan Tarumanegara dalam naskah tadi juga mencatat pemimpin dari sejumah pengungsi Calankayana. Rombongan ini dikuasai oleh Maharesi yang dikenal dengan nama Jayasingawarman. Jayasingawarman bermukim di sekitar sungi Citarum atas persetujuan dari raja Barat Jawa yaitu Dewawarman VIII, raja Salakanagara. Pemukiman yang didirikan oleh Jayasingawarman lalu dikenal dengan desa Taruma atau Tarumadesya. Kemudian desa ini menjadi lebih besar sesudah sepuluh tahun lalu banyak penduduk desa lain yang masuk ke desa Taruma. Pada jadinya status desa Taruma bermetamorfosis setingkat Negara atau kota. Karena semakin hari negara ini semakin berkembang menciptakan Jayasingawarman mendirikan kerajaan Tarumanegara.

Dalam sejarah kerajaan Tarumanegara terdapat masa masa kejayaannya. Kejayaan Tarumanegara ketika masa pimpinan dari raja Purnawarman. Pada masa itu kerajaan Tarumanegara memperluas daerahnya dengan menaklukan kerajaan kerajaan disekitarnya. Menurut sejarah kerajaan Tarumanegara yang tercatat dalam naskah, luas daerahnya hampir sama dengan luas tempat Jawa Barat yang sekarang. Raja Purnawarman juga menciptakan Undang Undang kerajaan, silsilah dinasti Warman, peraturan angkatan perang dan siasat perang. Raja tersebut populer sebagai raja yang bijak dan besar lengan berkuasa dimata rakyatnya.
Baca juga : 8 Peninggalan Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia
Dibalik masa kejayaan dalam sejarah kerajaan Tarumanegara adapula masa masa keruntuhannya. Pada ketika itu kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh seorang raja berjulukan Linggawarman. Beliau memerintah pada kurun ke 12 dan mempunyai 2 orang putri. Putri pertama Linggawarman berjulukan Dewi Manasih yang diperistri oleh Tarusbawa. Sedangkan putri kedua berjulukan Sobakencana yang menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri dari Kerajaan Sriwijaya). Kemudian kerajaan Tarumanegara diperintah oleh Tarusbawa dan berpusat dikerajaan Sunda. Kemudian kerajaan Taruma diganti menjadi kerajaan Sunda.

Sejarah kerajaan Tarumanegara dibuktikan dengan beberapa prasasti yang ditemukan. Namun dalam sejarah tercacat 7 buah prasasti sebagai berikut :

Prasasti Ciareteun
Sejarah kerajaan Tarumanegara ini meninggalkan bukti berupa prasasti ciareteun. Prasasti ini berasal dari Ciampek, Bogor. Prasasti Ciareteun terdapat goresan tapak kaki, keuntungan laba dan puisi dengan bahasa Sansekerta dan karakter Palawa. Tulisan puisi yang ditemukan berbunyi:
"Kedua (jejak) telapak kaki yang menyerupai (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara."

Prasasti Pasri Koleangkak
Jenis prasasti dalam sejarah kerajaan Tarumanegara selanjutnya adalah prasasti Pasri Koleangkak. Prasasti ini berasal dari perkebunan Jambu. Prasasti Pasri Koleangkak juga sanggup disebut Prasasti Jambu. Dalam prasasti ini menjelaskan perihal Raja Sri Purnawarman adalah raja setia tiada tara dan termansyur yang pernah memerintah kerajaan Taruma. Bahkan baju yang dikenakan raja Purnawarman tidak sanggup ditembus oleh panah panah musuhnya. Telapak kaki inilah yang menjadi benteng dan kehormatan bagi mereka yang setia kepada rajanya. Namun sanggup menjadi sebuah duri bagi musuh musuhnya.

Prasasti Kebonkopi
Jenis prasasti dalam sejarah kerajaan Tarumanegara selanjutnya adalah prasasti Kebonkopi. Prasasti Kebonkopi berasal dari kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Untuk prasasti kebonkopi berisi perihal dua kaki gajah yang hampir sama dengan telapak kaki gajah Airawati. Gajah Airawati merupakan kendaraan dari Dewa Wisnu. Prasasi Kebonkopi berbunyi :
" jujur, mengagumkan dan gagah dengan tugasnya adalah pemimpin insan yang tiada tara, termasyhur Sri Purnawarman, memerintah taruma dan baju zirahnya tak sanggup ditembus oleh musuh ..."

Prasasti Pasir Awi yang berasal dari tempat Pasir Awi, Bogor.
Prasasti Tugu yang berasal dari tempat Tugu, Jakarta.
Prasasti Muara Cianten yang berasal dari tempat Bogor.
Baca juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Prasasti Lebak atau Cidanghiang
Jenis prasasti dalam sejarah kerajaan Tarumanegara yang terakhir adalah prasasti Lebak atau Cidanghiang. Prasasti ini berasal dari kampung Lebak, Pandeglang Banten, di pinggir sungai Cidanghiang. Prasasti tersebut mengatakan tanda keberanian, keperwiraaan dan keagungan dari raja bergotong-royong yaitu Purnawarman. Beliau dikenal sebagai raja sekaligus panji.

