Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Sunday, August 25, 2019

Pengertian Tugas Secara Umum

Para hebat menyatakan bahwa secara umum pengertian Peran ialah aspek dinamis dari kedudukan atau status. Menurut Kozier Barbaraperan ialah seperangkat tingkah laris yang diperlukan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran ialah bentuk dari sikap yang diperlukan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. Peran ialah deskripsi sosial wacana siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna saat dikaitkan dengan orang lain, komunitas sosial atau politik. Peran ialah kombinasi ialah posisi dan pengaruh.Seseorang melakukan hak dan kewajiban, berarti telah menjalankan suatu peran. kita selalu menulis kata tugas tetapi kadang kita sulit mengartikan dan definisi tugas tersebut. tugas biasa juga disandingk an dengan fungsi. Peran dan status tidak sanggup dipisahkan. Tidak ada tugas tanpa kedudukan atau status, begitu pula tidak ada status tanpa peran. Setiap orang memiliki majemuk tugas yang dijalankan dalam pergaulan hidupnya di masyarakat. Peran memilih apa yang diperbuat seseorang bagi masyarakat. Peran juga memilih kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Peran diatur oleh norma-norma yang berlaku.

Peran lebih memperlihatkan pada fungsi pembiasaan diri, dan sebagai sebuah proses. Peran yang dimiliki oleh seseorang meliputi tiga hal antara lain..

  • Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi seseorang di dalam masyarakat. Jadi, tugas di sini sanggup berarti peraturan yang membimbing seseorang dalam masyarakat.
  • Peran ialah sesuatu yang dilakukan seseorang dalam masyarakat.
  • Peran juga merupakan sikap seseorang yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

Persepsi Peran
Pandangan kita mengenai bagaimana kita seharusnya bertindak dalam situasi tertentu ialah persepsi tugas (role perception). Berdasarkan pada sebuah iterprestasi atas apa yang kita yakini mengenai bagaimana seharusnya kita berperilaku, kita terlibat dalam jenis-jenis sikap tertentu.

Ekspektasi Peran
Ekspektasi tugas (role expectation) didefinisikan sebagai apa yang diyakini orang lain mengenai bagaimana anda harus bertindak dalam suatu situasi. Bagaimana anda berperilaku sebagian besar ditentukan oleh tugas yang didefinisikan dalam konteks dimana anda bertindak.

Konflik Peran
Ketika seorang individu dihadapkan dengan ekspektasi tugas yang berlainan, kesannya ialah konflik tugas (role conflict).  Konflik ini muncul saat seorang individu menemukan bahwa untuk memenuhi syarat satu tugas sanggup membuatnya lebih sulit untuk memenuhi tugas lain.
Baca juga Tingkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Objek Pembangunan

Teori Peran Menurut Para Ahli

  • Peran berdasarkan Soekanto (2009:212-213) ialah proses dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, ia menjalankan suatu peranan. Perbedaan antara kedudukan dengan peranan ialah untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak sanggup dipisah-pisahkan alasannya ialah yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya. 
  • Sedangkan berdasarkan Merton (dalam Raho 2007 : 67) menyampaikan bahwa peranan didefinisikan sebagai tumpuan tingkah laris yang diperlukan masyarakat dari orang yang menduduki status tertentu. Sejumlah tugas disebut sebagai perangkat tugas (role-set). Dengan demikian perangkat tugas ialah kelengkapan dari hubungan-hubungan berdasarkan tugas yang dimiliki oleh orang alasannya ialah menduduki status-status social khusus.
  • Selanjutnya Menurut Dougherty & Pritchard tahun 1985 (dalam Bauer 2003: 55) teori tugas ini memperlihatkan suatu kerangka konseptual dalam studi sikap di dalam organisasi.  Mereka menyatakan bahwa tugas itu “melibatkan tumpuan penciptaan produk sebagai lawan dari sikap atau tindakan” (h. 143).

Sekian Artikel singkat tentang Pengertian Peran. semoga bermanfaat bagi kita semua. sekian dan terima kasih.

Saturday, August 24, 2019

Pengertian Umum Ideologi Terbuka Dan Tertutup Serta Ciri-Cirinya

Istilah ideologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata, yaitu idea dan logi. Ideaberarti melihat(idean), sedangkan logi berasal dari kata logos yang berarti pengetahuan atau teori. Jadi, secara umum ideologi sanggup diartikan hasil inovasi dalam pikiran yang berupa pengetahuan atau teori. Ideologi sanggup juga diartikan suatu kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas, pendapat (kejadian) yang memperlihatkan arah tujuan untuk kelangsungan hidup. Ideologi terbagi mencadi dua,yaitu ideologi Terbuka dan Ideolgi tertutp,perbedaan ideologi terbuka dan tertutup ini sangat mencolok,sehingga sanggup dengan gampang dikelompokkan. Pengertian Ideologi Terbuka ialah nila-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, budpekerti dan budaya masyarakatnya itu sendiri. Pengertian Ideologi Tertutup ialah anutan atua pandangan dunia yang memilih tujuan-tujuan dan norma-norma politik dan sosial, yang ditasbihkan sebagai kebenaran yang dilarang dipersoalkan lagi, tetapi harus diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus dipatuhi. 
  1. Pembahasan Ideologi Terbuka - Ideologi terbuka sanggup juga diartikan sebagai ideologi yang tidak dimutlakkan. Ideologi terbuka merupakan ideologi yang sanggup berinteraksi dari perkembangan zaman dan dinamika yang sifatnya internal. Ideologi terbuka bersumber dari klarifikasi umum 1945 yang berbunyi "... terutama bagi negara gres dan negara muda, lebih baik aturan dasar yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan, pokok, sedangkan aturan-aturan yang menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang yang lebih gampang cara membuatnya, mengubahnya dan mencabutnya".
  2. Pembahasan Ideologi Tertutup - Ideologi tertutup sanggup diartikan sebagai ideologi yang dimutlakkan. Ideologi tertutup merupakan. Kebenaran dari ideologi tertutup tidak dipermasalahkan dalam nilai-nilai atau prinsip-prinsip budpekerti yang lain. Ideologi tertutup mempunyai sifat yang dogmatis dan apriori. Arti dogmatis ialah mempercayai terhadap suatu keadaan tanpa daya yang valid. Sedangkan arti apriori ialah berprasangka terlebih dahulu terhadap suatu keadaan. Ideologi tertutup menggunakan pemaksaan dalam pemberlakuan yang dipatuhi setiap masyarakat yang kordinir oleh masyarakat elit atau kelompok masyarakat. hal ini berarti bersifat diktatorial yang dijalankan dengan totaliter.
Ciri-Ciri Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup
1. Ciri-Ciri Ideologi Terbuka
  • Cita-cita hidup dalam masyarakat
  • Merupakan hasil dari musyawarah dan konsensus rakyatnya 
  • Nilai-nilai dan impian yang berasal dari diri masyarakat
  • Ideologi terbuka bersifat dinamis dan reformasi
2. Ciri-Ciri Ideologi Tertutup
  • Bukan impian yang hidup dalam diri masyarakat
  • Tidak bersifat nilai atau cita-cita
  • Kepercayaan dan kesetiaan yang sifatnya kaku
  • Terdiri dari tuntutan nyata dan operasional secara mutlak
Dimensi Ideologi
Sebuah ideologi yang telah menjdai keyakinan dalam kehidupan masyarakat sanggup menjadi luntur atau pudar seiring perkembangan zaman.Hal tersebut tergantung pada daya tahan Ideologi. Ideologi akan bisa bertahan menghadapi perubahan zaman,apabila mempunyai tiga dimensi,yaitu:
  1. Dimensi Realita - Dimensi ini menunjuk pada kemampuan ideologi untuk mencerminkan realita yang hidup dalam masyarakat, di mana ia muncul untuk pertama kalinya, paling kurang realita pada saat-saat awal kelahirannya
  2. Dimensi Idealisme - Dimensi Idealisme ialah kadar/kualitas idealisme yang terkandung di dalam iseologi atau nila-nilai dasarnya. Kualitas itu memilih kemampuan ideologi dalam memperlihatkan harapan kepada banyak sekali kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat untuk mempunyai dan membina kehidupan bersama secara lebih baik dan membangun suatu masa depan secara lebih cerah.
  3. Dimensi Fleksibilitas - Yaitu kemampuan ideologi dalam memengaruhi dan sekaligus beradaptasi dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakat. Memengaruhi berarti ikut mewarnai proses pengembangan, sedangkan beradaptasi berarti bahwa masyarakat berhasil menemukan tafsiran-tafsiran terhadap nilai-nilai daasar dari ideologi sesuai dengan realita-realita gres yang muncul dan yang harus mereka hadapi.
Demikian artikel singkat mengenai pengertian umum terbuka dan tertutup serta Ciri-Ciri Ideologi Terbuka dan Tertutup. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.

Fungsi Administrasi Serta Pengertiannya Secara Umum

Secara umum pengertian administrasi yaitu suatu seni dalam ilmu dan proses pengorganisasian menyerupai perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengendalian atau pengawasan. Dalam pengertian administrasi sebagai seni karna seni berfungsi dalam mengujudkan tujuan yang konkret dengan hasil atau manfaat sedangkan administrasi sebagai ilmu yang berfungsi membuktikan fenomena-fenomena, insiden sehingga memperlihatkan klarifikasi yang sebenarnya. Manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu "Manage" yang berarti, mengurus, mengelola, mengendalikan, mengusahakan, memimpin. Sedangkan Pengertian Manajemen secara etimologis yaitu seni melaksanakan dan mengatur. Pengertian administrasi juga dipandang sebagai disiplin ilmu yang mengajarkan proses mendapat tujuan organisasi dalam upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi. Orang yang melaksanakan administrasi disebut dengan manajer.

Pengertian Manajemen Menurut Para Ahli
Pengertian administrasi berdasarkan George.R.Terry yang menyampaikan bahwa pengertian administrasi yaitu suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional maksud yang nyata. Pengertian administrasi berdasarkan Encylopedia of the Social Science, menyampaikan bahwa pengertian administrasi yaitu suatu proses yang pelaksanaan tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Pengertian administrasi berdasarkan Mary Parker Follet, menyampaikan bahwa pengertian administrasi yaitu sebuah seni atau management is an art). Setiap pekerjaan bisa diselesaikan oleh orang lain. Pengertian administrasi berdasarkan James A.F Stoner, yang mengemukakan pendapatnya wacana pengertian administrasi yaitu proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya organisasi yang lain biar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pengertian administrasi berdasarkan Lawrence A. Appley yaitu seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui perjuangan orang lain. Pengertian administrasi Wilson Bangun yaitu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dikerjakan oleh anggota-anggota organisasi untuk mencapai tujuannya. Pengertian administrasi berdasarkan Koontz, menyampaikan bahwa pengertian administrasi yaitu seni yang paling produktif selalu didasarkan pada pemahaman terhadap ilmu yang mendasarinya.



