Showing posts with label Virus. Show all posts
Showing posts with label Virus. Show all posts

Wednesday, August 14, 2019

Kuman Listeria

Bakteri Listeria. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, dr. H. M. Subuh, MPPM, berikut Bakteri Listeria monocytogenes (L. monocytogenes) diklasifikasikan sebagai basil gram-positif, dan bergerak memakai flagella. Penelitian menunjukkan bahwa 1-10% insan mungkin mempunyai L. monocytogenes  di dalam ususnya. Bakteri ini juga telah ditemukan pada setidaknya 37 spesies mamalia, baik binatang piaraan maupun binatang liar, serta pada setidaknya 17 spesies burung, dan mungkin pada beberapa spesies ikan dan kerang.

 Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI  Bakteri Listeria

Bakteri ini terdistribusi luas dilingkungan, sanggup ditemukan di tanah, pakan ternak yang dibentuk dari daun-daunan hijau yang diawetkan dengan fermentasi (silage), dan sumber-sumber alami lainnya ibarat feses ternak, jelas dr. Subuh.

Baca Juga Virus Zika

Sebagai basil yang tidak membentuk spora, L. monocytogenes sangat kuat dan tahan terhadap panas, asam, dan garam. Bakteri ini juga tahan pembekuan dan sanggup tetap tumbuh pada suhu 4oC, khususnya pada masakan yang disimpan di lemari pendingin. Bakteri L. monocytogenes juga membentuk biofilm, yakni terbentuknya lapisan lendir pada permukaan makanan.

Listeria monocytogenes yaitu suatu basil yang sanggup mengakibatkan abses serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia, serta orang dengan sistem kekebalan badan yang lemah. Orang sehat juga sanggup terinfeksi basil Listeria, dengan tanda-tanda jangka pendek yang muncul ibarat demam tinggi, sakit kepala parah, pegal, mual, sakit perut dan diare. Listeriosis merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh basil L. monocytogenes. Infeksi Listeria sanggup mengakibatkan keguguran pada perempuan hamil, ujar dr. Subuh. monocytogenes merupakan salah satu penyebab penyakit yang serius dengan tingkat kematian  sekitar 20-30 persen. Tingkat maut di antara bayi yang gres lahir yang terinfeksi L. monocytogenes yaitu 25-50 persen.

Baca Juga Virus MERS

Di Spanyol, masalah listeriosis pada insan jarang terjadi, sekitar 1 masalah per 100.000 penduduk. Tahun 1981 di Kanada, pernah terjadi wabah listeriosis yang mengakibatkan maut beberapa domba akhir memakan kubis yang terkotori L. monocytogenes. Dua tahun kemudian, lebih kurang 14 orang meninggal dunia dari sejumlah 49 orang yang dirawat di rumah sakit di Massachusetts dengan tanda-tanda klinis berupa septikemia dan meningitis lantaran mengkonsumsi susu pasteurisasi yang terkontaminasi. Tahun 1985, terjadi wabah listeriosis di Los Angeles dan California. Dilaporkan sejumlah 29 orang meninggal akhir mengkonsumsi keju yang terkontaminasi. Selanjutnya, antara tahun 1991-2002 di Eropa juga pernah dilaporkan 19 masalah listeriosis invasif. Kasus Listeriosis juga dilaporkan 9 negara lainnya  dengan  total  wabah  listeriosis  sebanyak  526 kasus. Sejak    tahun 1998, Perancis telah menyebarkan sistem untuk melakukan acara monitoring listeriosis pada insan dan dilakukan pemeriksaan pada sumber foodborne listeriosis.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa telah terjadi sekitar 1600 masalah dengan 260 maut lantaran listeriosis setiap tahunnya di Amerika Serikat. Data tahun 2013 menyebutkan bahwa rata-rata insiden listeriosis di Amerika Serikat setiap tahunnya yaitu 0,26 masalah per 100.000 penduduk. Trend insiden listeriosis dibandingkan dengan 1996-1998, insiden listeriosis telah menurun sekitar 42% tahun 2012. Wabah listeriosis terbesar dalam sejarah AS terjadi pada tahun 2011, ketika terjadi 147 penyakit, 33 kematian, dan 1 keguguran pada penduduk di 28 negara potongan yang mana wabah dikaitkan dengan konsumsi blewah dari sebuah pertanian.