Dalam sejarah kerajaan Tarumanegara tidak hanya prasasti prasasti diatas yang dijadikan sebagai sumber sejarahnya. Namun masih ada sumber sumber sejarah lainnya yang berasal dari Cina menyerupai :
  1. Berita yang berasal dari Dinasti Tang Muda yang menjelaskan bahwa terdapat utusan Tolomo yang tiba pada tahun 666 dan 669 Masehi.
  2. Berita yang berasal dari musafir Cina (pendeta Budha) berjulukan Fa-Hien. Ia terdampar di Tolomo pada tahun 414. Menurut catatannya, rakyat Tolomo hanya sedikit yang memeluk agama Budha. Ia juga hanya menjumpai Animisme dan Brahmana saja.
  3. Berita yang berasal dari Dinasti Soui yang menjelaskan bahwa terdapat utusan Tolomo dibagian selatan yang tiba pada tahun 528 dan 535 M.
Dalam sejarah kerajaan Tarumanegara mulai dari kurun ke 4 hingga ke 7, terdapat beberapa raja yang pernah memimpin. Dibawah ini terdapat 12 raja yang pernah memimpin kerajaan Tarumanegara.
  1. Raja Jayasingawarman memimpin dari 358 hingga 382 M.
  2. Raja Dharmayawarman memimpin dari 382 sampai 395 M.
  3. Raja Purnawarman memimpin dari 395 hingga 434 M.
  4. Raja Wisnuwarman memimpin dari 434 hingga 455 M.
  5. Raja Indrawarman memimpin dari 455 hingga 515 M.
  6. Raja Candrawarman memimpin dari 515 hingga 535 M.
  7. Raja Suryawarman memimpin dari 535 hingga 561 M.
  8. Raja Kertawarman memimpin dari 561 hingga 628 M.
  9. Raja Sudhawarman memimpin dari 628 hingga 639 M.
  10. Raja Hariwangsawarman memimpin dari 639 hingga 640 M.
  11. Raja Nagajayawarman memimpin dari 640 hingga 666 M.
  12. Raja Linggawarman memimpin dari 666 hingga 669 M.
Kehidupan ekonomi dalam sejarah kerajaan Tarumanegara adalah berupa peternakan dan pertanian. Hal tersebut sanggup diketahui dari inovasi Prasasti Tugu yang menceritakan penggalian atau pembangunan dari jalan masuk Gomati dengan panjang 12 km atau 6112 tombak. Penyelesaiannya terjadi selama 21 hari. Selain itu masyarakat Taruma juga berperan sebagai pedagang yang berada bersahabat di selat Sunda. Pembangunan yang dilakukan mempunyai makna hemat untuk rakyat Tarumanegara sebab dipakai untuk media pencegahan banjir dan pengairan. Prasasti Tugu juga berisi perihal pembangunan jalan masuk Candrabhaga. Maka dari itu rakyat mempunyai kehidupan yang sejahtera, makmur dan aman.

Untuk segi kebudayaan dalam sejarah kerajaan Tarumanegara sudah tergolong tinggi. Hal ini dibuktikan pada jaman itu sudah terdapat aliran untufk menciptakan irigasi air beserta pencegahan banjir. Kemajuan dari kebudayaan tersebut juga terlihat dalam cara dan teknik menulis huruf huruf yang terdapat dalam prasasti.

Demikianlah klarifikasi mengenai sejarah kerajaan Tarumanegara. Semoga artikel ini sanggup bermanfaat. Terima kasih.

Monday, December 2, 2019

Sejarah Kerajaan Singasari (Kehidupan Politik, Ekonomi, Dan Sosial Budaya)

Sejarah Kerajaan Singasari (Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya) - Kerajaan singasari didirikan oleh Ken Arok. Namun dalam sejarah kerajaan singasari, asal undangan dari Ken Arok tidak sanggup diketahui dengan jelas. Berdasarkan kitab Pararaton, Ken Arok merupakan anak seorang perempuan petani di desa Pangkur, sebelah timur dari Gunung Kawi. Menurut beberapa pendapat para ahli, Ken Arok diduga mempunyai seorang ayah yang berprofesi sebagai pejabat kerajaan. Hal tersebut didasarkan pada ambisi, taktik yang tinggi dan wawasan berpikirnya yang luas. Pola pikir inilah yang jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Ken Arok pada mulanya hanya seorang abdi Tunggul Ametung dari Akuwu Tumapel. Pada ketika itu Ken Arok mempunyai harapan untuk menjadi Akuwu dan ingin memperistri Ken Dedes (istri dari Tunggul Ametung).
Kerajaan singasari didirikan oleh Ken Arok Sejarah Kerajaan Singasari (Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya)
Dalam sejarah kerajaan Singasari terdapat tipu kebijaksanaan anyir yang dilakukan oleh Ken Arok. Hal ini dilakukan untuk membunuh Tunggul Ametung. Setelah kematian Tunggul Ametung, kemudian Ken Arok mengangkat dirinya sebagai AkuwuTumapel dan menimbulkan Ken Dedes istrinya. Pada ketika itu ternyata Ken Dedes dalam keadaan mengandung. Bahkan Ken Arok mengaku sebagai jelmaan Dewa Wisnu, Syiwa dan Brahmana. Hal ini bertujuan biar ia diterima oleh rakyat sebagai pemimpin yang sah. Kali ini saya akan menjelaskan mengenai sejarah kerajaan singasari, baik dalam kehidupan politik, ekonomi maupun sosial budaya. Berikut ulasan selengkapnya.

Sejarah Kerajaan Singasari (Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya)

Dalam sejarah kerajaan singasari, dulunya kerajaan ini dikuasai oleh kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Dandang Gendis atau Raja Kertajaya. Pada ketika itu juga Ken Arok ingin melaksanakan pemberontakan namun menunggu waktu yang tepat. Terdapat beberapa pendeta dari kerajaan Kediri yang meminta penjagaan dari Ken Arok dikarenakan telah diperlakukan sewenang wenang oleh Raja Kertajaya. Kedatangan mereka disambut baik oleh Ken Arok dan ketika itu mulai disusunlah barisan prajurit. Beliau bahkan melaksanakan pembinaan kepada prajurit dan melaksanakan propaganda kepada rakyat biar ikut memberontak kerajaan Kediri.
Baca juga : Sejarah dan Isi Perjanjian Renville
Setelah segala persiapan telah selesai, para prajurit Tumapel menuju Kediri dengan jumlah yang besar. Pada ketika itulah terjadi peperangan besar di kawasan Ganter. Kerajaan Kediri mulai dari raja hingga prajurit prajuritnya sanggup dibinasakan oleh Tumapel. Ahirnya Ken Arok disambut ramai oleh rakyat Tumapel maupun rakyat Kediri. Ken Arok kemudian dinobatkan menjadi seorang raja dan menggabungkan kerajaan Tumapel dan Kediri. Kerajaan adonan tadi dinamakan kerajaan Singasari. Pusat kerajaan singasari berada di sebelah timur Gunung Arjuna. Kerajaan ini mulai mengalami kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Dan pada ketika itu terjadilah asal mula sejarah kerajaan Singasari.