Fungsi Manajemen 
Fungsi administrasi yaitu elemen-elemen dasar yang selalu ada dan berada dalam proses administrasi yang menjadi patokan bagi manejer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi Manajemen secara Umum yaitu sebagai berikut...

  1. Fungsi Perencanaan (Planning) - Pengertian perencanaan/planning yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan tujuan perusahaan dengan banyak sekali planning untuk mencapai tujuan yang ingin diraih. Perencanaan merupakan cara terbaik dalam mengejar dan menciptakan tujuan perusahaan sanggup tercapai karna perencanaan merupakan proses bab dari fungsi administrasi yang penting karna tanpa perencanaan fungsi-fungsi administrasi berikutnya tidak sanggup berjalan.
  2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing) - Pengertian pengorganisasian/organizing yaitu membagi suatu kegiatan besar menjadi suatu kegiatan-kegiatan kecil dengan membagi dalam setiap kiprah biar tercapainya suatu tujuan dengan lebih mudah.
  3. Fungsi Pengarahan (Directing) - Pengertian pengarahan/directing yaitu suatu tindakan yang mengusahakan biar semua anggota kelompok untuk berusaha mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.

Demikianlah artikel singkat tentang Fungsi Manajemen, semoga bermanfaat pastinya. Sekian dan terima kasih.

Friday, August 23, 2019

Pengertian Umum Forum Sosial Ciri-Ciri Serta Fungsinya

Lembaga sosial terbentuk dari nilai, norma, adab istiadat, tata kelakuan, dan unsur budaya lainnya yang hidup di masyarakat. Nilai dan norma yang gres sehabis dikenal, diakui dan dihargai oleh masyarakat akan ditaati dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut akan berlanjut ke nilai dan norma sosial dan diserap oleh masyarakat dan mendarah daging. Proses absorpsi tersebut dinamakan dengan internalisasi (internalization).
Secara umum Pengertian Lembaga ialah suatu sistem norma untuk mencapai tujuan tertentu yang oleh masyarakat dianggap penting. Sistem norma itu meliputi gagasan, aturan, tata cara, kegiatan dan ketentuan hukuman (reward and punishment system). Sistem norma itu merupakan hasil proses yang berangsur-angsur menjadi suatu sistem yang terorganisasi yang teruji kredibilitasnya, dan teperceaya. Seperti agama ialah forum sebab merupakan suatu sistem gagasan, kepercayaan, tata cara ibadah, dan anutan sikap yang dipercaya penganutnya sebab sanggup membawa pada kebaikan dunia dan akhirat.
Setelah itu, usang kelamaan akan bermetamorfosis pecahan dari suatu lembaga. Proses yang dilewati nilai dan norma sosial gres untuk menjadi pecahan dari salah satu forum sosial yang dalam masyarakat disebut dengan proses pelembagaan (institusionalized).


Fungsi Lembaga Sosial
Lembaga sosial mempunyai tujuan yang memenuhi kebutuhan pokok manusia. Lembaga sosial mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai berikut.
  • Pedoman anggota masyarakat dalam bertingkah laris atau bersikap untuk menghadapi duduk perkara dalam masyarakat khususnya menyangkut mengenai kebutuhan manusia. 
  • Sebagai penjaga akan keutuhan masyarakat
  • Menjadi pegangan untuk mengadakan sistem pengendalian sosial terhadap tingkah laris anggota masyarakat
Syarat Terbentuknya Lembaga Sosial
Menurut Selo Soemardjan, forum sesuatu yang harus dipegang dan sebagai aturan yang mengikat dalam masyarakat sebagai proses bertumbuhnya kelembagaan yang mengikat 3 syarat. Syarat-syarat terbentuk forum sosial ialah sebagai berikut.
  • Norma menjiwai seluruh anggota masyarakat
  • Diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat tanpa adanya halanyan yang berarti 
  • Norma harus mempunyai hukuman yang mengikat setiap anggota masyarakat
Sifat-Sifat Lembaga Sosial
Menurut Harsoja forum sosial mempunyai sifa-sifat umum, yaitu sebagai berikut... 
  • Berfungsi sebagai unit dalam sistem kebudayaan sebagai satu kesatuan bulat
  • Memiliki tujuan yang jelas
  • Relatif kokoh 
  • Sering memakai hasil kebudayaan material dalam menjalankan fungsinya
  • Sifat karakteristik merupakan sebuah lambang 
  • Umumnya sebagai tradisi tertulis atau lisan
Ciri Dan Karakter Lembaga Sosial
Meskipun forum sosial merupakan suatu konsep yang abstrak, ia mempunyai sejumlah ciri dan huruf yang sanggup dikenali.
Menurut J.P Gillin di dalam karyanya yang berjudul “Ciri-ciri Umum Lembaga Sosial” (General Features of Social Institution) menguraikan sebagai berikut :
  • Lembaga-lembaga sosial yang teladan organisasi pemikiran dan sikap yang terwujud melalui acara masyarakat dan hasil. Ini terdiri dari kebiasaan, sikap sistem, dan unsur-unsur budaya lainnya yang tergabung dalam unit fungsional.
  • Lembaga sosial juga dicirikan oleh tingkat tertentu permanen. Oleh sebab amal ialah seperangkat norma yang berkisar pada kebutuhan dasar, maka sudah sewajarnya jika dipertahankan dan standar.
  • Lembaga sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. Lembaga pendidikan sudah niscaya mempunyai beberapa tujuan, serta forum perkawinan, perbankan, agama, dan lain-lain.
  • Ada peralatan ilmiah yang dipakai untuk mencapai tujuan lembaga-lembaga sosial. Misalnya, rumah untuk forum keluarga serta masjid, gereja, kuil dan biara untuk lembaga-lembaga keagamaan.
  • Lembaga sosial biasanya juga ditandai dengan simbol atau simbol tertentu. Simbol menyerupai simbolis menarik tujuan dan fungsi forum yang bersangkutan. Misalnya, cincin kawin untuk forum perkawinan, bendera dan lagu untuk negara, serta seragam sekolah dan badge (lencana) untuk sekolah.
  • Lembaga sosial telah menulis dan tradisi tidak tertulis yang menetapkan tujuan, aturan, dan lain-lain. Misalnya, izin untuk menikah dan aturan perkawinan bagi institusi perkawinan.
Sementara mahir sosial yang berjulukan John Conen juga mengedepankan karakteristik forum sosial. Menurutnya ada sembilan karakteristik (ciri khas) dari lembaga-lembaga sosial sebagai berikut.
  • Setiap forum sosial bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masyarakat.
  • Setiap forum sosial mempunyai nilai fundamental yang berasal dari anggota.
  • Dalam forum sosial ada teladan sikap permanen menjadi pecahan dari tradisi budaya yang ada dan diakui anggota.
  • Ada lembaga-lembaga sosial saling ketergantungan dalam masyarakat, lembaga-lembaga sosial mengubah kesannya perubahan lain dalam lembaga-lembaga sosial.
  • Meskipun lembaga-lembaga sosial yang saling bergantung, masing-masing terdiri dari lembaga-lembaga sosial dan organisasi menjadi tepat sekitar teladan sirkuit, norma, nilai-nilai, dan sikap yang diharapkan.
  • Ide-ide forum sosial yang berlaku umum oleh dominan anggota masyarakat, terlepas dari apakah atau tidak mereka juga berpartisipasi.
  • Sebuah forum sosial mempunyai bentuk sopan santun perilaku.
  • Setiap forum sosial mempunyai simbol budaya tertentu.
  • Sebuah forum sosial mempunyai sebagai ideologi atau orientasi kelompok dasar.
Syarat Lembaga Sosial
Menurut Koentjaraningrat acara insan atau acara kemasyarakatan untuk menjadi forum sosial harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Persyaratan tersebut antara lain :
  • Kode standar etik, yang sanggup menjadi norma dan adab istiadat yang hidup dalam memori atau tertulis.
  • Kelompok insan yang menjalankan kegiatan gotong royong dan saling berafiliasi sesuai dengan norma-norma sistem.
  • Pusat kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spesifik kompleks, yang diakui dan dipahami oleh kelompok-kelompok yang bersangkutan.
  • Memiliki peralatan dan perlengkapan.
  • Sistem ini dibiasakan kegiatan atau terbangun dengan kelompok yang bersangkutan dalam suatu masyarakat untuk jangka waktu yang panjang.
Syarat Lembaga Sosial
Menurut Koentjaraningrat acara insan atau acara kemasyarakatan untuk menjadi forum sosial harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Persyaratan tersebut antara lain :
  • Suatu tata kelakuan yang baku, yang sanggup berupa norma-norma dan adab istiadat yang hidup dalam ingatan maupun tertulis.
  • Kelompok-kelompok insan yang menjalankan acara bersama dan saling berafiliasi berdasarkan sistem norma-norma tersebut.
  • Suatu sentra acara yang bertujuan memenuhi kompleks- kompleks kebutuhan tertentu, yang disadari dan dipahami oleh kelompok-kelompok yang bersangkutan.
  • Mempunyai perlengkapan dan peralatan.
  • Sistem acara itu dibiasakan atau disadarkan kepada kelompok- kelompok yang bersangkutan dalam suatu masyarakat untuk kurun waktu yang lama.
Ciri-Ciri Lembaga Sosial
Menurut Gillin dan Gillin, terdapat ciri-ciri utama forum sosial antara lain sebagai berikut... 
  • Pola pemikiran dan sikap terwujud dari dalam acara masyarakat bersama dengan hasil-hasilnya. 
  • Memiliki suatu tingkat kekekalan khusus. Maksudnya, suatu nilai atau norma akan menjadi forum yang sehabis mengalami proses percobaan dalam waktu yang relatif lama. 
  • Memiliki satu atau beberapa tujuan tertentu. 
  • Memiliki alat kelengkapan yang dipakai untuk mencapai tujuan forum tersebut. Umumnya alat ini antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya berbeda. 
  • Mempunyai lambang sebagai simbol dalam menggambarkan tujuan dan fungsi forum tersebut. 
  • Merumuskan tujuan dan tata tertibnya, forum mempunyai tradisi yang tertulis dan tidak tertulis
Macam-Macam Lembaga Sosial
Terdapat beberapa forum sosial yang sangat dekat dengan orientasinya. Beberapa forum sosial tersebut ialah sebagai berikut.
a. Lembaga Keluarga 
Lembaga keluarga merupakan forum sosial yang terkencil yang terbentuk atas dasar perkawinan dan hubungan darah. Macam-macam fungsi forum keluarga ialah sebagai berikut.. 
  • Fungsi reproduksi : Dalam keluarga, keturunan merupakan inti dari terjadinya sebuah pernikahan. 
  • Fungsi ekonomi : Dalam keluarga, terdapat fungsi ekonomi yang dalam hal ini ialah tugas ayah, namun ibu juga berperan sebagai fungsi ekonomi dalam menghidupi keluarga mereka termasuk mereka sendiri dan anak-anaknya. 
  • Fungsi perlindungan : Dalam keluarga, terdapat fungsi proteksi, artinya keluarga membuat rasa ketentaraman dan keterlindungan baik secara psikologis maupun fisik. 
  • Fungsi sosialisasi : Dalam keluarga, terdapat fungsi sosialisasi yang mengajarkan anak segala hal baik berlatih dan diperkenalkan cara-cara hidup yang baik dan benar supaya sanggup berperan dalam masyarakat. 
  • Fungsi afeksi : Dalam keluarga, terdapat fungsi afeksi yang tidak lain ialah orang renta dari anak tersebut dengan memperlihatkan kehangantan dan kasih sayang. 
  • Fungsi pengawasan sosial : Dalam keluarga, fungsi pengawasan sosial yang mengontrol segala acara dan tingkah laris dalam keluarga mereka, hal ini biasanya dipegang oleh orang renta untuk mengawasi anaknya. 
  • Fungsi pemberian status : Dalam keluarga, terdapat fungsi pemberian status melalui forum perkawinan sebagai pasangan suami istri. 
b. Lembaga Politik 
Lembaga politik ialah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat sebagai proses pembuatan keputusan. Macam-macam fungsi forum politik ialah sebagai berikut... 
  • Memelihara ketertiban di dalam negeri (internal order): 
  • Menjaga keamanan yang ada di luar negeri (eksternal order): 
  • Mengupayakan kesejahteraan umum (general welfare) 
  • Mengatur proses politik 
c. Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan ialah forum atau daerah berlangsungnya proses pendidikan dengan tujuan mengubah tingkah laris individu ke arah yang lebih baik. Macam-macam fungsi forum pendidikan berdasarkan horton dan hunt ialah sebagai berikut... 
  • Mempersiapkan untuk mencari nafkah
  • Sebagai daerah pengembangan bakat 
  • Sebagai pelestari kebudayaan masyarakat
  • Tempat edukasi keterampilan supaya sanggup berpatisipasi dalam demokrasi 
  • Memperpanjang masa remaja 
  • Mempertahankan sistem sosial 
d. Lembaga Ekonomi 
Lembaga ekonomi ialah forum yang mempunyai kegiatan di bidang ekonomi demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Macam-macam fungsi forum ekonomi ialah sebagai berikut...
  • Memberi anutan dalam mendapat materi pangan 
  • Sebagai pedomn untuk menjalankan pertukaran barang atau barter
  • Sebagai anutan mengenai harga jual beli barang 
e. Lembaga Agama 
Lembaga agama ialah forum yang mengatur mengenai kehidupan insan dalam beragama. Macam-macam fungsi forum agama berdasarkan Bruce J. Cohen ialah sebagai berikut...
  • Sebagai dukungan dalam pencarian identitas moral
  • Memberikan tafsiran-tafsiran dalam membantu memperjleas keadaan lingkungan fisik dan sosial seseorang
  • Sebagai peningkatan keramahan dalam bergaul, kohesi sosial, dan solidaritas kelompok
f. Lembaga Budaya
Lembaga budaya ialah forum publik yang terdapat dalam suatu negara yang berfungsi sebagai pengembangan budaya, ilmu pengetahuan, lingkungan, seni, dan pendidikan masyarakat.