Gejala Listeriosis Gejala Listeriosis sanggup muncul kapan saja antara 3-70 hari pasca abses basil Listeria, rata-rata biasanya sekitar 21 hari. Gejala umumnya, yaitu demam, nyeri otot, disertai mual atau diare (kurang umum). Jika abses menyebar ke sistem saraf sentra (SSP), tanda-tanda sanggup meliputi sakit kepala, kaku pada leher, bingung, kehilangan keseimbangan, dan terkadang mengalami kejang.

Bagi mereka yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah, basil Listeria sanggup menyerang sistem saraf sentra dan mengakibatkan meningitis atau abses otak, tutur dr. Subuh. Pada perempuan hamil yang terinfeksi, muncul tanda-tanda ibarat flu ringan. Namun, abses selama kehamilan sanggup mengakibatkan keguguran, abses pada bayi yang gres lahir, atau bayi lahir mati. Gejala juga biasanya muncul pada bayi gres lahir di ahad pertama kehidupan, tetapi juga sanggup terjadi di lalu hari. Gejala pada bayi gres lahir sering tidak terlihat, namun sanggup berupa tanda ibarat lekas marah, demam, dan tidak mau makan.

Sumber penularan L. monocytogenes sanggup terjadi pada beberapa aspek mulai dari pemilihan makanan, pengolahan, sampai penyajian. Pada pemilihan masakan penularan biasanya terjadi pada produk ibarat susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, keju (terutama jenis keju yang dimatangkan secara lunak), es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah dan yang sudah dimasak, semua jenis daging mentah, dan ikan mentah atau ikan asap. Pada ketika pengolahan makanan, juga sanggup terjadi penularan jikalau memakai alat masak yang telah terkotori L. monocytogenes.

Selain itu, bayi sanggup lahir dengan Listeria jikalau ibu hamil memakan masakan yang terkotori basil selama kehamilan, ujar dr. Subuh. Populasi yang rentan terinfeksi listeriosis, yaitu perempuan hamil atau janin dalam kandungan; abses perinatal yaitu sesaat sebelum dan setelah kelahiran; neonatal yaitu setelah kelahiran; orang yang system kekebalannya lemah lantaran perawatan dengan corticosteroid (salah satu jenis hormon), obat-obat anti kanker, graft suppression therapy (perawatan setelah pencangkokan potongan tubuh, dengan obat-obat yang menekan sistem kekebalan tubuh); orang dengan HIV-AIDS (ODHA); pasien kanker, terutama pasien leukemia; serta beberapa dilaporkan meskipun jarang pada pasien penderita diabetes, pengecilan hati (cirrhotic), asma, dan radang kronis pada usus besar (ulcerative colitis); orang-orang renta (status imun mulai menurun); beberapa laporan menunjukkan bahwa orang normal yang sehat juga sanggup menjadi rentan, walaupun penggunaan antasida atau cimetidine mungkin berpengaruh.

Kasus listeriosis yang pernah terjadi di Swiss, yang melibatkan keju, menunjukkan bahwa orang sehat sanggup terjangkit penyakit ini, terutama bila masakan terkotori organisme ini dalam jumlah besar, imbuh dr. Subuh.