Kehidupan Politik Kerajaan Singasari

Kehidupan politik dalam sejarah kerajaan singasari diketahui berdasarkan raja raja yang pernah memerintah kerajaan tersebut. Di bawah ini terdapat beberapa nama raja yang telah memerintah kerajaan Singasari.

Ken Arok (dari tahun 1222 hingga 1227)
Sejarah kerajaan singasari didirikan oleh Ken Arok. Beliaulah raja Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Kemunculan Ken Arok sebagai raja pertama kerajaan Singsari tersebut memperlihatkan dinasti gres yaitu Dinasti Girindra atau Girindrawangsa dan Dinasti Rajasa atau Rajasawangsa. Pemerintahan Ken Arok hanya berjalan selama 5 tahun yaitu pada tahun 1222 hingga tahun 1227. Ken Arok terbunuh pada tahun 1227 oleh suruhan Anusapati dan dimakamkan di bangunan Siwa Buddha Kegenengan. Anusapati merupakan anak tiri dari Ken Arok.

Anusapati (dari tahun 1227 hingga 1248)
Raja selanjutnya dalam sejarah kerajaan Singasari adalah raja Anusapati. Tahta kerajaan Singasari diberikan kepada Anusapati sehabis meninggalnya Ken Arok. Pemerintahan Anusapati yang cukup usang tidak terjadi pembaharuan yang dilakukan. Hal tersebut sebab dia terhanyut pada kesenangannya dalam menyabung ayam. Akhirnya kematian Ken Arok terbongkar dan diketahui oleh Tohjoyo yaitu putra Ken Arok dengan Ken Umang. Tohjoyo mengetahui kegemaran dari Anusapati yang suka menyabung ayam. Ia kemudian mengundang Anusapati untuk berpesta sabung ayam di kediamannya yaitu di Gedong Jiwa. Ketika Anusapati sedang asik dengan ayam jagoannya, Tohjoyo menyabut keris Empu Gandring miliknya dan menusukkannya ke badan Anusapati. Raja Anusapati meninggal dan didharmakan pada Candi Kidal.

Tohjoyo (pada tahun 1248)
Raja selanjutnya dalam sejarah kerajaan Singasari adalah raja Tohjoyo. Tahta kerajaan Singasari diberikan kepada Tohjoyo sehabis meninggalnya Anusapati. Masa pemerintahan Tohjoyo tidak berlangsung lama. Hal ini dikarenakan Ranggawuni (anak Anusapati) ingin membalas dendam atas kematian ayahnya. Ranggawuni berhasil menggulingkan pemerintahan Tohjoyo dan menduduki singgasananya atas pertolongan dari Mahesa Cempaka beserta pengikutnya.
Baca juga : Perjanjian Linggarjati, Isi Perjanjian Linggarjati, Dan Hasil Perundingan Linggarjati
Ranggawuni (dari tahun 1248 hingga 1268)
Raja selanjutnya dalam sejarah kerajaan Singasari adalah raja Ranggawuni. Pada tahun 1248, Ranggawuni dinobatkan sebagai raja kerajaan Singasari dan bergelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka. Mahesa Cempaka merupakan anak Mahesa Wongateleng yang mempunyai kedudukan ratu angabhaya dan mempunyai gelar Narasinghamurti. Pada ketika pemerintahan Ranggawuni memperlihatkan imbas baik bagi rakyat yaitu kesejahteraan dan ketentraman. Kemudian Wisnuwardana mengangkat anaknya sebagai raja muda Kertanegara pada tahun 1254. Pengangkatan ini bertujuan untuk mempersiapkannya sebagai raja kerajaan Singasari kelak. Wisnuwardana meninggal pada tahun 1268 serta didharmakan pada Candi Jago atau Jajaghu sebagai Buddha Amogapasa serta di Candi Waleri sebagai Siwa.

Kertanegara (dari tahun 1268 hingga 1292)
Raja terakhir dalam sejarah kerajaan Singasari adalah raja Kertanegara. Kertanegara mempunyai harapan besar yaitu menyatukan seluruh kerajaan yang terdapat di Nusantara. Ia dinobatkan sebagai raja Singasari pada tahun 1268 dan bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam memerintah kerajaan Singasari, ia memberi pertolongan kepada tiga mahamentri yaitu mahamentri i sirikan, mahamentri i hino, dan mahamentri i halu. Ia kemudian melaksanakan pembaharuan pejabat yang kurang terpelajar menjadi gres demi mewujudkan persatuan kerajaan kerajaan Nusantara. Contohnya Patih Raganata diganti oleh Patih Aragani. Kemudian para wide banyak yang dijadikan Bupati Sumenep yang bergelar Aria Wiaraja.

Gagasan dalam sejarah kerajaan Singasari untuk menyatukan Nusantara tersebut berawal dari pulau Jawa kemudian menuju kawasan daerah lain. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirim utusan untuk melaksanakan Ekspedisi Pamalayu dikota Melayu. Akhirnya kerajaan Melayu berhasil dikuasai dan ditandai oleh pengiriman Amogapasa ke Dharmasraya. Kertanegara mempunyai tujuan untuk menguasai selat malaka beserta kawasan lain menyerupai Bali, Sunda, Gurun (Maluku), Pahang, dan Bakulapura (Kalimantan Barat). Selain itu Kertanegara juga melaksanakan kekerabatan dengan raja Champa biar kekuasaannya tertahan hingga Kublai Khan dari Dinasti Mongol. Kerajaan Kublai Khan memaksa raja kawasan selatan termasuk Indonesia untuk mengakuinya sebagai tuan. Keputusan itu ditolak oleh Kertanegara dan melukai Mengki selaku utusan Kublai Khan. Perlakukan tersebut menciptakan Kublai Khan murka besar dan mengirim pasukannya ke Jawa.