Demikianlah gosip sederhana tentang Pengertian umum Lembaga Sosial, Ciri-Ciri serta Fungsinya. semoga bermanfaat bagi kita semua.

Referensi : 
Muin, Idianto. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga. Hal: 84-86. 

Kemiskinan Dan Ukurannya

Kemiskinan ialah kondisi dimana sesorang atau kelompok orang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan menyebarkan kehidupannya secara bermartabat. Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan sebagai Poverty is concern with absolute standard of living of part of society the poor in equality refers to relative living standards across the whole society (Sumodiningrat, 1999). Dari definisi tersebut sanggup dipahami bahwa kemiskin-an terkait dengan batas sewenang-wenang standar hidup sebagian masyarakat miskin dan menyangkut standar hidup relatif dari masyarakat.
Kemiskinan ialah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Ketidakmampuan tersebut ditunjukkan  oleh kondisinya yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk kuliner dan non makanan. Garis kemiskinan merupakan sejumlah rupiah yang diharapkan oleh setiap individu untuk sanggup membayar kebutuhan makanan, setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya.
Kemiskinan merupakan konsep dan dilema yang multiperspektif. Dalam perspektif ekonomi, kemiskinan diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang sanggup dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Dalam konteks ini, sumber daya tidak hanya berupa aspek finansial, melainkan semua jenis kekayaan yang sanggup meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas. Dengan indikator materi, menyerupai kepemilikan harta benda, income perkapita, maupun konsumsi. Badan Pusat Statistik (BPS) memakai indikator konsumsi sebesar 2.100 kalori/orang setiap hari yang disetarakan dengan pendapatan tertentu, atau pendekatan Bank Dunia yang memakai standar 1 dolar AS/ orang setiap hari. Contoh kemiskinan ini ialah tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar menyerupai sandang, pangan, papan beserta saluran lain, menyerupai kesehatan, pekerjaan maupun pendidikan.
Dalam perspektif kesejahteraan sosial, kemiskinan mengarah  pada keterbatasan individu atau kelompok untuk mengakses jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapat kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas. Keterbatasan individu lantaran adanya faktor penghambat berupa faktor internal yang bersumber dari si miskin itu sendiri, menyerupai rendahnya pendidikan dan adanya kendala budaya. Sedangkan, faktor eksternal berasal dari luar kemampuan sesorang tersebut, menyerupai birokrasi atau peraturan-peraturan resmi yang menghambat seseorang mendapat sumber daya. Secara sederhana kemiskinan dalam persepektif kesejahteraan sosial dimaknai sebagai kemiskinan yang pada awalnya disebabkan oleh kemiskinan ekonomi, oleh lantaran terlalu usang dalam kondisi miskin baik lantaran faktor tidak disengaja, disengaja maupun lantaran dipelihara menyebabkan efek domino, berupa patologi atau dilema sosial. Sedangkan resiko dikala kemiskinan sudah menjadi dilema sosial ialah selain harus menuntaskan dilema ekonomi itu sendiri juga mengatasi dilema sosial yang timbul. Contoh munculnya kriminalitas, budaya malas, korupsi, disparitas sosial yang menyebabkan konflik, dan ketergantungan pada pihak lain.
Kemiskinan juga sanggup dipandang dalam perspektif alasannya dan akibat. Sebagai sebab, kemiskinan merupakan akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Fenomena pencurian, perampokan atau pembunuhan, dan kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan disebabkan oleh kemiskinan. Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk praktek ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, aturan atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ’sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin menyerupai ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya.
Ketidakadilan aturan akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah. Apalagi bila aturan bisa dijualbelikan, maka keberadaan orang miskin akan semakin sulit mendapat saluran struktural yang mengeksklusi dirinya. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, lantaran dalam sistem yang tidak adil, terjadi aturan rimba; yang besar lengan berkuasa dan beruanglah yang berkuasa.
Dengan demikian, secara umum kemiskinan diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang serba terbatas, baik dalam eksesibilitas pada faktor produksi, peluang atau kesempatan berusaha, pendidikan, akomodasi hidup lainnya, sehingga dalam setiap kegiatan maupun perjuangan menjadi sangat terbatas (Sulistiyani, 2004).

Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2008-Maret 2009

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. Sebab, penduduk miskin yaitu penduduk yang mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selama Maret 2008-Maret 2009, Garis Kemiskinan naik sebesar 9,65 persen, yaitu dari Rp182.636,- per kapita per bulan pada Maret 2008 menjadi Rp 200.262,- per kapita per bulan pada Maret 2009. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi masakan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan masakan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Bulan Maret 2008, proteksi GKM terhadap GK sebesar 74,07 persen, tetapi pada Bulan Maret 2009, peranannya hanya turun sedikit menjadi 73,57 persen.
Komoditi yang besar lengan berkuasa pada kemiskinan berupa komoditi masakan dan bukan makanan. Komoditi masakan yang besar lengan berkuasa besar terhadap nilai Garis Kemiskinan yaitu beras, gula pasir, telur, mie instan, tahu dan tempe. Untuk komoditi bukan masakan yaitu biaya perumahan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah.
Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin yaitu beras. Pada Bulan Maret 2008, proteksi pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28,06 persen di perdesaan dan 38,97 persen di perkotaan. Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang besar lengan berkuasa cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu gula pasir (3,10 persen di perkotaan; 4,18 persen di perdesaan), telur (3,38 persen di perkotaan; 2,43 persen di perdesaan), mie instan (3,39 persen di perkotaan; 2,82 persen di perdesaan), tempe (2,56 persen di perkotaan; 2,14 persen di perdesaan), dan tahu (2,27 persen di perkotaan; 1,65 persen di perdesaan).
Untuk komoditi bukan makanan, biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan, yaitu 5,28 persen di perdesaan dan 7,38 persen di perkotaan. Biaya untuk listrik, angkutan dan minyak tanah mempunyai dampak yang cukup besar untuk kawasan perkotaan, yaitu masing-masing sebesar 3,07 persen, 2,72 persen dan 2,65 persen, sementara untuk kawasan perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen).
Pola yang serupa juga terlihat pada Bulan Maret 2009. Pengeluaran untuk beras masih memberi proteksi terbesar terhadap Garis Kemiskinan, yaitu 25,06 persen di perkotaan dan 34,67 persen di perdesaan. Beberapa barang-barang kebutuhan pokok lainnya masih besar lengan berkuasa cukup besar terhadap Garis Kemiskinan, menyerupai gula pasir (2,83 persen di perkotaan; 3,72 di perdesaan), telur (3,61 persen di perkotaan; 2,68 di perdesaan), mie instan (3,21 persen di perkotaan; 2,70 di perdesaan), tempe (2,47 di perkotaan; 2,09 di perdesaan), dan tahu (2,24 persen di perkotaan; 1,60 persen di perdesaan).
Sumbangan komoditi bukan masakan di perdesaan lebih kecil dibanding di perkotaan. Sumbangan komoditi bukan masakan terhadap Garis Kemiskinan terbesar yaitu pengeluaran untuk rumah, yaitu 7,58 persen di perkotaan dan 5,73 persen di perdesaan. Pengeluaran listrik di perkotaan memberi proteksi lebih besar kepada Garis Kemiskinan yang mencapai 3,08 persen, sedangkan perdesaan hanya 1,81 persen. Sumbangan komoditi lain terhadap Garis Kemiskinan yaitu angkutan 2,85 persen di perkotaan dan 1,34 persen di perdesaan, dan minyak tanah menyumbang sebesar 1,73 persen di perkotaan dan 0,70 persen di perdesaan.