Diagnosis dan Pencegahan Listeriosis hanya sanggup didiagnosis secara niscaya dengan cara membiakkan organisme ini dari darah, cairan cerebrospinal yaitu cairan otak dan sumsum tulang belakang, atau kotoran (sulit dilakukan dan terbatas kegunaannya). Untuk pencegahan, ada beberapa langkah pencegahan biar terhindar dari abses basil Listeria, yaitu:
  1. Bilas materi mentah dengan air mengalir, ibarat buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak. Bahkan jikalau hasil tersebut sudah dikupas, tetap harus dicuci terlebih dahulu;
  2. Menggosok produk hasil pertanian, ibarat melon dan mentimun, dengan memakai sikat higienis sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain higienis atau kertas;
  3. Pisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, masakan matang, dan masakan siap-saji;
  4. Cuci peralatan masak, berupa alat atau ganjal pemotong, yang telah dipakai untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum dipakai pada produk masakan lainnya; serta
  5. Cuci tangan memakai sabun sebelum mengolah makanan, dan ketika akan makan.
Pencegahan secara total mungkin tidak sanggup dilakukan, namun masakan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya kondusif dikonsumsi lantaran basil ini akan mati pada temperatur 75C,

Sumber:
http://www.depkes.go.id

Tuesday, August 13, 2019

Virus Mers

Virus MERS. Virus ini pertama kali muncul kepublik pada tahun 2012 tepatnya di Timur Tengah,. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, MERS (Middle East Respiratory Syndrome) tingkat kematiannya sangat tinggi, yaitu sekitar 38 persen. MERS disebabkan oleh nanah virus Corona, dari salah satu jenis virus yang masih ada hubungannya dengan virus penyebab SARS. Virus ini merupakan virus jenis gres dari kelompok Coronavirus (Novel Corona Virus). 

 Virus ini pertama kali muncul kepublik pada tahun   Virus MERS

Sampai Saat ini penyebaran virus ini masih belum diketahui Dengan jelas. Berdasarkan beberapa penelitian yang menyatakan penyebaran virus ini berasal dari salah satu jenis Kelelawar yang banyak ditemukan di daerah Timur Tengah. dengan adanya kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar dengan yang menginfeksi manusi. Berdasarkan penelitian lain tidak hanya kelelawar yang membawa virus ini alasannya ialah ditemukan juga pada unta yang merupakan binatang khas timur tengah.

Dalam Cara Penyebaran virus ini melalui binatang ke insan masih dalam tahap penelitian. Walupun ada dugaan kalau insan pertama yang terinfeksi kemungkinan pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering Kelelawar yang terinfeksi. Ada anggapan bahwa penularan virus ini kemungkinan disebabkan melalui percikan dahak (droplet) pada dikala pasien batuk atau bersin. dan melalui kontak dengan benda yang terkotori virus.

Gejala-Gejala MERS ialah demam, dan batuk parah yang sanggup mengakibatkan pneumonia dan gagal ginjal. Karena itu, gejalanya pun tak jauh berbeda dengan penyakit SARS, yang sanggup mengakibatkan pada kematian. Karena masih tergolong sebagai penyakit baru, belum ada vaksin khusus yang sanggup mencegah terjadinya penyakit ini. 

Karena belum ditemukannya Vaksin yang sanggup mengobati atau mencegah penyebaran virus ini maka hal perlu diperhatikan dalam melaksanakan pencegahan ialah dengan, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun antikuman dan menghindari kontak dengan seorang pengidap MERS. Jagalah kebugaran tubuh dengan asupan nutrisi dan istirahat yang cukup. gunakanlah masker dan jaga sanitasi tubuh dan lingkungan tempat Anda tinggal.

Sumber:
http://www.liputan6.com/search?q=mers

Monday, July 29, 2019

Pengertian Rubella Dan Tanda-Tanda Serta Pencegahannya

Pengertian Rubella dan Gejala Serta Pencegahannya. Apa itu rubella. Gejala rubella biasanya perlu waktu sekitar dua ahad untuk berkembang dan orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah terkena penyakit ini. Selama waktu ini, mereka mungkin membuatkan penyakit ini kepada orang lain termasuk perempuan yang hamil muda yang tidak mempunyai kekebalan. Usia kehamilan muda yaitu masa ketika bayi yang belum lahir itu mempunyai risiko paling tinggi. Berikut klarifikasi seputar pengertian rubella Serta Gejala Dan Pencegahannya.