Jayakatwang memanfaatkan kesempatan ketika pasukan Singasari menghadapi serangan dari Mongol. Jayakatwang (keturunan raja Kediri yang terakhir) melaksanakan serangan pada ketika itu juga. Ia melaksanakan serangan melalui arah utara dengan cara pasukan pancingan dan dari arah selatan dengan cara pasukan inti. Dalam sejarah kerajaan Singasari tidak berhenti begitu saja. Serangan dari arah selatan dipimpin oleh Jayakatwang sendiri. Ia berhasil masuk kedalam istana dan melihat Kertanegara sedang melaksanakan pesta besar dengan pembesar di istana. Akhirnya para pembesar istana besera Kertanegara tewas. Namun menantu Kertanegara (Raden Wijawa) berhasil kabur dan menuju Sumenep untuk meminta proteksi dari bupati Aria Wiraraja. Raden Wijaya kemudian mengabdi dan memperoleh ampunan dari Jayakatwang atas pertolongan Aria Wiraraja. Bahkan ia diberikan sebidang Tanah Terik (nantinya sebagai asal mula kerajaan Majapahit).

Menurut sejarah kerajaan Singasari, pada tahun 1292 raja Kertanegara gugur dan Jayakatwang berhasil mengusai kerajaan tersebut. Kertanegara didharmakan pada Candi Singasari sebagai Siwa Buddha atau Bairawa. Kemudian diwujudkan sebagai arca Joko Dolog di Taman Simpang, Surabaya.
Baca juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Singasari

Selanjutnya terdapat kehidupan ekonomi dalam sejarah kerajaan Singasari. Kehidupan ekonomi kerajaan Singasari berasal dari gosip negeri asing, sumber prasasti dan analisis para ilmuan. Menurutnya kerajaan Singasari berpusat di sekitar Lembah Sungai Brantas dan rakyatnya banyak mengantungkan hidupnya sebagai seorang petani. Perekonomian tersebut didukung oleh melimpahnya hasil bumi. Dengan begitu Kertanegara banyak memperluas kekuasaannya untuk lintas perdagangan. Bahkan Sungai Brantas dipakai untuk sarana jalur perdagangan dari wilayah wilayah luar. Perkembangan perekonomian dalam kerajaan Singasari juga didukung oleh jalur perdagangan.

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Singasari

Adapula kehidupan sosial budaya dalam sejarah kerajaan Singasari. Kerajaan Singasari meninggalkan bukti kebudayaan menyerupai patung, prasasti maupun candi. Peninggalan candi di kerajaan Singasari mencakup Candi Singasari, Candi Jago, dan Candi Kidal. Kemudian adapula patung hasil peninggalan kerajaan Singasari menyerupai Patung Ken Dedes yang disebut sebagai Dewi Prajnaparamita (dewi kesuburan) serta Patung Kertanegara disebut sebagai Amoghapasa. Pasang surut yang terjadi dalam rakyat Singasari bermula dari pemerintahan Ken Arok hingga Wisnuwardhana. Ketika pemerintahan Ken Arok, masyarakat hidup dengan makmur dan tentram.

Namun berdasarkan sejarah kerajaan Singasari, pemerintahan Anusapati banyak mengalami pengabaian dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh kegemarannya dalam menyabung ayam, bahkan pembangunan kerajaannya hingga terlupakan. Kehidupan masyarakat kembali membaik ketika pemerintahan Wisnuwardhana. Kemudian Kertangara menciptakan para rakyatnya hidup sejahtera dan aman. Ia juga ingin menyatukan seluruh kerajaan Nusantara dengan naungan Singasari. Semua itu diwujudkan dengan kerja keras dan perjuangan yang tiada henti walaupun pencapaiannya belum sempurna. Kertanegara berhasil menguasai kawasan Bali, Melayu, Jawa, Semenanjung Malaka, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, dan Madura.

Demikianlah klarifikasi mengenai sejarah kerajaan singasari, baik dalam kehidupan politik, ekonomi maupun sosial budaya. Semoga artikel ini sanggup bermanfaat. Terima kasih.

Peristiwa Rengasdengklok Latar Belakang, Tujuan Kronologis Lengkapnya

Peristiwa rengasdengklok - Peristiwa rengasdengklok merupakan salah satu insiden penting yang mewarnai sejarah Negara Republik Indonesia hingga alhasil Indonesia menjadi negara yang merdeka seutuhnya. Peristiwa rengasdengklok sendiri  singkatnya merupakan insiden dimana terjadinya penculikan terhadap Ir. Soekarno bersama Drs.Moh Hatta yang dilakukan oleh golongan muda pada satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Keduanya diculik oleh golongan muda kemudian dibawa ke salah satu kota kecil di provinsi Jawa Barat tepatnya dikota Rengasdengklok. Oleh alasannya ialah itu insiden ini dinamai dengan nama peristiwa rengasdengklok.

merupakan salah satu insiden penting yang mewarnai sejarah Negara Republik Indonesia sam Peristiwa Rengasdengklok Latar Belakang, Tujuan  Kronologis Lengkapnya

Seperti yang sudah kita bahas diatas merupakan singkat kisah dari Peristiwa rengasdengklok.

Selanjutnya kita akan bahas secara lebih lanjut mulai dari Latar belakang Peristiwa rengasdengklok, tujuan insiden rengsdengklok, serta Kronologi lengkap dari Peristiwa Rengasdengklok.