Jenis Kemiskinan Dan Penyebabnya

Banyak perspektif yang yang menjelaskan  bentuk-bentuk kemiskinan. Menurut Jamasy (2004) terdapat empat bentuk kemiskinan yang mana setiap bentuk mempunyai arti tersendiri. Keempat bentuk tersebut ialah kemiskinan adikara dan kemiskinan relatif yang melihat kemiskinan dari segi pendapatan, sementara kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural yang melihat kemiskinan dari segi penyebabnya.
1. Kemiskinan adikara terjadi apabila tingkat pendapatannya dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimun, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas supaya bisa hidup dan bekerja. Kemiskinan jenis ini mengacu pada satu  standard yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat /negara. Sebuah pola dari pengukuran adikara ialah persentase dari penduduk yang makan dibawah jumlah yang cukup menopang kebutuhan badan insan (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa). Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan adikara sebagai hidup dengan  pendapatan dibawah USD $1/hari, dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari. Dengan  batasan ini maka diperkiraan pada 2001 terdapat 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari, dan 2,7 miliar  orang didunia mengkonsumsi kurang dari $2/hari.
2. Kemiskinan relatif ialah kondisi dimana pendapatannya berada pada posisi di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibanding pendapatan masyarakat sekitarnya. Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di negara bekembang, ada bukti perihal  kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan kawasan pinggiran kota.
3. Kemiskinan struktural ialah kondisi atau situasi miskin lantaran dampak kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan. Kemiskinan struktural muncul lantaran ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan si miskin sanggup bekerja. Struktur sosial tersebut tidak bisa menghubungkan masyarakat dengan sumber-sumber yang tersedia, baik yang disediakan oleh alam, pemerintah maupun masyarakat yang ada disekitarnya. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini ialah buruh tani, pemulung, penggali pasir dan mereka yang tidak bakir dan tidak terlatih. Pihak yang berperan besar dari terciptanya kemiskinan struktural ialah pemerintah. Sebab, pemerintah yang mempunyai kekuasaan dan kebijakan cenderung membiarkan masyarakat dalam kondisi miskin, tidak mengeluarkan kebijakan yang pro masyarakat miskin, Kalau pun ada lebih berorientasi pada proyek, bukan pada pembangunan kesejahteraan, sehingga tidak ada masyarakat miskin yang ‘naik kelas’. Artinya kalau pada awalanya sebagai buruh, nelayan, pemulung, maka selamanya menjadi buruh nelayan dan pemulung.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an para intelektual mengangkat  isu kemiskinan struktural ini. Kemiskinan ini timbul, lantaran ada kekerabatan  sosial ekonomi yang membuat kelompok orang tereksklusi  dari posisi ekonomi yang lebih baik.  Penyebab eksklusi ialah  ketergantungan ekonomi pada negara industri maju, struktur perekonomian  nasional jatuh pada segelintir orang  (kolusi penguasa dan pengusaha) serta politik dan kekerabatan sosial  yang tidak demokratis.
Kemiskinan struktural hadir dan muncul bukan lantaran takdir, bukan lantaran kemalasan, atau  bukan lantaran karena nasib. Kemiskinan jenis ini muncul dari suatu perjuangan pemiskinan. Suatu perjuangan untuk membuat jurang semakin lebar saja antara yang kaya dengan yang miskin. Kemiskinan struktural  adalah kemiskinan yang timbul dari adanya kekerabatan struktur yang timpang, yang timbul dari tiadanya suatu kekerabatan yang simetris dan sebangun yang menempatkan insan sebagai obyek. Kemiskinan struktural timbul lantaran adanya hegemoni dan justru lantaran adanya kebijakan negara dan pemerintah atau orang-orang yang berkuasa, sehingga justru orang yang termarjinalkan semakin termarjinalkan saja.
Namun dalam beberapa dasawarsa belakangan ini terjadi kecenderungan fenomena yang berbalik.  Beberapa negara berkembang yang  penduduknya mengalami kemiskinan struktural, ternyata bisa berdiri dan berkembang untuk merebut pasar global (Rohman, 2010). Pertanyaanya, apakah hal itu mengambarkan  kemiskinan lantaran faktor struktural tidak ada lagi, dan yang ada faktor kultural serta kurangnya saluran pada kebutuhan dasar? Hal ini secara empiris perlu menerima telaah yang lebih mendalam .
4. Kemiskinan kultural mengacu pada dilema perilaku seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya. Sikap budaya itu, menyerupai tidak mau berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif, meskipun ada perjuangan dari pihak luar untuk membantunya. Sedangkan, kebudayaan kemiskinan, merupakan kemiskinan yang muncul sebagai akhir adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin, menyerupai malas, gampang mengalah pada nasib, kurang mempunyai etos kerja dan sebagainya. Ciri dari kebudayaan kemiskinan ini ialah masyarakat enggan mengintegrasikan dirinya dalam lembaga-lembaga utama, perilaku apatis, curiga, terdiskriminasi oleh masyarakat luas. Dalam komunitas lokal ditemui ada rumah yang bobrok, penuh sesak dan bergerombol. Ditingkat keluarga, masa kanak-kanak cenderung singkat, cepat dewasa, cepat menikah. Pada individu mereka ada perasaan tidak berharga, tidak berdaya dan rendah diri akut.
Pandangan lain perihal budaya miskin merupakan imbas domino dari belenggu kemiskinan struktural yang menghinggap masyarakat terlalu lama. Keadaan menyerupai itu membuat masyarakat apatis, pasrah, berpandangan kalau sesuatu yang terjadi ialah takdir. Dalam konteks keagamaan disebut dengan paham jabariah. Contoh kemiskinan ini ada pada masyarakat pedesaan, komunitas kepercayaan atau agama, dan kalangan marginal lainnya.

Keterkaitan Kemiskinan Struktural Dan Kultural

Dalam konteks Indonesia, kalau ditinjau dari problem kemiskinan, secara tidak pribadi menunjukkan adanya keterkaitan antara kemiskinan struktural dengan kemiskinan kultural. Terlebih status Indonesia selain sebagai negara berkembang, juga mengalami proses sejarah penjajahan yang amat panjang, kurang lebih 350 tahun. Dimulai dari pemerintah kolonial belanda yang menanamkan komersialisasi pertanian dalam bentuk perpajakan, pembukaan lahan gres dan membuka jalan raya, yang berdampak pada kemerosotan kesejahteraan petani, memperkaya mereka yang mempunyai modal besar, yaitu elit-elit ekonomi desa. Pasca penjajahan belanda, pemerintah orde usang memfokuskan pada pembangunan aspek politik. Proses pengintegrasian wilayah jajahan belanda kedalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus berlangsung secara cepat. Pada fase ini kondisi perekonomian negara jauh dari stabil, penanganan problem kemiskinan belum menjadi prioritas sehingga masyarakat tidak beranjak dari situasi kemiskinannya, alasannya ialah secara struktural tidak terprioritaskan.
Pada dikala pemerintahan orde baru, kebijakan politik mulai terarahkan pada perjuangan mengatasi kemiskinan. Melalui cara dukungan dana kepada forum donor di luar negeri, ibarat IGGI dilakukan secara ekstensif. Namun, efek dari kebijakan ini bukan malah menghapus kemiskinan, melainkan membuat kemiskinan babak baru, dimana tumbuhnya industrialisasi di desa-desa dalam wujud eksploitasi seperti: pertambangan, penebangan hutan, pembangunan pertanian tanaman industri dan sebagainya. Kondisi itu pada alhasil semakin menumbuhkan disparitas sosial yang semakin akut, dan tidak merubah kehidupan masyarakat miskin dan malah memperkaya mereka yang sudah kaya.
Oleh alasannya ialah itu dilihat dari perjalanan kemiskinan diatas, kemiskinan kultural merupakan buah dari kemiskinan struktural. Masyarakat menjadi fatalis, semakin pasrah, menganggap miskin sebagai nasib dan garis hidup. Hal itu sering diperkuat dengan pendekatan keagamaan yang meminta semoga orang tetap selalu bersabar dan bersyukur mendapatkan ‘takdir’ yang dialaminya.
Jika dilihat dari argumentasi diatas, secara umum dikuasai kemiskinan yang terjadi merupakan dominasi kemiskinan struktural. Tidak ada proses transformasi kelas dimana buruh tani tetaplah menjadi buruh tani, begitu pula nelayan, pemulung, dan lain-lain. Jikapun ada aktivitas penanggulangan kemiskinan sifatnya residual, proyek, insidental, tidak berkelanjutan dan tidak mengena pada substansi atau menyentuh akar dari kemiskinan.

Penyebab-Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan tidak disebabkan oleh faktor tunggal, dan juga tidak terjadi secara linier. Sebaliknya, kemiskinan bersifat beragam dan disebabkan oleh multi faktor yang saling terkait satu dengan yang lain. Secara prinsip ada tiga faktor penyebab kemiskinan, yaitu faktor struktural, faktor kultural, dan sumberdaya alam yang terbatas (Mubiyarto, 1993; Sumodiningrat 1998; Rocman, 2010; Handoyo, 2010).