Pengertian Rubella dan Gejala Serta Pencegahannya Pengertian Rubella dan Gejala Serta Pencegahannya


Definisi Rubella

Penyakit Rubella yaitu suatu penyakit yang menyerupai dengan Campak yang juga ditularkan melalui susukan pernapasan ketika batuk atau bersin. Seperti juga Campak, Rubella disebabkan oleh virus. Virus Rubella cepat mati oleh sinar ultra violet, materi kimia, materi asam dan pemanasan. Rubella pada anak sering hanya menimbulkan tanda-tanda demam ringan atau bahkan tanpa tanda-tanda sehingga sering tidak terlaporkan, sedangkan Rubella pada perempuan remaja sering menimbulkan sakit sendi (arthritis atau arthralgia). Rubella pada perempuan hamil terutama pada kehamilan trimester pertama sanggup menimbulkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat bawaan yang disebut congenital rubella syndrome (CRS). 

Rubella yaitu penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan remaja muda yang rentan. Tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat yaitu pengaruh kepada janin (teratogenik) apabila Rubella ini menyerang perempuan hamil pada trimester pertama. Infeksi Rubella yang terjadi sebelum terjadinya pembuahan dan selama awal kehamilan sanggup menimbulkan keguguran, ajal janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan. CRS umumnya bermanifestasi sebagai Penyakit Jantung Bawaan, Katarak Mata, bintik-bintik kemerahan (Purpura), Microcephaly (Kepala Kecil) dan Tuli.

Menurut wikipedia. Rubela atau dikenal juga dengan nama Campak Jerman yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Rubella. Virus biasanya menginfeksi badan melalui pernapasan menyerupai hidung dan tenggorokan. Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Virus ini menular lewat udara. Rubela juga biasanya ditularkan oleh ibu kepada bayinya, makanya disarankan untuk melaksanakan tes Rubela sebelum hamil. Bayi yang terkena virus Rubela selama di dalam kandungan beresiko cacat. 

Gejala Rubella

  1. Pembengkakan pada kelenjar getah bening.
  2. Demam di atas 38 derajat Celsius.
  3. Mata terasa nyeri.
  4. Muncul bintik-bintik merah di seluruh tubuh.
  5. Kulit kering.
  6. Sakit pada persendian.
  7. Sakit kepala.
  8. Hilang nafsu makan.
  9. Wajah pucat dan lemas.
  10. Terkadang disertai dengan pilek

Pencegahan Rubella

Imunisasi MMR pada usia 12 bulan dan 4 tahun. Vaksin rubella merupakan belahan dari imunisasi rutin pada masa kanak=-kanak. Vaksin MMR diberikan pada usia 12-15 bulan, takaran kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. 

Wanita usia subur sanggup menjalani investigasi serologi untuk rubella. Jika tidak mempunyai antibodi, diberikan imunisasi dan gres boleh hamil 3 bulan sehabis penyuntikan. Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika ibu sedang hamil atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akhir kanker, terapi kortikosteroid maupun terapi penyinaran. 

Referensi
Wikipedia.org

Saturday, July 27, 2019

Pengertian Cacar Simpanse Serta Gejalanya

Pengertian Cacar Monyet Serta Gejalanya. Cacar monyet ialah merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh virus, dan ditularkan pada insan melalui hewan, terutama di tempat Afrika Tengah dan Barat. Umumnya penularan diakibatkan oleh kontak dengan binatang terinfeksi, ibarat tikus atau binatang pengerat lain.

 Cacar monyet ialah merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh virus Pengertian Cacar Monyet Serta Gejalanya

Gejala Cacar Monyet

Penyakit ini dikenal dengan nama ilmiah impetigo bulosa, atau ada pula yang menamakan impetigo vesikulo-bulosa. Cacar monyet ini disebabkan oleh kuman Staphylococcus aureus. Secara klinis, penderita tidak mengalami demam ataupun tanda-tanda umum ibarat pada cacar air ataupun herpes zoster. 