Dalam rangka menghadapi gerakan bangsa Jepang, negara-negara Barat yang terdiri dari Amerika Serikat, British/Ingris, Cina, Dutch/Belanda membentuk sebuah pasukan adonan yang diberi nama dengan sebutan Front ABCD, dalam perkembangannya kedudukan Front ABCD berhasil didesak oleh pasukan Jepang. Pasukan Jepang terus melaksanakan upaya untuk mendesak dengan cara menghancurkan satu persatu pertahanan Front ABCD. Namun Setelah semua desakan yang pasukan Jepang berikan berhenti dikala pasukan Jepang harus mendapatkan kekalahan dalam pertempuran di Laut Karang pada tanggal 7 Mei 1945 yang dimenangkan oleh Front ABCD.

Setelah kekalahan Jepang di pertemputan Laut Karang posisi pasukan Jepang di Asia Pasifik semakin terdesak.  Dalam setiap pertempuran-pertempuran melawan Front ABCD Jepang harus mendapatkan kekalahan, ditambah lagi pasukan Amerika seriakt melaksanakan serangan ke sentra industri-industri milik jepang, ibarat kota Hirosima dan Nagasaki. Pasukan Amerika serikat memelakukan serangan terhadap kota Hirosima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 dengan cara menjatuhkan bom atom yang secara pribadi menghancurkan kedua kota tersebut.

Setelah kekalahan besar pasukan Jepang serta hancurnya kota Hirosima dan Nagasaki menciptakan Jepang semakin tidak berdaya hingga alhasil terpakasa mengalah tanpa syarat kepada pasukan sekutu. Menyerahnya pasukan Jepang tanpa syarat terhadap pasukan sekutu menyebabkan terjadinya kekosongan kekuasan di wilayah Indonesia. Hal itu terjadi alasannya ialah pasukan Sekutu yang ditugaskan untuk mendapatkan kekuasaan atas wilyah Indonesia dari tangan Jepang belum juga datang di Indonesia. Sementara Jepang sudah tidak menjalakna kiprahnya lagi sebagai penguasa wilayah sesudah melaksanakan penyerahan tanpa syarat kepada sekutu.

Pernyataan bahwa Jepang sudah mengalah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu dan berakhirnya perang diumumkan pada tanggal 15 Agustus 1945. Berita tersebut diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para cowok yang termasuk para cowok Menteng Raya 31, ibarat Chairul Saleh, Abubakar Lubis, dan Wikana.
Baca Juga : Latar Belakang Penjajahan Belanda Di Indonesia
Para cowok sesegera mungkin menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur No.58 Jakarta. Para golongan cowok meminta mereka untuk bersedia memprolklamasikan kemerdekaan Indonesia lepas dari dampak Jepang. Tetapi, undangan golongan cowok tersebut ditolak oleh Bung Karno dan Bung Hatta dengan alasan bahwa pelaksanaan proklamasi perlu dibicarakan terlebih dahulu dalam rapat PPKI ( Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Pada malam hari tanggal 15 Agustus 1945, para cowok mengadakan rapat di ruang Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur yang dihadiri oleh Sukarni, Yusuf Kunto, Sodanco Singgih, dan Chairul Saleh. Pada rapat tersebut diputuskan bahwa kemerdekaan Indonesia ialah hak rakyat Indonesia sendiri, tidak sanggup digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan, dan kesepakatan kemerdekaan harus diputus. Golongan muda juga menginginkan biar mereka diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi. Hasil rapat itu disampaikan oleh Darwis dan Wikana kepada golongan tua.

Soekarno dan Hatta sebagai perwakilan golongan bau tanah menolak hasil rapat yang disampaikan oleh perwakilan golongan muda. Akibatnya, muncul suasan tegang dalam rapat. 

Golongan bau tanah tetap bersikukuh untuk perlunya diadakan rapat PPKI. Kuatnya pendirian golongan bau tanah untuk tidak memproklamasikan kemerdekaan sebelum rapat PPKI menciptakan golongan muda berpikir bahwa Soekarno-Hatta telah tergoda dampak Jepang.

Hal ini lah yang memicu terjadinya penculikan Soekarno-Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945, keduanya dibawa dan disembunyikan di Rengasdengklok.

Tujuan Peristiwa Rengasdengklok
  1. Mencegah terpengaruhnya Soekarno-Hatta terhadap dampak Jepang.
  2. Untuk mendesak kedua tokoh biar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia terlepas dari segala ikatan Jepang.

Menjelang tanggal 16 Agustus 1945, pada waktu tengah malam para golongan mua melukan rapat di asrama Baperpi ( Badan Permusyawaratan Pemuda Indonesia) di jalan Cikini No.7 Jakarta. Rapat tersebut menghasilkan keputusan untuk mengamankan Ir.Soekarno dan Drs.Muh Hatta keluar Jakarta.

Para cowok memutuskan untuk mengamankan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok.Pemilihan Rengasdengklok sebagai daerah untuk mengamankan kedua tokoh tersebut dipertimbangkan berdasarkan perhitungan militer.Rengasdengklok terletak 15 km dari jalan raya Jakrta-Cirebon. Selain itu, antara daidan(batalion) Peta Jakarta dan Rengasdengklok saling berlatih bersama.

Dari pertimbangan tersebut, setiap gerakan pasukan Jepang yang akan ke Rengasdengklok dari beberapa penjuru dengan cepat akan sanggup diketahui dan dihadang dengan kekuatan militer yang cukup.

Ir.Soekarno dijemput dirumahnya oleh Chairul Saleh dan Muwardi.
Sedangkan Drs.Muh Hatta dijemput oleh Sukarni dan Yusuf Kunto.

Rombongan berangkat ke Rengasdengklok dengan pengawal pasukan Peta di bawah pimpinan Sodaco Singgih.
Hilangnya kedua tokoh tersebut ( Soekarno-Hatta) gres diketahui oleh golongan bau tanah di Jakarta pada pukul 08.00.

Di Rengasdengklok terjadi pembicaraan pribadi antara Soekarno, Sodanco Singgih. Isi pembicaraan tersebut Sodanco menyimpulkan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan  Indonesia segara sesudah kembali ke Jakarta.