Faktor struktural penyebab kemiskinan berupa:
  1. (Struktur sosial masyarakat yang mengakibatkan sekelompok orang berada pada lapisan miskin. Keluarga miskin dengan kepemilikan lahan yang sempit, atau bahkan tidak punya sama sekali. Anak-anak yang lahir dari keluarga ibarat ini, semenjak awal sudah mewarisi kemiskinan tersebut. Mereka sulit mendapat terusan untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan untuk memperbaiki kualitas diri dan hidupnya sehingga jatuh dalam situasi kemiskinan yang tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.
  2. Praktek ekonomi masih jauh dari nilai-nilai moral Pancasila yang bertumpu pada kebersamaan, kekeluargaan, dan keadilan. Dalam praktek kehidupan lebih mengarah pada praktek ekonomi pasar bebas yang mengagungkan kompetisi dan individu dari pada kebersamaan, kekeluargaan, dan masih jauh dari nilai keadilan.
  3. Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 masih belum efektif untuk diterjemahkan dalam peraturan organik yang lebih operasional untuk mengatur praktek kegiatan ekonomi. Undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai turunan dari pasal 33 tersebut masih dibutuhkan. Sejumlah Undang-Undang Organik dan peraturan telah dibentuk oleh forum tinggi negara yang berkompeten. Namun, bukan berarti permasalahannya final dengan Undang-Undang Organik tersebut. Kenyataanya masih muncul banyak sekali persoalan yang berdampak pada potensi peningkatan jumlah penduduk miskin. Pengelolaan sumber daya air, tambang dan gas yang kurang baik sanggup menjadikan jumlah penduduk miskin. Sebagai pola sumber daya air yang tidak terkelola dengan baik mengakibatkan air sungai tercemar. Pada hal selama ini sungai menjadi sumber air keluarga, terutama bagi rumah tangga miskin. Tidak berfungsinya air sungai sebagai sumber air higienis mengakibatkan rumah tangga miskin membeli air bersih, setidahnya untuk minum, atau terpaksa mengkonsumsi air yang tercemar tersebut. Sebagai alhasil mereka mengeluarkan biaya hidup untuk membeli air. Hal itu akan menambah jumlah kemiskinan penduduk. Sumber daya alam yang melimpah tidak otomatis sanggup mensejahterakan penduduk sekitar. Kasus tambang di Papua menggambarkan realitas itu. Tambang emas, tembaga yang sangat besar itu belum sanggup mengentaskan kemiskinan penduduk sekitar dan membebaskan dari keterbelakangan. Hal itu sanggup terjadi karena: (1) nilai kontrak yang terlalu murah, (2) distribusi hasil yang belum berpihak pada kaum miskin sekitar, (3) pengelolaan yang salah.
  4. Paradigma ekonomi masih bertumpu pada ekonomi neoliberal yang kapitalistik. Dalam Peradaban global diakui bahwa imbas ekonomi kapitalistik demikian besar. Bahkan peradapan kehidupan umat insan pada era XXI ini telah dimenangkan oleh peradaban kapitalistik. Karena itu, pemikiran-pemikiran neo liberalisme, di sadari atau tidak banyak mensugesti kebijakakan ekonomi di Indonesia. Praktek ekonomi yang bertumpu pada modal dan pasar bebas menjadi dasar dalam acara ekonomi. Sebagai pola terbaru yaitu kebijakan yang longgar terhadap keberadaan pasar modern supermaket/minimarket. Pemerintah kawasan belum mempunyai hukum yang terperinci wacana persoalan ini. Sementara dilapangan telah bergulir pembangunan supermaket tersebut demikian cepatnya. Sebagai alhasil banyak toko-toko di pasar tradisional atau di luarnya yang mengalami penurunan pembeli, lantaran tidak sanggup bersaing. Aturan yang telah ditetapkan jarak 500m dari pasar tradisional, ternyata tidak sanggup berjalan efektif.
  5. Konsistensi terhadap nilai-nilai moral Pancasila yang masih kurang. Pancasila merupakan seperangkat nilai-nilai luhur dan mulia yang menggambarkan hubungan mausia dengan Tuhan, Manusia dengan sesama manusia, dan insan dengan alam. Jabaran nilai-nilai luhur tersebut tersurat dan tersirat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pancasila mengajarkan praktek ekonomi yang demokratis, berkeadilan, efisien, dan berkelanjutan, dan menempatkan posisi negara sebagai entitas yang penting sebagai regulatator dan eksekutor. Namun, kenyataanya praktek ekonomi lebih berpihak kepada ekonomi modal besar dari pada rakyat. Nasib ekonomi kerakyatan menjadi kurang jelas, dan kurang berkelnjutan.
Faktor kultural penyebab kemiskinan berupa:
  1. Penyakit individu (patologis) yang melihat kemiskinan sebagai akhir dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
  2. penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
  3. penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
  4. penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akhir dari agresi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.
Faktor sumberdaya alam yang terbatas berupa:
  1. Tanah yang semakin tandus dan tercemar materi kimia.
  2. Curah hujan yang rendah sampai kering.
  3. Wilayah tambang yang sudah tinggal sisa-sisa.
  4. Kepemilikan lahan yang semakin menyempit dan hanya bekerja sebagai buruh tani.

Program Penanggulangan Kemiskinan

Beberapa kegiatan yang tengah digalakkan oleh pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan antara lain dengan memfokuskan arah pembangunan pada tahun 2008 pada pengentasan kemiskinan. Fokus kegiatan tersebut mencakup 5 hal antara lain pertama menjaga stabilitas harga materi kebutuhan pokok; kedua mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin; ketiga menyempurnakan dan memperluas cakupan kegiatan pembangunan berbasis masyarakat; keempat meningkatkan susukan masyarakat miskin kepada pelayanan dasar; dan kelima membangun dan menyempurnakan sistem proteksi sosial bagi masyarakat miskin.
Dari 5 fokus kegiatan pemerintah tersebut, diperlukan jumlah rakyat miskin yang ada sanggup tertanggulangi sedikit demi sedikit. Beberapa langkah teknis yang digalakkan pemerintah terkait 5 kegiatan tersebut antara lain:
a. Menjaga stabilitas harga materi kebutuhan pokok. Fokus kegiatan ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini ibarat :

  • Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton
  • Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer

b. Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin. Fokus kegiatan ini bertujuan mendorong terciptanya dan terfasilitasinya kesempatan berusaha yang lebih luas dan berkualitas bagi masyarakat/keluarga miskin. Beberapa kegiatan yang berkenaan dengan fokus ini antara lain:

  • Penyediaan dana bergulir untuk kegiatan produktif skala perjuangan mikro dengan contoh bagi hasil/syariah dan konvensional.
  • Bimbingan teknis/pendampingan dan training pengelola Lembaga Keuangan Mikro (LKM)/Koperasi Simpan Pinjam (KSP).
  • Pelatihan budaya, motivasi perjuangan dan teknis manajeman perjuangan mikro
  • Pembinaan sentra-sentra produksi di daerah terisolir dan tertinggal
  • Fasilitasi sarana dan prasarana perjuangan mikro
  • Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir
  • Pengembangan perjuangan perikanan tangkap skala kecil
  • Peningkatan susukan warta dan pelayanan pendampingan pemberdayaan dan ketahanan keluarga
  • Percepatan pelaksanaan registrasi tanah
  • Peningkatan koordinasi penanggulangan kemiskinan berbasis kesempatan berusaha bagi masyarakat miskin.

c. Menyempurnakan dan memperluas cakupan kegiatan pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di daerah perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin. Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain :

  • Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di daerah perdesaan dan perkotaan
  • Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
  • Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus
  • Penyempurnaan dan pemantapan kegiatan pembangunan berbasis masyarakat.

d. Meningkatkan susukan masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Fokus kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan susukan penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar. Beberapa kegiatan yang berkaitan dengan fokus ini antara lain :

  • Penyediaan beasiswa bagi siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar di SD (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan SMP (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs);
  • Beasiswa siswa miskin jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA);
  • Beasiswa untuk mahasiswa miskin dan beasiswa berprestasi;
  • Pelayanan kesehatan acuan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III rumah sakit;

e. Membangun dan menyempurnakan sistem proteksi sosial bagi masyarakat miskin. Fokus ini bertujuan melindungi penduduk miskin dari kemungkinan ketidakmampuan menghadapi guncangan sosial dan ekonomi. Program teknis yang di buat oleh pemerintah ibarat :

  • Peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) dan anak (PUA)
  • Pemberdayaan sosial keluarga, fakir miskin, komunitas adab terpencil, dan penyandang dilema kesejahteraan sosial lainnya.
  • Bantuan sosial untuk masyarakat rentan, korban peristiwa alam, dan korban peristiwa sosial.
  • Penyediaan santunan tunai bagi rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang memenuhi persyaratan (pemeriksaan kehamilan ibu, imunisasi dan investigasi rutin BALITA, menjamin keberadaan anak usia sekolah di SD/MI dan SMP/MTs; dan penyempurnaan pelaksanaan pemberian santunan sosial kepada keluarga miskin/RTSM) melalui ekspansi Program Keluarga Harapan (PKH).
  • Pendataan pelaksanaan PKH (bantuan tunai bagi RTSM yang memenuhi persyaratan).