Gejala yang didapatkan ialah adanya gelembung yang munculnya terutama di ketiak, dada, dan punggung. Gelembung yang muncul ini gampang pecah dan jumlahnya tidak begitu banyak, namun kerap kali disertai pula oleh miliaria (biang keringat). Penyakit ini memang tidaklah seberat penyakit lainnya, lantaran terbatas pada lapisan kulit saja. Namun tentunya tidak berarti tidak perlu diobati. Apalagi lantaran yang menjadi penyebab ialah bakteri, yang untuk memusnahkannya diharapkan obat antibiotika yang dioleskan pada tempat yang terkena. Ada yang mengatakan, penyakit ini disebut cacar monyet, lantaran kelainan yang tampak di kulit memang bagi orang awam sedikit banyak ibarat dengan penyakit cacar.

Penyebab Cacar Monyet

Penularan sanggup terjadi pada bangsal rumah sakit dan ruang perawatan anak, serta sanggup ditularkan antar orang. Banyak juga terjadi melalui olahraga dengan kontak fisik. Oleh lantaran itu, disarankan supaya pasien sanggup membatasi sebanyak kontak dengan orang lain untuk membatasi penularan infeksi.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa penularan pada insan ini sangatlah terbatas. Transmisi melalui partikel cairan pernapasan membutuhkan kontak antarmuka jangka panjang sehingga penyakit ini biasanya hanya menular kepada anggota keluarga.
.

Pengertian Hepatitis B Serta Pencegahannya

Pengertian Hepatitis B Serta Pencegahannya- Infeksi virus Hepatitis B merupakan duduk kasus kesehatan masyarakat yang sangat serius ketika ini. Hepatitis yang disebabkan oleh nanah virus menjadikan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak sanggup berfungsi sebagaimana mestinya. Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan sanggup berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Saat ini ada beberapa perawatan yang sanggup dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang sanggup meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral menyerupai lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal menyerupai Interferon Alfa ( Uniferon).

Pengertian Hepatitis B Serta Pencegahannya Pengertian Hepatitis B Serta Pencegahannya

Sedangkan pengobatan tradisional yang sanggup dilakukan dengan memakai Tumbuhan obat atau herbal yang sanggup mencegah dan membantu pengobatan. Beberapa jenis flora obat yang sanggup dipakai untuk pengobatan Hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale). Selain itu juga ada pengobatan alternatif lain menyerupai hijamah/bekam yang sanggup menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.

Definisi Hepatitis B

Hepatitis B yaitu merupakan suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B,suatu anggota family hepadna virus yang sanggup menjadikan peradangan hati akut atau kronis yang sanggup berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Hepatitis B akut kalau perjalanan penyakit kurang dari 6 bulan sedangkan Hepatitis B kronis bila penyakit menetap, tidak menyembuh secara klinis atau laboratorium atau pada citra patologi anatomi selama 6 bulan (Mustofa &Kurniawaty, 2013).

Dikutip dari wikipedia. Hepatitis B yaitu suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang sanggup menjadikan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus sanggup berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Virus ini tidak menyebar melalui makanan atau kontak biasa, tetapi sanggup menyebar melalui darah atau cairan badan dari penderita yang terinfeksi. Seorang bayi sanggup terinfeksi dari ibunya selama proses kelahirannya. Juga sanggup menyebar melalui aktivitas seksual, penggunaan berulang jarum suntik, dan transfusi darah dengan virus di dalamnya.

Kelompok Individu Yang Berisiko Terkena Hepatitis B

  1. Penghuni institusi yang bersifat tertutup menyerupai penjara.
  2. Pecandu Narkotika (terutama yang memakai jarum suntik).
  3. Staf dan penderita unit dialis, petugas kesehatan yang sering berafiliasi dengan darah atau produk yang berasal dari darah.
  4. Penderita yang sering menerima transfusi darah.
  5. Individu yang sering berganti pasangan baik heteroseksual maupun homoseksual.
  6. Suami/istri atau anggota keluarga penderita nanah HBV kronik.
  7. Bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan HbsAg positif.
  8. Individu yang tinggal di kawasan dengan prevalensi nanah HBV tinggi.
  9. Populasi dari golongan sosial ekonomi rendah yang tinggal di kawasan overcrowded dan hygiene kurang walaupun prevalensi HBV rendah.