Setelah itu Sodanco Singgih bergegas memberitahu kesediaan Soekarno itu kepada para golongan muda lainnya di Jakarta.

Sementara itu, Mr. Ahmad Subarjo dan Wikana setuju bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilakukan di Jakarta alasannya ialah Laksamana Maeda bersedia dan menjamin keselamatan selama mereka berada di rumahnya.

Sekian Pembahasan wacana Latar belakang, Tujuan, dan Kronologi insiden rengasdengklok. Semoga bermanfaat.

(Sumber referensi: Lomba Kompetensi Siswa kreatif Sejarah ilmu pengetahuan sosial terbitan erlangga)

Hasil Sidang Ppki 1, 2, 3 (Tanggal 18, 19, 22 Agustus 1945)

PPKI atau panitia persiapan kemerdekaan Indonesia ( Dokuritsu Junbi Inkai) ialah sebuah panitia yang dibuat setelahdibubarkannya  BPUPKI alasannya ialah sudah dianggap menuntaskan tugasnya. PPKI dibuat pada tanggal 7 Agustus 1945. Anggota PPKI terdiri dari 21 orang dan tanpa sepengetahuan Jepang ditambah 6 orang anggota yang sanggup mewakili rakyat Indonesia. Anggota PPKI tersebut tidak hanya terbatas pada wakil-wakil dari Jawa yang berada di bawah pemerintahan tentara keenam belas, tetapi juga dari banyak sekali pulau yaitu 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 wakil dari Sulawesi, 1 wakil dari Kalimantan, 1 wakil dari Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 wakil dari maluku, dan 1 wakil lagi dari golongan penduduk Cina. PPKI dipimpin oleh Ir.Soekarno dengan wakilnya, Moh. Hatta dan penasihatnya, Ahmad Subarjo. Badan ini diresmikan pada tanggal 9 Agustus 1945 di Dalat, Saigon oleh Jendral Terauchi selaku panglima armada Jepang untuk Asia Tenggara.

 PPKI atau panitia persiapan kemerdekaan Indonesia  Hasil Sidang PPKI 1, 2, 3 (Tanggal 18, 19, 22 Agustus 1945)


Sidang Pertama PPKI Tanggal 18 Agustus 1945
Pada pelaksanaanya sebelum menggelar sidang PPKI pertama Ir.Soekarno menambahkan 9 anggota PPKI gres yang sebagian terdiri dari golongan muda, yaitu Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana. Namun ketiga golongan muda tersebut kurang berkenan, mereka masih menganggap bahwa PPKI merupakan tubuh yang di bentuk oleh  Jepang. Oleh alasannya ialah itu,  Ir.Soekarno hanya mengumumkan 6 orang sebagai anggota gres PPKI yaitu  Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo,  Wiranata Kusumah, Sayuti Melik, Mr. Iwa Kusuma Sumantri, dan Mr. Ahmad Subarjo.

Hasil Sidang Pertama PPKI 18 Agustus 1945

  • Pengesahan Undang-Undang Dasar 1945

Sidang PPKI pertama dilaksanakan di sebuah Gedung Cuo Sangi In di Jalan Pejambon. Pada rapat ini Soekarno-Hatta meminta sejumlah tokoh untuk merevisi ulang kembali piagam Jakarta, khusunya pada kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” . Hal tersebut memicu rasa keberatan bagi pemeluk agama lain ( selain agama Islam). Akhirnya sehabis melaksanakan negosiasi yang dilakukan kurang lebih selama 15 menit yang dipimpin oleh Bung Hatta semua tokoh mencapai akad untuk merubahnyamenjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”.

  •  Penetapan Ir.Soekarno sebagai Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wapres .

Penetapan Soekarno-Hatta sebagai presiden dan wakil presiden diusulkan oleh Otto Iskandardinata secara aklamasi.

  • Pembentukan Komite Nasional

Pembentukan Komite Nasional ditujukan untuk membantu kiprah presiden selama Majelis Permusyawaratan Rakyat belum terbentuk.

Sidang PPKI Kedua Tanggal 19 Agustus 1945
Setelah sebelumnya PPKI melaksanakan sidang pertamanya pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI melaksanakan sidang keduanya pada tanggal 19 Agustus 1945. Pada sidang ke dua ini terdapat 3 hal yang dibahas serta dihasilkan pada selesai persidangan. Untuk lebih jelasnya simak yang dibawah ini.

Hasil Sidang PPKI Kedua Tanggal 19 Agustus 1945

1) Dibaginya wilayah Indonesia menjadi 8 provinsi mencakup wilayah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Setiap provinsi dipimpin oleh seorang Gubernur yang segaligus telah ditetapkan juga pada sidang kedua ini.
Berikut di bawah ini rincian setiap wilayah provinsi dan gubernur yang ditetapkan sebagai pemimpinnya.

1. Sumatra dengan Teuku Mohammad Hassan sebagai gubernurnya.
2. Jawa Barat dengan Sutarjo Kartohadikusumo sebagai gubernurnya.
3. Jawa Tengah dengan R. Panji Suroso sebagai gubernurnya.
4. Jawa Timur dengan R.A Suryo sebagai gubernurnya .
5. Sunda Kecil dengan Mr. I Gusti Ketut Puja Suroso sebagai gubernurnya.
6. Maluku dengan Mr. J. Latuharhary sebagai gubernurnya.
7. Sulawesi dengan Dr.G.S.S.J. Ratulangi  sebagai gubernurnya.
8. Kalimantan dengan Ir. Pangeran Mohammad Nor sebagai gubernurnya.