Perbedaan Dan Kekerabatan Perubahan Sosial Dan Budaya Dan Karakteristik

Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat pada umumnya menyangkut hal yang kompleks. Oleh lantaran itu Alvin L. Bertrand menyatakan bahwa perubahan sosial intinya tidak sanggup diterangkan oleh dan berpegang teguh pada faktor yang tunggal. Menurut Robin Williams, bahwa pendapat dari faham diterminisme monofaktor sekarang sudah ketinggalan zaman, dan ilmu sosiologi modern tidak akan menggunakai interpretasi-interpretasi sepihak yang menyampaikan bahwa perubahan itu hanya disebabkap oleh satu faktor saja.
Makara jelaslah, bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut disebabkah oleh banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi. Karenanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu dikatakan berkaitan dengan hal yang kompleks.
Perubahan sosial dan budaya mempunyai keterkaitan yang sangat bersahabat sekali. Suatu perubahan sosial pastilah akan memperlihatkan dampak terjadinya perubahan budaya. Perubahan kebudayaan meliputi semua bagiannya, ialah kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi filsafat, dan lain sebagainya. Bagian dan budaya tersebut tidak sanggup lepas dan kehidupan sosial insan dalam masyarakat. Tidak gampang memilih garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan budaya. 
Tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya, mustahil ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam masyarakat. Dengan kata lain, perubahan sosial dan budaya mempunyai satu aspek yang sama, ialah kedua-keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara gres atau suatu perbaikan wacana cara suatu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Meskipun perubahan sosial dan budaya mempunyai kekerabatan atau keterkaitan yang erat, namun keduanya juga mempunyai perbedaan. Perbedaan antara perubahan sosial dan budaya sanggup dilihat dan arahnya. Perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur dan kekerabatan sosial, sedangkan perubahan budaya merupakan perubahan dalam segi budaya masyarakat. Perubahan sosial terjadi dalam segi distribusi kelompok umur, jenjang pendidikan, dan tingkat kelahiran penduduk. Perubahan budaya meliputi inovasi dan penyebaran masyarakat, perubahan konsep nilai susila dan moralitas, bentuk seni gres dan kesetaraan gender.
Terkadang perubahan sosial dan budaya mengalami tumpang tindih. Sebagai contoh, ketika ini masyarakat menginginkan adanya kesamaan gender berafiliasi dengan perubahan seperangkat norma budaya dan fungsi tugas kaum pria dan wanita secara sosial. Untuk mengatasi ketumpang tindihan tersebut maka sering kita gunakan istilah perubahan sosial budaya untuk meliputi kedua perubahan tersebut.

Dengan demikian, suatu perubahan dikatakan sebagai Perubahan Sosial Budaya apabila mempunyai karakteristik sebagai berikut.
  1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti lantaran setiap masyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.
  2. Perubahan yang terjadi pada forum kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada forum sosial yang ada.
  3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementara lantaran orang akan berusaha untuk menyesuaikan din dengan perubahan yang terjadi.
  4. Perubahan tidak sanggup dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja lantaran keduanya saling berkaitan.
Itulah, Sekilas Perbedaan dan Hubungan Perubahan Sosial dan Budaya dan Karateristik, Semoga Bermanfaat.


Sumber / IPS, Hal : 103-104, Penulis : Sutarto, Penerbit : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Gotong Royong

Gotong-royong sebagai solidaritas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, terutama mereka yang membentuk komunitas-komunitas, alasannya ialah dalam komunitas menyerupai ini akan terlihat dengan jelas. Gotong-royong terjadi dalam beberapa kegiatan kehidupan, menyerupai gotong-royong dalam bentuk kerjabakti, dilakukan untuk kepentingan bersama; gotong-royong dalam bentuk tolong menolong pada ketika melaksanakan pesta pernikahan, atau khitanan, beberapa hari sebelum pesta akan dilakukan terjadi sumbangan dari kenalan, tetangga ataupun kerabat tiba membantu dalam bentuk materi makanan, uang, ataupun tenaga,kemudian santunan ini harus dikembalikan minimal dengan nilai yang sama.Bahkan gotong-royong sanggup pula terjadi pada ketika adanya petaka ataupun maut salah seorang warga komunitas, hal ini tidak sanggup disebut kepentingan bersama ataupun kepentingan peribadi tetapi rasa kemanusiaan yang muncul di antara warga, alasannya ialah petaka datangnya tidak diperhitungkan ataupun diketahui, sehingga warga yang menerima petaka tersebut memerlukan santunan dari warga lainnya. Gotong-royong sanggup terjadi di lahan pertanian uyang berada di wilayah pedesaan berupa curahan tenaga pada ketika membuka lahan hingga mengerjakan lahan pertanian, dan diakhiri di ketika panen, santunan dari orang lain menyerupai ini harus dikembalikan sesuai dengan tenaga yang orang lain berikan, hal ini terus menerus terjadi yang kesannya menjadi ciri masyarakat, terutama yang mempunyai mata pencaharian agraris. Khusus santunan di lahan pertanian dicontohkan pada petani lahan kering, terutama pada sistem huma, alasannya ialah pada sistem pertanian huma sangat terperinci sekali pola gotong-royong yang mereka lakukan yaitu azas timbal-balik.

Gotong royong merupakan suatu istilah orisinil Indonesia yang berarti bekerja gotong royong untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Katanya berasal dari gotong = bekerja, royong = Bersama-sama dengan musyawarah, pantun, Pancasila, aturan adat, ketuhanan, dan kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar Filsafat Indonesia menyerupai yang dikemukakan oleh M. Nasroen

Gotong-royong sebagai bentuk solidaritas sosial, terbentuk alasannya ialah adanya santunan dari pihak lain, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok, sehingga di dalamnya terdapat sikap loyal dari setiap warga sebagai satu kesatuan. Dalam hal ini, Parson (1951 : 97 – 98) mengemukakan, “Kehidupan warga suatu komunitas yang terintegrasi sanggup dilihat dari adanya solidaritas di antara mereka melalui tolong-menolong tanpa keharusan untuk membalasnya, menyerupai adanya petaka atau membantu warga lain yang dalam kesusahan. Tetapi tolong menolong menyerupai ini menjadi suatu kewajiban, untuk saling membalas terutama dalam hal pekerjaan yang berafiliasi dengan pertanian atau di ketika salah satu warga melaksanakan perayaan. Begitu pula, apabila terdapat pekerjaan yang hasilnya untuk kepentingan bersama, maka diharapkan pengerahan tenaga dari setiap warga melalui kerjabakti.”

Kegiatan gotong-royong dilakukan warga komunitas, baik yang berada di perdesaan maupun di perkotaan, yang penting mereka dalam kehidupannya senantiasa memerlukan orang lain. Di perkotaan nilai gotong-royong ini sangat berbeda dengan gotong-royong di pedesaan, alasannya ialah di perkotaan segala sesuatu sudah banyak dipengaruhi oleh materi dan sistem upah, sehingga akan diperhitungkan untung-ruginya dalam melaksanakan gotong-royong, sedangkan di perdesaan gotong-royong belum banyak dipengaruhi oleh materi dan sistem upah sehingga kegiatan gotong-royong diharapkan sebagai suatu solidaritas antar sesama dalam satu kesatuan wilayah atau kekerabatan. Dalam hal ini Koentjaraningrat (1984 : 7) mengemukakan kegiatan gotong-royong di pedesaan sebagai berikut,
  1. Dalam hal kematian, sakit, atau kecelakaan, di mana keluarga yang sedang menderita itu menerima pertolongan berupa tenaga dan benda dari tetangga-tetangganya dan orang lain sedesa;
  2. Dalam hal pekerjaan sekitar rumah tangga, contohnya memperbaiki atap rumah, mengganti dinding rumah, membersihkan rumah dari hama tikus, menggali sumur, dsb., untuk mana pemilik rumah sanggup minta santunan tetangga-tetangganya yang erat dengan memberi santunan makanan;
  3. Dalam hal pesta-pesta, contohnya pada waktu mengawinkan anaknya, santunan tidak hanya sanggup diminta dari kaum kerabatnya, tetapi juga dari tetangga-tetangganya, untuk mempersiapkan dan penyelenggaraan pestanya;
  4. Dalam mengerjakan pekerjaan yang berkhasiat untuk kepentingan umum dalam masyarakat desa, menyerupai memperbaiki jalan, jembatan, bendungan irigasi, bangunan umum dsb., untuk mana penduduk desa sanggup tergerak untuk bekerja bakti atas perintah dari kepala desa.
Gotong-royong sanggup dikatakan sebagai ciri dari bangsa Indonesia terutama mereka yang tinggal di pedesaan yang berlaku secara turun temurun, sehingga membentuk sikap sosial yang kasatmata kemudian membentuk tata nilai kehidupan sosial. Adanya nilai tersebut mengakibatkan gotong-royong selalu terbina dalam kehidupan komunitas sebagai suatu warisan budaya yang patut dilestarikan. Hubungannya gotong-royong sebagai nilai budaya, maka Bintarto (1980 : 24) mengemukakan, Nilai itu dalam sistem budaya orang Indonesia mengandung empat konsep, ialah :
  1. Manusia itu tidak sendiri di dunia ini tetapi dilingkungi oleh komunitinya, masyarakatnya dan alam semesta sekitarnya. Di dalam sistem makrokosmos tersebut ia mencicipi dirinya hanya sebagai unsur kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar itu.
  2. Dengan demikian, insan pada hakekatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya.
  3. Karena itu, ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa, dan
  4. selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dengan sesamanya dalam komuniti, terdorong oleh jiwa sama tinggi sama rendah.
Gotong-royong sebagai bentuk integrasi, banyak dipengaruhi oleh rasa kebersamaan antar warga komunitas yang dilakukan secara sukarela tanpa adanya jaminan berupa upah atau pembayaran dalam bentuk lainnya, sehingga gotong-royong ini tidak selamanya perlu dibuat kepanitiaan secara resmi melainkan cukup adanya pemberitahuan pada warga komunitas mengenai kegiatan dan waktu pelaksanaannya, kemudian pekerjaan dilaksanakan sehabis selesai bubar dengan sendirinya. Adapun laba adanya gotong-royong ini yaitu pekerjaan menjadi gampang dan ringan dibandingkan apabila dilakukan secara perorangan; memperkuat dan mempererat hubungan antar warga komunitas di mana mereka berada bahkan dengan kerabatnya yang telah bertempat tinggal di tempat lain, dan; menyatukan seluruh warga komunitas yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, gotong-royong sanggup dilakukan untuk meringankan pekerjaan di lahan pertanian, meringankan pekerjaan di dalam program yang berafiliasi dengan pesta yang dilakukan salah satu warga komunitas, ataupun pundak membahu dalam menciptakan dan menyediakan kebutuhan bersama.