Terdapat kelompok individu yang gampang terkena nanah HBV dan bila terinfeksi cenderung untuk menetap, yaitu :
  1. Penderita sindrom down.
  2. Penderita dengan hemodialisis kronik.
  3. Bayi dan belum dewasa kecil di kawasan endemik.

Pencegahan Hepatitis B

Vaksin untuk mencegah hepatitis B telah rutin direkomendasikan diberikan pada bayi semenjak 1991 di Amerika Serikat. Kebanyakan vaksin diberikan dalam 3 takaran selama beberapa bulan. Timbalan pada vaksin dinyatakan sebagai konsentrasi antibodi anti-HBs sekurang-kurangnya 10 mIU/ml pada serum badan tervaksinasi. Vaksin lebih efektif diberikan pada belum dewasa dan 95 persennya mempunyai antibodi perlawanan tersebut. Antibodi tersebut turun menjadi 90% pada usia 40 tahun dan menjadi sekitar 75 persen bagi mereka yang telah berusia 60 tahun. Proteksi vaksinasi bersifat jangka panjang, bahkan sesuadah antibodi turun di bawah 10 mIU/ml. Vaksinasi pada ketika kelahiran direkomendasikan untuk semua bayi dengan ibu yang terinfeksi. Kombinasi dari hepatitis B immune globulin dan pemberian awal dari vaksin hepatitis B mencegah penularan hepatitis B pada ketika kelahiran sebesar 86% sampai 99%.

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Hepatitis_B

Friday, August 24, 2018

Virus Zika

Virus Zika. Virus Zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus belahan dari virus RNA. Pertama kali diisolasi tahun 1948 dari simpanse di Hutan Zika Uganda, kemungkinan Nama Virus Zika sendiri diambil dari nama hutan daerah dimana virus ini berhasil diisolasi. Kemudian beberapa negara Afrika, Asia khususnya Asia tenggara, Mikronesia, Amerika Latin, Karibia melaporkan inovasi virus Zika ini.

 Virus Zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus belahan dari virus RNA  Virus Zika

Proses Penularan Virus Zika

Proses Penularan virus ini sama ibarat virus demam berdarah yakni oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue yang mengakibatkan penyakit demam berdarah.

Baca Juga Virus MERS

Gejala-Gejala Terkena Virus Zika

Gejala-Gejala Terkena Virus Zika sama Seperti bisul virus pada umumnya yang awalnya pasien akan mencicipi demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot dan sendi, termasuk flu, radang mata. Selain itu Virus tersebut diduga sanggup mengakibatkan kelainan microchepaly atau kelainan otak pada bayi tersebut sekarang mengundang perhatian. Bahkan dalam beberapa kasus, virus itu sanggup mengakibatkan komplikasi, ibarat sindrom Guillain-Barre, yang mengakibatkan kelumpuhan saraf otak.

Baca Juga Bakteri Listeria

Cara Mencegah Penularan Virus Zika

Cara Mencegah Penularan Virus Zika Adalah dengan melaksanakan gerakan hidup higienis yang caranya  sama ibarat pencegahan bisul demam berdarah yakni pemberantasan sarang nyamuk. dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk temukan jentik dan soasialisakan 3 M Mengubur,Mengurus dan Menutup.

Sampai Saat ini vaksin untuk virus zika masih belum ditemukan. Maka dalam Pengobatan lebih banyak bersifat suportif dengan istirahat cukup, banyak minum air, apabila mengalami demam minumlah obat penurun panas dan yang paling penting mengonsumsi makanan yang bergizi.

Dikutip Dari Berbagai Sumber

Sunday, July 15, 2018

Pengertian Difteri Serta Tanda-Tanda Dan Cara Mengobatinya

Pengertian Difteri Serta Gejala Dan Cara Mengobatinya. Difteri disebabkan Corynebacterium diphteriae, yang merupakan kuman gram positif yang bersifat polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Berikut yaitu klarifikasi seputar pengertian Difteri, Gejala Difteri serta Pencegahan Dan Cara Mengobatinya.