2) Pembentukan Komite Nasional (daerah).
3) Menetapkan 12  Kementrian Kabinet Dalam Lingkungan Pemerintahan.
       Pada sidang PPKI yang Kedua ini juga telah disepakati pembentukan 12 kementrian sebagai berikut.
1. Departemen dalam negeri  : RRA Wiranata Kusumah
2. Departemen luar negeri  : Mr. Achmad Soebardjo
3. Departemen kehakiman  : Prof. Dr. Mr Soepomo
4. Departemen pengajaran : Ki Hajar Dewantoro
5. Departemen pekerjaan umum  : Abukusno Cokrosuyoso
6. Departemen perhubungan  : Abikusno Comrisuyoso
7. Departemen keuangan  : AA maramis
8. Departemen Kemakmuran  : Ir. Surachman
9. Departemen kesehatan  : dr. Buntaran Martoatmojo
10. Departemen sosial : Mr. Iwa Kusuma Sumantri
11. Departemen keamanan rakyat  : Supriyadi
12. Departemen Penerangan  : Mr. Amir syamsudin

Setelah memilih pembentukan ke-12 kementrian rapat dilanjutkan dengan kembali membahas duduk perkara kebangsaan. Sebagai Berikut.

• Panitia kecil yang dipimpin oleh Otto Iskandardinata memasukan urusan kepolisian kedalam Departemen Dalam Negeri.
• Presiden Ir.Soekarno menunjuk Otto Iskandardinata, Abdul Kadir, dan Kasman Singodimejo untuk mempersiapkan pembentukan tentara kebangsaan dan kepolisian negara.
Ketika presiden dan wakil presiden akan pulang seusai rapat selesai pukul 14.55 WIB para cowok meminta keduanya untuk menghadiri rapat yang diadakan golongan muda yang akan dilaksanakan di Jalan Prapatan No. 10 . Permintaan tersebut lantas disetujui oleh presiden dan wakil presiden bantu-membantu Ki Hajar Dewantara dan Mr. Kasman. Dalam pertemuan tersebut golongan cowok meminta biar secepatnya presiden dan wakil presiden melaksanakan perebutan kekuasan dari Jepang yang dilakukan secara serentak. Presiden menangggapi hal tersebut dan menyampaikan apa yang golongan muda kehendaki tidak sanggup dilakukan dengan cara yang tergesa-gesa . Selanjutnya Adam Malik membacakan pernyataan perihal lahirnya Tentara Republik Indonesia  yang berasal dari bekas tentara Peta dan Heiho, ususlan tersebut disetujui oleh presiden namun untuk pelaksanaannya belum sanggup dilakukan ketika itu, hal tersebut pula yang menutup rapat ini.

Artikel terkait:Peristiwa Rengasdengklok Latar Belakang, Tujuan Kronologis Lengkapnya

Pada malam harinya presiden, wakil presiden serta para pemimpin lainnya mengadakan rapat di Jalan Gambir Selatan (sekarang Merdeka Selatan) No.10 untuk membahas tokoh-tokoh yang akan dicalonkan sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Sidang Ketiga PPKI Tanggal 22 Agustus 1945
PPKI kembali mengadakan rapat ketiganya pada tanggal 22Agustus 1945 dengan hasil sebagai berikut.

Hasil Sidang PPKI Ketiga Tanggal 22 Agustus 1945
Pada sidang yang ketiga ini PPKI mempunyai aktivitas utama yaitu membicarakan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

  • Pembentukan Komite Nasional

Pada tanggal 29 Agustus 1945 137 orang anggota KNIP secara resmi dilantik di Gedung Kesenian Pasar Baru, Jakarta.  KNIP terdiri dari golongan muda dan masyarakat dari banyak sekali kawasan serta anggota PPKI sebagai intinya. Dalam sidang pertama KNIP berhasil menunjuk Kasman singodimejo sebagai ketua dan M. Sutarjo sebagai wakil ketua pertama, Latuharhary sebagai wakil ketua kedua, dan Adam malik sebagai wakil ketua ketiga.

  • Pembentukan PNI

PNI diketuai oleh Ir.Soekarno. Pembentukan PNI pada awalnya ditujukan sebagai satu-satunya partai diIndonesia dengan tujuan yang menyerupai disebutkan dalam risalah sidang PPKU yaitu mewujudkan negara Republik Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur menurut kedaulatan rakyat. Namun dalam perkembangannya muncul maklumat pada tanggal 31 Agustus 1945 yang berisikan penundaan segala kegiatan yang dilakukan PNI yang balasannya dilimpahkan kepada KNIP. Sejak ketika itu gagasan yang hanya ada satu partai di Indonesia tidak pernah lagi dimunculkan.

  • Pembentukan BKR ( Badan Keamanan Rakyat)

PPKI menetapkan beberapa hal sehubungan dengan dibentuknya BKR sebagai berikut.
1)Pembubaran Peta di wilayah Jawa dan Bali serta Laskar Rakyat yang berada di Sumatra.
2)Pemberhentian anggota heiho.
3)Pembentukan tentara kebangsaan Indonesia harus dilakukan segera demi kedaulatan negara Republik Indonesia.
4)Penolakan planning pembelaan yang direncanakan BPUPKI yang dinilai sanggup memicu politik peperangan lantaran Indonesia sendiri menjalankan politik perdamaian.

Sekian pembahasan kita kali ini perihal hasil sidang PPKI 1, 2, 3 ( tanggal 18, 19, 22 Agustus 1945) Semoga bermanfaat.