Gotong-royong dalam bentuk tolong menolong dilakukan secara sukarela untuk membantu orang lain, tetapi ada suatu kewajiban sosial yang memaksa secara moral bagi seseorang yang telah menerima pertolongan tersebut untuk kembali menolong orang yang pernah menolongnya, sehingga saling tolong menolong ini menjadi meluas tanpa melihat orang yang pernah menolongnya atau tidak. Dengan demikian, bahwa tolong menolong ini merupakan suatu perjuangan untuk menanam kebijaksanaan baik terhadap orang lain tanpa adanya imbalan jasa atau kompensasi secara pribadi atas pekerjaan itu yang bersifat kebendaan, begitupula yang ditolong akan merasa berhutang kebijaksanaan terhadap orang yang pernah menolongnya, sehingga terjadilah keseimbangan berupa santunan tenaga yang diperoleh bila suatu ketika akan melaksanakan pekerjaan yang sama. Dalam hal ini Tashadi dkk. (1982 : 78) mengemukakan,
“Konpensasi atau balas jasa dalam hal tolong menolong itu tidak diwujudkan dengan sejumlah nilai uang, tetapi jasa yang telah diberikan itu akan lebih menjamin hubungan kekeluargaan yang baik di antara mereka yang bersangkutan atau berafiliasi alasannya ialah adanya suatu peristiwa. Apabila kompensasi atau jasa itu diwujudkan dengan sejumlah nilai uang, maka jarak sosial akan terjadi yang mengakibatkan nilai-nilai batin menjadi renggang yang kesannya mendesak nilai itu sendiri. Demikian kejadian ini banyak kita lihat remaja ini di aneka macam tempat di tempat pedesaan”.

Bersamaan dengan tumbuhnya penduduk, maka kegiatan tolong menolong mulai memunculkan adanya pamrih, walaupun tidak secara pribadi dalam bentuk imbalan nyata, tetapi imbalan yang sama menyerupai telah diberikan, sebagaimana Kayam kemukakan,
“bahwa kebersamaan atau kolektivitas dari masyarakat pertanian sederhana akan segera berubah begitu insan pertanian menyadari hal milik pribadi. Begitu beliau menciptakan klaim terhadap sebidang lahan, ... agaknya, beliau menjadi sadar bahwa seruan tolong kepada tetangganya untuk menggarap lahan akan harus memperhatikan tolong menolong yang lain. Apabila sebelumnya beliau kerja bersama-sama, beramai-ramai dengan tetangganya, "tanpa suatu pamrih", kini beliau masih bekerja gotong royong tetapi dengan "pamrih". Pamrih ialah impian terhadap suatu imbalan. ... apakah itu imbalan berupa ganti pertolongan pada waktu beliau nanti memerlukannya.”

Kegiatan kerjabakti sebagai gotong-royong dilakukan secara serentak untuk menuntaskan suatu pekerjaan yang hasilnya dimanfaatkan bersama. Kadangkala kerjabakti semacam ini menjadi pengertiannya menjadi tidak terperinci dengan adanya kerjabakti secara sukarela dan secara paksaan, menyerupai yang di kemukakan Koentjaraningrat (dalam Sajogyo dan Sajogyo, 1992 : 38),
Mengenai gotong-royong kerjabakti kita juga harus membedakan antara
  1. Kerjasama untuk proyek-proyek yang timbul dari inisiatif atau swadaya warga para warga desa sendiri dan
  2. Kerjasama untuk proyek-proyek yang dipaksakan dari atas.
Warga Komunitas suatu ketika akan mempunyai kegiatan yang memerlukan santunan dari warga lainnya, yaitu penyelenggaraan khitanan, perkawinan atau dalam pembuatan rumah mereka. menyerupai yang dikemukakan Kayam sebagai berikut,
“Seorang petani ... yang mengajak tetangga-tetangganya beramai-ramai membantunya mendirikan rumah sudah harus tahu bahwa beliau harus menyediakan masakan dan minum bagi yang membantunya, dan pada gilirannya pada satu waktu nanti harus bersedia ikut sebenarnya mendirikan rumah atau pekerjaan beramai-ramai.”

Pengolahan lahan pertanian secara berpindah-pindah sulit dilaksanakan apabila dilakukan sendiri oleh pemiliknya, alasannya ialah untuk mengerjakan lahan pertanian dari awal pembukaan lahan hingga pada panen memerlukan banyak curahan tenaga. Sebagaimana Kayam mengemukakan,
“Prinsip fundamental dari suatu masyarakat pertanian pada kesannya ialah penggarapan lahan sebagai sumber dan kelangsungan kehidupan dan penghidupan. Penggarapan lahan itu berkembang dalam waktu yang tidak terlalu usang menjadi penggarapan yang tidak sanggup lagi dikerjakan sendirian bahkan juga pada waktu anak-anaknya sudah sanggup membantu turun ke lahan. Kebersamaan kesannya tidak sanggup dihindarkan lagi sebagai prinsip kehidupan bermasyarakat dari insan yang berkembang menggarap lahan. Ia membutuhkan kawan-kawan untuk membagi pengalaman, pengamatan dan penghayatan wacana aneka macam tanda-tanda alam kesannya membagi pula wacana kesimpulan semua itu. Kesimpulan bersama itu sanggup berubah menjadi sistem nilai hidup bermasyarakat atau sistem kepercayaan”

gotong-royong atau tolong menolong dalam bidang pertanian, Tashadi dkk (1982 : 52) mengemukakan,
“Dalam setiap kegiatan gotong-royong tolong menolong atau sambatan ini, setiap orang sanggup mengikutinya. Bahkan jikalau hal ini dianggap sebagai suatu kewajiban sosial bagi warga masyarakat itu semuanya akan terlibat. Akan tetapi dalam bidang mata pencaharian, khususnya di tempat pedesaan ialah bidang pertanian, maka kegiatan ini hanya melibatkan beberapa orang sebagai pesertanya, yang terperinci mereka yang terlibat itu ialah petani atau penduduk di desa yang mempunyai pekerjaan sebagai petani, naik ia petani yang mempunyai tanah pertanian maupun ia sebagai buruh tani. “
  1. Pengelolaan pertanaman padi memerlukan jumlah tenaga banyak dalam waktu tertentu yang singkat, sehingga anggota petani sendiri tak bisa menyelesaikannya,
  2. Setiap tani kita simpel mengusahakan flora padi sehingga dalam pembalasan jasa nampak sungguh keseimbangannya dan
  3. Perasaan senasib antara petani, mengakibatkan mereka tak ingin bahwa temannya hingga mengalami kesulitan dalam pengelolaan padi, suatu jenis flora pokok yang merupakan urat nadi kehidupan.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gotong_royong

Saturday, August 17, 2019

Valentine

Hari Valentine atau disebut juga Hari Kasih Sayang, pada tanggal 14 Februari ialah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-usulnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Kristen Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini mustahil diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum tamat Abad Pertengahan saat konsep-konsep macam ini diciptakan.

Hari raya ini kini terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido bersayap. Mulai era ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini menciptakan hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua sehabis Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua era ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula proteksi segala macam hadiah, biasanya oleh laki-laki kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memperlihatkan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah korelasi serius. Sebenarnya Valentine itu merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak mencicipi cinta.

Di Amerika Serikat hari raya ini kemudian diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang sanggup diucapkan oleh laki-laki kepada teman perempuan mereka, ataupun, teman laki-laki kepada teman prianya dan teman perempuan kepada teman wanitanya.


Hal-Hal yang biasa dilakukan dihari valentine

1. Berikan Kado Spesial
Kado Istimewa ialah kado yang sangat diidamkan oleh pasangan Anda. Kalau Anda belum tahu, mulai kini cari tahu barang apa yang sangat di inginkan pasangan Anda. Berikan hadian itu di hari valentine semoga menjadi surprise baginya.

2. Pergi berlibur dengan romantis
Liburan berdua dengan pasangan Anda menciptakan hari Anda semakin spesial. Banyak sekali lokasi wisata romantis yang sanggup Anda kunjungi. Jika Anda memiliki dana yang minim, Anda sanggup liburan ke mana saja yang penting berdua dengan kekasih Anda.

3.Kirim bunga
Mengirimkan bungan sebagai tanda cinta merupakan sesuatu yang romanti sekali. Bukti sayang Anda kepada pasangan Anda sanggup dicurahkan dengan setangkai bungan yang indah.

4. Masak bersama
belum pernah mencicipi memasak bersama dengan pasangan Anda? Sangat Istimewa sekali saat Anda sanggup memasak bersama dengan kekasih Anda sambil bercanda ria. Dilanjutkan dengan makan bersama akan menciptakan valentine Anda menjadi berkesan dan berbeda.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang

Perubahan Sosial

Perubahan sosial. Perubahan sosial yaitu proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, di mana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela akan dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem-sistem sosial usang kemudian mengikuti keadaan atau memakai pola-pola kehidupan, budaya dan sistem-sistem sosial yang baru. Hal-hal penting dalam perubahan sosial menyangkut aspek-aspek berikut, yaitu: perubahan referensi pikir masyarakat, perubahan sikap masyarakat, dan perubahan budaya materi.

Perubahan Sosial Menurut Para Ahli
  1. Menurut Kingsley Davis menyampaikan bahwa Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
  2. Menurut Mac Iver menyampaikan bahwa Perubahan sosial yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam korelasi sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) korelasi sosial.
  3. Menurut William F. Ogburn mengemukakan bahwa Perubahan sosial yaitu perubahan yang meliputi unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya efek besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
  4. Menurut Gillin dan Gillin mengatakan bahwa perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik lantaran perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun lantaran adanya difusi ataupun penemuan-penemuan gres (inovasi) dalam masyarakat.
  5. Menurut Selo Soemardjan mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk di dalamnya, nila-nilai, sikap dan referensi sikap diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada forum kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, perubahan-perubahan mana yang kemudian mempengaruhi segi struktur masyarakat lainnya.
  6. Menurut Soekanto (1990), penyebab perubahan sosial dalam suatu masyarakat dibedakan menjadi dua macam yaitu faktor dari dalam dan luar. Faktor penyebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri antara lain bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk, penemuan baru, kontradiksi dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi. Sedangkan faktor penyebab dari luar masyarakat yaitu lingkungan fisik sekitar, peperangan, efek kebudayaan masyarakat lain.
  7. Menurut Soerjono Soekanto problema atau duduk kasus sosial yaitu suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada sanggup menjadikan gangguan korelasi sosial menyerupai kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Problem atau duduk kasus sosial muncul akhir terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang sanggup menjadi sumber duduk kasus sosial yaitu menyerupai proses perubahan sosial. Adanya duduk kasus sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh forum yang mempunyai kewenangan khusus menyerupai tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
  8. Menurut Alvin Betrand: awal dari proses perubahan sosial yaitu komunikasi yaitu penyampaian ide, gagasan, nilai, kepercayaan, keyakinan dsb, dari satu pihak ke pihak lainnya sehingga dicapai kata kesepahaman.
  9. Menurut David Mc Clelland: dorongan untuk perubahan yaitu adanya hasrat meraih prestasi ( need for achievement) yang melanda masyarakat
Proses Perubahan Sosial
  1. Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap berurutan :
  2. Invensi, yaitu proses dimana ide-ide gres diciptakan dan dikembangkan;
  3. Difusi, yaitu proses dimana ide-ide gres itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial dan
  4. Konsekwensi, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akhir pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi kalau penggunaan atau penolakan wangsit gres itu mempunyai akibat. Karena itu perubahan sosial yaitu akhir komunikasi sosial.
Faktor Pendorong Perubahan
Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu:

1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.
Bertemunya budaya yang berbeda menimbulkan insan saling berinteraksi dan bisa menghimpun banyak sekali penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya orisinil maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini sanggup mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada.