Pengertian Difteri Serta Gejala Dan Cara Mengobatinya Pengertian Difteri Serta Gejala Dan Cara Mengobatinya

Definisi Difteri

Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa diafteri yaitu merupakan penyakit menular akhir kuman Corynebacterium Diptheriae yang gampang sekali menular melalui batuk atau bersin. "Ini karenakan kuman tersebut paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi terusan nafas,".

Secara umum Pengertian Difteri merupakan penyakit menular disebabkan kuman Corynebacterium Diptheriae dan menyerang faring, laring atau tonsil. Disebabkan oleh Bakteri penyebab difteri mengeluarkan racun yang menimbulkan kelumpuhan susunan syaraf tepi dan pusat, serta gagal ginjal. Kematian sanggup terjadi lantaran sumbatan jalan nafas, akhir lapisan tebal di tenggorokan.

Gejala Difteri

  1. Difteri hidung. Menyerupai common cold, gejalanya menyerupai pilek ringan dan disertai tanda-tanda sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinus dan kemudian makropulen menimbulkan lecet pada nares dan bibir atas. Pada investigasi tampak membrane putih pada kawasan septum nasi. Absorbs sangat lambat dan tanda-tanda sistemik yang timbul tidak konkret sehingga usang terdiagnosis.
  2. Difteri faring. Anoreksia, malaise, demam ringan dan nyeri telan. Dalam 1-2 hari berikutnya akan timbul membrane yang menempel berwarna putih/kelabu sanggup menutupi tonsil dan dinding faring meluas ke uvula dan palatum molle atau ke bawah laring trakea. Dapat terjadi limfadenitis servikalis dan submandibular, jika limfadentid terjadi bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas, maka akan timbul bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas, maka akan timbul bullneck. Selanjutnya tanda-tanda tergantung pada derajat penetrasi toksin dan luas membrane. Pada kasus berat sanggup terjadi kegagalan pernapasan atau sirkulasi. Stupor, koma, janjkematian sanggup terjadi dalam 1 ahad hingga 10 hari.
  3. Difteri laring, Biasanya merupakan ekspansi dari difteri faring. Pada difteri laring primer tanda-tanda toksik kurang nyata. Gejala klinis difteri laring sulit dibedakan dari tipe infectious croups yang lain, menyerupai nafas berbunyi, stridor yang progresif, bunyi parau dan batuk kering. Pada obstruksi laring berat terdapat retraksi suprasental, interkostal dan supraklavikular. Bila terjadi peleasan membrane yang menutup jalan napas, sanggup terjadi janjkematian mendadak.
  4. Difteri kulit, konjungtiva, dan indera pendengaran Merupakan tipe difteri yang tidak lazim unusual. Difteri kulit berupa tukak dikulit, tapi terang dan terdapat membrane pada dasarnya, kelainan cenderung menahun. Difteri pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membrane pada konjungtiva pelpebra. Pada indera pendengaran berupa otitis eksterna dengan secret purulen dan berbau.

Pencegahan Dan Cara Mengobatinya

  1. Imunisasi DPT. Pencegahan paling efektif yaitu dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis (DPT) sebanyak tiga kali semenjak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan menawarkan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul yaitu demam, nyeri dan bisul pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas . Berdasarkan aktivitas dari Departemen Kesehatan RI imunisasi perlu diulang pada dikala usia sekolah dasar yaitu bersamaan dengan tetanus yaitu DT sebanyak 1 kali. Sayangnya kekebalan hanya diperoleh selama 10 tahun sehabis imunisasi, sehingga orang bakir balig cukup akal sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap 10 tahun sekali.
  2. Penyuluhan Tentang Bahaya Difteri. Selain pinjaman imunisasi perlu juga diberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama kepada orang renta perihal ancaman dari difteri dan perlunya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak.
  3. Memperhatikan Kebutuhan Hygiene. Mencegah penyakit difteri penting pula untuk menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Penyakit menular menyerupai difteri gampang menular dalam lingkungan yang jelek dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh lantaran itulah, selain menjaga kebersihan diri, kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Di samping itu juga perlu diperhatikan makanan yang kita konsumsi. Jika kita harus membeli makanan di luar, pilihlah warung yang bersih. Jika telah terjangkit difteri, penderita sebaiknya dirawat dengan baik untuk mempercepat kesembuhan dan semoga tidak menjadi sumber penularan bagi yang lain.