Penjajahan Belanda Di Indonesia, Latar Belakang, Sejarah, Dan Akibat

Penjajahan Belanda Di Indonesia (Latar Belakang, Sejarah, dan Akibat) - Penjajahan belanda terhadap indonesia yaitu insiden yang selamanya akan tetap menjadi sejarah dan tentunya tidak akan pernah dilupakan oleh rakyat indonesia. Selama 350 tahun lamanya bangsa indonesia dijajah oleh belanda. Masa penjajahan yaitu masa-masa yang sulit untuk rakyat Indonesia lantaran mengakibatkan kesengsaraan bagi bangsa Indonesia. Penjajahan yang dilakukan tentunya mempunyai latar belakang tertentu

Latar Belakang Kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia

Pada tahun 1956 empat buah kapal yang dipimpin oleh kapten yang berjulukan pieter keyzer dan cornelis de houtman hingga dan berlabuh di pelabuhan Banten sehabis menempuh perjalanan satu tahun lamanya menandai awal mula kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia. Karena sifat berangasan dan besar kepala yang dimiliki cornelis de houtman alhasil kedatangan belanda ke pelabuhan banten tidak mendapat sambutan yang baik. Berselang dua tahun berbekal dari pengalaman belanda mencoba tiba kembali ke indonesia, di bawah pimpinan Jacob Van Neck kedatangan belanda kali ini mendapat sambutan baik dari penguasa banten. Latar belakang dan tujuan awal kedatangan Belanda yaitu untuk berdagang rempah-rempah. Karena belanda merasa telah mendapat laba yang besar dari berdagang rempah-rempah di Indonesia, alhasil Belanda tetapkan untuk melaksanakan monopoli perdagangan dan ini menadai awal penjajahan belanda di Indonesia.

Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia

Sejarah Pembentukan dan Pembubaran VOC

Pada tanggal 20 Maret 1602 Belanda mendirikan organisasi atau perusahaan dagang berjulukan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) di wilayah asia. lantaran letak yang strategis belanda menentukan Batavia (jakarta) untuk dijadikan markas VOC.
 Penjajahan belanda terhadap indonesia yaitu insiden yang selamanya akan tetap menjadi  Penjajahan Belanda Di Indonesia, Latar Belakang, Sejarah, dan Akibat

Tujuan didirikannya VOC antara lain adalah:

  1. Bertujuan menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia beserta dengan pelabuhan dan jalur perdagangan.
  2. Melakukan monopoli perdagangan
  3. Mendominasi persaingan perdagangan dengan negara Eropa lainnya

Monopoli perdagangan oleh VOC dilakukan dengan paksa dan cara kekerasan kepada para penduduk Indonesia yang tinggal di tempat penghasil rempah-rempah. Tidak hanya melaksanakan kekerasan namun VOC juga mengancam penduduk lokal penghasil rempah-rempah kalau berani berdagang dengan negara lain selain belanda. Sistem perbudakan pun mulai diimplementasikan sehabis belanda merasa monopoli perdagangannya sukses dan membawa laba melimpah. Akhirnya, Belanda memerintahkan budak-budak dan pekerja dibawah VOC untuk menghasilkan tanaman rempah dan biji-bijian sesuai dengan harapan belanda. Karena ulah yang ditimbulkan VOC alhasil mereka harus berperang melawan kerajaan-kerajaan di nusantara menyerupai pola Mataram dan Banten.

Baca Juga : Hasil Rapat PPKI 1, 2 dan 3

Setelah tahun 1799, VOC mengalami kebangkrutan dan alhasil terpaksa dibubarkan. Berikut yaitu alasan pembubaran VOC:

  1. Terjadinya korupsi di kalangan pegawai VOC.
  2. Pegawai yang tidak cakap dalam melaksanakan monopoli perdagangan.
  3. Hutang yang disebabkan oleh peperangan melawan Bangsa Indonesia dan Negara lain.
  4. VOC banyak mengalami kekalahan dalam perang.
  5. Prajurit VOC banyak yang tewas dalam peperangan.
  6. Sistem pajak untuk mengisi kas VOC tidak berjalan.

Itulah banyak sekali alasan dibubarkannya VOC dan menandai simpulan dari monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda lewat VOC.

Berdirinya Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia

Herman Willem Daendels yaitu gubernur belanda yang ditugaskan untuk memerintah dan mengatur Indonesia. Daendels ditugaskan oleh raja belanda untuk mengatur Indonesia, memepertahankan Indonesia dari serangan kerajaan Inggris dan mengatur keungan. Daendels dikenal sebagai gurbernuur bertangan besi, Sebutan ini memang sangat sesuai lantaran dibawah pemerintahan Daendels bangsa Indonesia mengalami penderitaan yang sangat besar. Karena tertangkap tangan melanggar Undang-Undang yang mengatur penjualan tanah milik Negara secara Ilegal Daendels pun ditarik dari jabatannya.

Setelah masa Daendels berakhir maka digantikan oleh jendral Janssens hingga alhasil pemerintahan indonesia jatuh ke tangan Van Den Bosch yang menerapkan sistem tanam paksa dan mengakibatkan kemiskinan, kelaparan dan kesengsaraan bangsa Indonesia semakin bertambah. Disisi lain belanda sangat diuntungkan dengan sistem tanam paksa lantaran mendapat kekayaan yang sanggup dipakai untuk mengisi kas Belanda.

Disaat sistem tanam paksa (RODI) diberhentikan munculah sistem pintu terbuka yang memperbolehkan pihak lain untuk menanamkan modal. Tidak jauh berbeda dalam menawarkan efek sengsara kepada bangsa indonesia, hal ini memicu perlawanan dari bangsa Indonesia yang berasal dari banyak sekali penjuru tempat menyerupai perang Bali, perang Diponegoro, perang Paderi, perang Aceh, perang Banjar, Gerakan Protes Petani, dan lain sebagainya.

Berakhirnya Masa Penjajahan Hindia Belanda di Indonesia

Berakhirnya pemerintahan belanda ditandai dengan penyerangan tentara jepang di Indonesia. Pada tanggal 27 Februari 1942 tentara Jepang berhasil mengalahkan armada adonan dari Negara Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia. Di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura tentara Jepang mulai menguasai Pulau Jawa. Disanalah belanda dikalahkan oleh tentara jepang dan pada alhasil sehabis Belanda mengalami kekalahan terus menerus dari pihak Jepang, Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer mengalah dan ditangkap. Dan ini pertanda awal mula penjajahan jepang di Indonesia

Demikian Informasi yang sanggup saya sampaikan ihwal penjajahan belanda diindonesia.