2. Sistem pendidikan formal yang maju.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan menunjukkan kemampuan insan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak.

3. Sikap menghargai hasil karya orang dan impian untuk maju.
Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk menyebarkan diri.

4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar aturan atau merupakan tindak pidana, sanggup merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi sanggup diberikan supaya semakin tercipta hal-hal gres yang kreatif.

5. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.
Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin korelasi dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk sanggup menyebarkan kemampuan dirinya.

6. Penduduk yang heterogen.
Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan gampang terjadi kontradiksi yang sanggup menjadikan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan gres dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial.

7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
Rasa tidak puas bisa menjadi lantaran terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menjadikan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan banyak sekali gerakan revolusi untuk mengubahnya.

8. Orientasi ke masa depan
Kondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan dengan perubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan menciptakan masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan gres yang diubahsuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

9. Nilai bahwa insan harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.
Usaha merupakan keharusan bagi insan dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan memakai sumber daya yang terbatas. Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan.

Perspektif Perubahan Sosial
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial sanggup dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori sikap kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem sosial.
  1. Perspektif Penjelasan Tentang Perubahan Barrington Moore, teori kemunculan diktator dan demokrasi  Teori ini didasarkan pada pengamatan panjang wacana sejarah pada beberapa negara yang telah mengalami transformasi dari basis ekonomi agraria menuju basis ekonomi industri.
  2. Teori sikap kolektif Teori dilandasi pedoman Moore namun lebih menekankan pada proses perubahan daripada sumber perubahan sosial.
  3. Teori inkonsistensi status    Teori ini merupakan representasi dari teori psikologi sosial. Pada teori ini, individu dipandang sebagai suatu bentuk ketidakkonsistenan antara status individu dan grop dengan acara atau sikap yang didasarkan pada perubahan.
  4. Analisis organisasi sebagai subsistem sosial    Alasan kemunculan teori ini yaitu anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi dan organisasi tingkat lanjut yang kompleks dipandang sebagai hasil transformasi sosial yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain, organisasi meningkatkan kendala antara sistem sosial dan sistem interaksi.
  5. Modernisasi dan Globalisasi sanggup menunjukkan dampak terhadap Budaya Indonesia, suatu kemajuan akan menghasilkan dampak faktual dan negatif. Hal ini harus sanggup kalian sadari betul supaya sanggup meminimalkan dampak negatif yang merugikan serta memaksimalkan dampak faktual yang menguntungkan.

Kemiskinan

Kemiskinan, Pengertian yang ada dalam teori kemiskinan tidaklah selalu lengkap meliputi seluruh aspek. Definisi dibentuk tergantung dari latar belakang dan tujuan, juga tergantung dari sudut mana definisi tersebut ditinjaunya, untuk kepentingan apa definisi tersebut dibuat. Biasanya definisi-definisi tersebut akan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.

Pengertian kemiskinan dilihat dari beberapa Aspek :
1. Aspek standar kebutuhan hidup yang layak / kebutuhan pokok
Golongan ini menyampaikan bahwa kemiskinan itu yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok / dasar disebabkan karena adanya kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar hidup yang layak. Ini merupakan kemiskinan absolute / mutlak yakni tidak terpenuhinya standar kebutuhan pokok / dasar.

2. Aspek pendapatan / penghasilan income
Kemisikinan oleh golongan ini dilukiskan sebagai kurangnya pandapatan / penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.

3. Aspek kesempatan / opportunity
Kemiskinan yaitu karena ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan (meraih) basis kekuasaan sosial meliputi :
  1. Ketrampilan yang memadai.
  2. Informasi/ pengetahuan-pengetahuan yang mempunyai kegunaan bagi kemajuan hidup.
  3. Jaringan-jaringan sosial/ social network.
  4. Organisasi-organisasi sosial dan politik.
  5. Sumber-sumber modal yang diharapkan bagi peningkatan pengembangan kehidupan.
4. Dari segi keadaan / kondisi
Kemiskinan sebagai suatu kondisi/keadaan yang bisa dicirikan dengan :
  1. Kelaparan / kekurangan makan dan gizi.
  2. Pakaian dan perumahan yang tidak memadai.
  3. Tingkat pendidikan yang rendah.
  4. Sangat sedikitnya kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang pokok.
5. Dari segi penguasaan terhadap sumber-sumber
Menurut golongan ini kemiskinan merupakan keterlantaran yang disebabkan oleh penyebaran yang tidak merata dan sumber-sumber (malldistribution of resources), termasuk didalamnya pendapatan / income.

Pengertian Kemiskinan dilihat dari beberapa Para Ahli :
Menurut Drewnowski (Epi Supiadi:2003), mencoba memakai indikator-indiktor sosial untuk mengukur tingkat-tingkat kehidupan (the level of living index). Menurutnya terdapat tiga tingkatan kebutuhan untuk memilih tingkat kehidupan seseorang :
  1. Kehidupan fisik dasar (basic fisical needs), yang meliputi gizi/ nutrisi, perlindungan/ perumahan (shelter/ housing) dan kesehatan.
  2. Kebutuhan budaya dasar (basic cultural needs), yang meliputi pendidikan, penggunaan waktu luang dan rekreasi dan jaminan sosial (social security).
  3. High income, yang meliputi pendapatan yang surplus atau melebihi takarannya.
Menurut Oscar Lewis (1983), orang-orang miskin yaitu kelompok yang mempunyai budaya kemiskinan sendiri yang meliputi karakteristik psikologis sosial, dan ekonomi. Kaum liberal memandang bahwa insan sebagai makhluk yang baik tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Budaya kemiskinan hanyalah semacam realistic and situational adaptation pada linkungan yang penuh diskriminasi dan peluang yang sempit. Kaum radikal mengabaikan budaya kemiskinan, mereka menekankan peranan struktur ekonomi, politik dan sosial, dan memandang bahwa insan yaitu makhluk yang kooperatif, produktif dan kreatif.

Menurut Amartya Sen, Seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantive.

Menurut Soerjono Soekant, Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memlihara dirinya   sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak bisa memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

Definisi kemiskinan dilihat dari beberapa konsep ialah :
BAPPENAS Tidak bisa memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermatabat.

BPS Bilamana jumlah rupiah yang dikeluarkan atau dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kurang dari 2.100 kalori perkapita.

Bank Dunia Tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan 1,00 dolar AS perhari.

BKKBN keluarga miskin bila :
  1. Tidak sanggup melakukan ibadah berdasarkan keyakinannya.
  2. Tidak bisa makan dua kali sehari.
  3. Tidak mempunyai pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja atau sekolah dan berpergian.
  4. Tidak cuilan terluas dari rumahnya berlantai tanah.
  5. Mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan.
Kemiskinan memang yaitu pekerjaan besar bagi pemerintah kita, tapi pekerjaan itu tidak pernah di prioritaskan untuk mengurangi angka kemiskinan, mengembangkan cara telah di lakukan tapi malah tidak sanggup mengurus permasalahan ini.

Kemiskinan merupakan problem yang ditandai oleh banyak sekali hal antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini banyak sekali upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan,  Pemecahan problem kemiskinan memerlukan langkah-langkah dan kegiatan yang dirancang secara khusus dan terpadu oleh pemerintah dan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Faktor Penyebab Kemiskinan Ternyata kemiskinan itu tidak terjadi begitu saja melainkan mempunyai faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya kemiskinan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya kemiskinan sanggup dikategorikan dalam beberapa hal berikut ini :

Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang perlu digaris bawahi di sini yaitu bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang menghipnotis kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
  1. Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
  2. Politik ekonomi yang tidak sehat.
  3. Faktor-faktor luar negeri, diantaranya:
          – Rusaknya syarat-syarat perdagangan
          – Beban hutang
          – Kurangnya pertolongan luar negeri, dan Perang

Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Faktor ini sangat penting dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggung jawabkan dengan maksimal.

Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu kawasan yaitu sebagai akhir dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau honor masyarakat. Tentunya kemiskinan yaitu konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja mahir dan banyaknya pengangguran.

Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak eksklusif mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.

Indikator – indikator Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut. Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagi berikut :
  1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
  2. Tidak adanya jalan masuk terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air higienis dan transportasi).
  3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
  4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
  5. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia dan terbatasnya Sumber Daya Alam.
  6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
  7. Tidak adanya jalan masuk dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
  8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
  9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, perempuan korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).

Penanggulangan Kemiskinan
Untuk mengatasi problem kemiskinan, pemerintah mempunyai tugas yang besar. Namun nyatanya kegiatan yang dijalankan oleh pemerintah belum bisa menyentuh pokok yang mengakibatkan problem kemiskinan. Beberapa kegiatan pemerintah yang sudah dijalankan untuk mengatasi problem kemiskinan diantaranya yaitu kegiatan Bantuan Langsung Tunai serta pertolongan dibidang kesehatan yaitu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Namun kedua hal tersebut tidak mempunyai dampak signifikan terhadap pengurangan angka kemiskinan, bahkan beberapa pakar kebijakan Negara menganggap bahwa hal tersebut sudah seharusnya dilakukan pemerintah. Untuk itu pemerintah perlu menciptakan ketegasan dan kebijakan  dalam rangka menuntaskan problem kemiskinan ini. Diantaranya yaitu :
  1. Menciptakan lapangan kerja yang bisa menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, karena pengangguran yaitu salah satu sumber penyebab kemiskinan terbesar di Indonesia.
  2. Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok insan sehingga setiap masyarakat bisa menikmati makanan yang berkualitas, hal ini akan berdampak pada meningkatnya angka kesehatan masyarakat.
  3. Menghapuskan korupsi, karena korupsi yaitu salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga Negara sebagaimana mestinya.