Saturday, July 7, 2018

Pengertian Scabies Serta Penularan Dan Pencegahannya

Pengertian Scabies Serta Penularan dan Pencegahannya. Gejala yang khas pada kudis yaitu liang pada permukaan kulit, gatal, dan kemerahan dan biasanya ada jerawat sekunder, nah penyakit ini biasa disebut dengan Skabies yang merupakan salah satu jerawat benalu yang cukup banyak kejadiannya dan menjadi informasi penting terutama di kawasan padat penduduk. Penyakit ini sanggup menyerang segala usia dan aneka macam kalangan sosial. Beberapa penyebab tingginya angka kejadian skabies yaitu penularan yang cepat, siklus hidup Sarcoptes scabiei yang pendek, dan ketidakpatuhan pasien pada terapi.

Pengertian Scabies Serta Penularan dan Pencegahannya Pengertian Scabies Serta Penularan dan Pencegahannya

Definisi Scabies

Seperti dikutip oleh wikipedia. Kudis atau Scabies yaitu merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang dicirikan dengan adanya keropeng, kebotakan, dan kegatalan pada kulit.

Skabies yaitu penyakit kulit akhir investasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes scabei. Skabies tidak membahayakan bagi manusia. Adanya rasa gatal pada malam hari merupakan tanda-tanda utama yang mengganggu kegiatan dan produktivitas.

Penyakit scabies banyak berjangkit di:
1. Lingkungan yang padat penduduknya,
2. Lingkungan kumuh,
3. Lingkungan dengan tingkat kebersihan kurang. Skabies cenderung tinggi pada belum dewasa usia sekolah, remaja bahkan orang cukup umur (siregar, 2005)

Cara Penularan Scabies

  1. Kontak pribadi (kulit dengan kulit) Penularan skabies terutama melalui kontak pribadi menyerupai berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Pada orang cukup umur hubungan seksual merupakan hal tersering, sedangkan pada belum dewasa penularan didapat dari orang bau tanah atau temannya.
  2. Kontak tidak pribadi (melalui benda) Penularan melalui kontak tidak langsung, contohnya melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk dahulu dikatakan memiliki tugas kecil pada penularan. Namun demikian, penelitian terakhir mengatakan bahwa hal tersebut memegang peranan penting dalam penularan skabies dan dinyatakan bahwa sumber penularan utama yaitu selimut (Djuanda, 2010).

Cara Pencegahan Penyakit Skabies

  1. Mandi secara teratur dengan memakai sabun.
  2. Mencuci pakaian, sprei, sarung bantal, selimut dan lainnya secara teratur minimal 2 kali dalam seminggu.
  3. Menjemur kasur dan bantal minimal 2 ahad sekali.
  4. Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.
  5. Hindari kontak dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi tungau skabies.
  6. Menjaga kebersihan rumah dan berventilasi cukup

Bila pengobatan sudah dilakukan secara tuntas, tidak menjamin terbebas dari jerawat ulang, langkah yang sanggup diambil yaitu sebagai berikut :
  1. Cuci sisir, sikat rambut dan pemanis rambut dengan cara merendam di cairan antiseptik.
  2. Cuci semua handuk, pakaian, sprei dalam air sabun hangat dan gunakan seterika panas untuk membunuh semua telurnya, atau dicuci kering.
  3. Keringkan peci yang bersih, kerudung dan jaket.
  4. Hindari pemakaian bersama sisir, mukena atau jilbab (Depkes,2007).